#Telaah Kitab Asrār al-Nawm karya Syauki Ibrahim dan Pandangan Ulama
Tidur merupakan fenomena universal yang dialami setiap manusia, namun tidak semua orang merenungi hakikat di baliknya. Dalam kitab Asrār al-Nawm (Rahasia Tidur), Syekh Syauki Ibrahim menyingkap makna spiritual tidur sebagai safar ar-rūh—perjalanan ruh menuju alam ghaib—yang disebut oleh para ulama sebagai al-maut al-asghar (kematian kecil). Ia menegaskan bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan tanda keagungan Allah dalam menahan dan melepaskan ruh setiap malam.
Tidur sebagai Cerminan Kematian Kecil
Syauki Ibrahim membuka pembahasan dengan firman Allah dalam QS. Al-An‘ām: 60:
﴿ وَهُوَ الَّذِي يَتَوَفَّاكُم بِاللَّيْلِ وَيَعْلَمُ مَا جَرَحْتُم بِالنَّهَارِ ثُمَّ يَبْعَثُكُمْ فِيهِ لِيُقْضَىٰ أَجَلٌ مُّسَمًّى ۖ ثُمَّ إِلَيْهِ مَرْجِعُكُمْ ثُمَّ يُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ ﴾
“Dialah (Allah) yang mewafatkan kalian di malam hari dan mengetahui apa yang kalian kerjakan di siang hari, kemudian Dia membangunkan kalian pada siang hari untuk disempurnakan ajal yang telah ditentukan.”
Menurut Syauki Ibrahim, ayat ini menjadi dasar teologis bahwa tidur sejatinya adalah tajribatul maut—pengalaman kecil dari proses kematian. Ruh diangkat menuju dimensi lain, lalu dikembalikan oleh Allah pada jasad saat terjaga. Karena itu, tidur bukan sekadar istirahat, tetapi pengingat bahwa manusia setiap malam “mati sementara” dan kembali hidup atas izin-Nya.
Pandangan Para Mufassir
Imam al-Qurthubi dalam Tafsīr al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān menjelaskan bahwa kata “يتوفاكم بالليل” bermakna “mengambil ruh kalian dengan cara lembut sebagaimana saat kematian.” Perbedaan antara tidur dan mati hanya terletak pada kembalinya ruh ke jasad. Al-Alūsī dalam Rūḥ al-Ma‘ānī menegaskan, tidur menjadi dalīl wa ḥujjah bagi manusia untuk memahami kekuasaan Allah dalam mencabut dan mengembalikan nyawa kelak di hari kebangkitan.
Sedangkan Ibn Kathir memaknai ayat tersebut sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Ia “mematikan” manusia di malam hari agar terhenti dari dosa dan kesibukan duniawi, lalu menghidupkannya kembali di pagi hari untuk memulai amal baru. Maka, tidur adalah simbol rahmat sekaligus pelajaran tentang kefanaan.
Doa Tidur: Penyerahan Ruh kepada Allah
Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya doa sebelum tidur yang sarat makna tauhid dan kepasrahan:
بِاسْمِكَ رَبِّي وَضَعْتُ جَنْبِي، وَبِكَ أَرْفَعُهُ، فَإِنْ أَمْسَكْتَ نَفْسِي فَاغْفِرْ لَهَا، وَإِنْ أَرْسَلْتَهَا فَاحْفَظْهَا بِمَا تَحْفَظُ بِهِ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ
“Dengan menyebut nama-Mu, wahai Tuhanku, aku letakkan tubuhku, dan dengan nama-Mu aku bangunkan. Jika Engkau menahan ruhku, maka ampunilah ia. Dan jika Engkau melepaskannya kembali, maka jagalah sebagaimana Engkau menjaga hamba-hamba-Mu yang saleh.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)
Doa ini menggambarkan kesadaran eksistensial bahwa tidur adalah momentum menyerahkan ruh kepada Sang Pencipta, sebagaimana kematian yang sejati.
Tanggapan Ulama dan Dimensi Spiritualitas
Syekh Yusuf al-Qaradawi menilai pandangan seperti ini penting untuk membangun kesadaran ruhani di tengah masyarakat modern yang cenderung materialistik. Menurutnya, ketika seseorang memahami tidur sebagai bagian dari perjalanan ruh, ia akan lebih mudah merasakan kedekatan dengan Allah dan menjauhkan diri dari kelalaian.
Sementara Imam al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn membagi tidur menjadi dua: tidur jasmani yang menenangkan tubuh, dan tidur hati yang mematikan kesadaran spiritual. Ia menasihatkan agar seorang mukmin tidak membiarkan tidur menjadi kematian ganda—tubuh dan hati sekaligus. Karena itu, dzikir sebelum tidur menjadi “pengikat ruh” agar kembali dalam keadaan hidup bersama Allah, bukan mati dalam kelalaian.
Tidur sebagai Cermin Kehidupan dan Kematian
Kitab Asrār al-Nawm karya Syauki Ibrahim membuka cakrawala kesadaran bahwa tidur bukan sekadar kebutuhan biologis, melainkan madrasah ruhaniyah—sekolah spiritual yang mengajarkan manusia hakikat kefanaan dan kekuasaan Allah. Melalui tidur, manusia diingatkan setiap malam akan kematian, dan melalui bangunnya kembali, ia diseru untuk memperbarui niat dan amalnya di jalan Allah. (*)
Referensi:
1. Syauki Ibrahim, Asrār al-Nawm: Asfār ar-Rūh wa al-Wa‘y al-Insānī, Kairo: Dār al-Fikr, 2019.
2. Al-Qurthubi, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, juz 7, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah.
3. Ibn Kathir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, juz 3.
4. Al-Alūsī, Rūḥ al-Ma‘ānī fī Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, juz 8.
5. Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Bab Ādāb an-Nawm wa al-Yaqzah.
6. Al-Bukhari, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb ad-Da‘awāt, no. 6313.
7. Yusuf al-Qaradawi, Maqāṣid al-‘Ibādāt fī al-Islām, Kairo: Dār al-Syurūq, 2005
