Umat Islam diimbau untuk tidak terburu-buru menilai atau menghakimi musibah yang dialami orang lain sebagai bentuk hukuman atas dosa. Dalam pandangan Islam, musibah bagi orang beriman memiliki tiga fungsi mendasar: sebagai teguran, sarana penggugur dosa, hingga jalan meraih derajat kesyahidan.
Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Qaem Aulassyahied, saat mengisi kajian di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (18/10/2026).
Qaem menjelaskan bahwa keimanan seseorang tidak cukup hanya diikrarkan melalui lisan dan hati, tetapi butuh pembuktian melalui sikap saat menghadapi ujian hidup. Bahkan, semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, semakin berat pula ujian yang diterimanya. Para nabi dan orang-orang saleh menjadi kelompok yang menerima ujian paling berat.
“Allah tidak hanya mengukur keimanan seseorang dari ikrar lisan dan hati, tetapi butuh pembuktian amal terbaik di hadapan-Nya,” tegas Qaem.
Dalam pemaparannya, Qaem menguraikan tiga hikmah mendasar dari musibah bagi orang beriman:
1.Teguran Atas Kesalahan Manusia
Musibah dapat terjadi sebagai akibat langsung dari perbuatan manusia. Merujuk Surah Ar-Rum ayat 41, kerusakan di darat dan laut merupakan buah dari ketidakbijaksanaan manusia, seperti pembalakan liar atau eksploitasi alam yang memicu banjir, longsor, dan perubahan iklim.
2. Sarana Penghapus Dosa
Bagi orang beriman yang tidak terlibat langsung dalam penyebab bencana—seperti warga yang terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan—musibah menjadi pelebur dosa. Mengutip hadis riwayat Al-Bukhari, Qaem menyebutkan bahwa setiap rasa lelah, kesedihan, penyakit, hingga duri yang menusuk seorang Muslim dapat menjadi sebab Allah menghapuskan kesalahannya.
3. Jalan Meraih Kemuliaan (Syahid)
Jika musibah mengakibatkan kematian pada situasi tertentu, hal itu dapat menjadi jalan mencapai derajat syahid. Sesuai hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim, korban yang meninggal akibat wabah, tenggelam, atau tertimpa reruntuhan tergolong dalam kelompok yang memperoleh kedudukan mulia ini.
Atas dasar itulah, Qaem mengingatkan agar masyarakat tidak menyimpulkan suatu bencana secara gegabah. Ia mencontohkan peristiwa Tsunami Aceh yang sempat dikaitkan oleh sebagian pihak dengan kemaksiatan warga lokal—sebuah penilaian yang menurutnya tidak bijak dan melenceng dari tuntunan Islam.
“Bagaimana mungkin kita menyimpulkan orang beriman yang terkena musibah sedang diazab Allah? Dalam Al-Qur’an dan Sunnah, musibah bagi umat Nabi Muhammad bisa berupa teguran kasih sayang, penggugur dosa, bahkan jalan menuju surga,” ungkapnya.
Ia mengajak umat Islam untuk memperbaiki cara pandang terhadap bencana dengan selalu mempertimbangkan konteks dan penyebabnya, alih-alih menghakimi para korban. (*/tim)
