Tiga Perkara Jangan Pernah Ditinggalkan

Tiga Perkara Jangan Pernah Ditinggalkan
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Bila kamu sedang lelah untuk berbuat baik, ingatlah kebaikanmu akan abadi dan rasa lelahmu akan segera hilang. Ada tiga perkara yang sangat dianjurkan untuk tidak ditinggalkan dalam situasi apapun. Orang baik adalah yang berusaha baik kapanpun, dimanapun, dan kepada siapapun.

1. SEDEKAH WAKTU SEMPIT
Sedekah di saat sempit bukan sekadar amal, tapi sebuah pernyataan iman yang luar biasa kuat. Dalam Islam, justru sedekah yang dilakukan saat kita kekurangan memiliki keutamaan yang lebih tinggi dibanding saat lapang. Rasulullah ﷺ bersabda:

Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dilakukan oleh orang yang serba kekurangan.
(HR. An-Nasai No. 2526)

Mengapa Sedekah di Waktu Sempit Sangat Mulia?

* Bukti Keikhlasan dan Tawakal
Memberi saat kita sendiri sedang membutuhkan menunjukkan bahwa hati kita bergantung pada Allah, bukan pada harta.

• Penolak Bala dan Kesulitan
Rasulullah ﷺ bersabda:
Bersegeralah dalam bersedekah karena bala bencana tak pernah dapat mendahului sedekah.”
(HR. Baihaqi dan Thabrani)

* Pemantik Rezeki dan Kelapangan
Allah berfirman:
لِيُنْفِقْ ذُوْ سَعَةٍ مِّنْ سَعَتِهٖۗ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهٗ فَلْيُنْفِقْ مِمَّآ اٰتٰىهُ اللّٰهُ ۗ لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا مَآ اٰتٰىهَاۗ سَيَجْعَلُ اللّٰهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُّسْرًا ࣖ
Artinya: Hendaklah orang yang lapang (rezekinya) memberi nafkah menurut kemampuannya, dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari apa (harta) yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah tidak membebani kepada seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang dianugerahkan Allah kepadanya. Allah kelak akan menganugerahkan kelapangan setelah kesempitan. (QS. At-Thalaq: 7)

* Menumbuhkan Empati dan Kebahagiaan
Orang yang bersedekah di kala sulit sering merasakan beban hidupnya menjadi lebih ringan dan hatinya lebih lapang.

2. SENYUM WALAU SEDIH
Senyum walau sedih adalah bentuk keindahan jiwa yang memilih harapan di tengah luka. Ia bukan sekadar ekspresi, tapi doa diam yang berkata: “Aku masih percaya pada kebaikan Allah.”

Senyum Walau Sedih: Simbol Keteguhan dan Keikhlasan
Berikut beberapa makna spiritual dan psikologis yang terkandung di dalamnya:

1. Tanda Kekuatan Batin
“Tersenyum tidak selalu berarti Anda bahagia. Terkadang itu hanya berarti Anda kuat.”
Senyum saat sedih menunjukkan bahwa seseorang mampu menahan badai tanpa kehilangan arah. Ia memilih untuk tetap berdiri, meski hatinya goyah.

2. Sedekah Jiwa yang Terluka
Dalam Islam, senyum adalah sedekah. Maka senyum saat sedih adalah sedekah dari jiwa yang sedang diuji, namun tetap ingin memberi.

“Jangan hanya tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakitmu, tetapi tersenyumlah untuk menyembuhkan rasa sakitmu.”

3. Bahasa Harapan yang Diam
Senyum di tengah kesedihan adalah cara jiwa berkata: “Aku masih percaya bahwa esok bisa lebih baik.”
“Ketika hidup memberimu seratus alasan untuk menangis, tunjukkan pada hidup bahwa kamu punya seribu alasan untuk tersenyum.”

4. Bentuk Sabr Jamil
Dalam spiritualitas Islam, sabr jamil adalah kesabaran yang tidak mengeluh, tidak menyalahkan, dan tetap indah. Senyum saat sedih adalah manifestasi dari sabar yang elegan.

Bayangkan seorang anak kecil yang kehilangan mainannya, tapi tetap tersenyum kepada temannya yang sedang menangis. Ia memilih untuk menjadi cahaya, meski sedang kehilangan.

3. BERSANGKA BAIK PADA ALLAH WALAU DALAM KESULITAN
Bersangka baik kepada Allah saat dalam kesulitan adalah puncak dari keimanan dan kedalaman jiwa. Ia bukan sekadar optimisme, tapi bentuk husnuzhan billah—prasangka yang lahir dari pengenalan terhadap sifat-sifat Allah yang Maha Pengasih, Maha Bijaksana, dan Maha Mengetahui.

Allah Sesuai Prasangka Hamba-Nya
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik, maka baginya kebaikan. Jika ia berprasangka buruk, maka baginya keburukan.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Artinya: Cara kita memandang Allah akan membentuk cara Allah memperlakukan kita. Maka, dalam kesulitan, tetaplah yakin bahwa ada hikmah, ada rahmat, dan ada jalan keluar.

Kesulitan bukan hukuman, melainkan panggilan untuk mendekat. Seperti burung yang keluar pagi dalam keadaan lapar dan pulang kenyang, Allah memberi rezeki kepada yang bertawakal.
Allah berfirman dalam QS. Az-Zumar: 53
۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Artinya: Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Prasangka Baik Melahirkan Ketenangan
Saat kita yakin bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik, hati menjadi lapang. Doa lebih khusyuk, usaha lebih ikhlas, dan sabar menjadi indah.

“Jika kamu tidak melihat jalan keluar, bukan berarti Allah tidak bekerja. Kadang, Dia sedang menyiapkan jalan yang belum kamu lihat.”

Bayangkan seorang musafir tersesat di padang pasir, kehausan, dan kehilangan arah. Tapi ia tetap melangkah, karena yakin Allah tidak akan membiarkannya binasa. Di kejauhan, tampak oase yang tak terlihat sebelumnya. Itulah makna husnuzhan: melangkah walau belum melihat.

Tinggalkan Balasan

Search