Tiga Pilar Peradaban Islam Ditegaskan, dari Keluarga hingga Ekonomi Jemaah

Tiga Pilar Peradaban Islam Ditegaskan, dari Keluarga hingga Ekonomi Jemaah
www.majelistabligh.id -

Khutbah Idulfitri 1 Syawal 1447 H yang bertepatan dengan 20 Maret 2026 di Stadion Brawijaya, Kota Kediri, menegaskan pentingnya memperkokoh pilar peradaban Islam. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kediri ini menghadirkan Dr. Waluyo, Lc., M.A., sebagai khatib.

Dalam khutbahnya, anggota Divisi Fatwa Metodologi Majelis Ulama Indonesia Pusat dan Wakil Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu, mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum transformasi menuju peradaban unggul.

Ia menyampaikan, Ramadan merupakan “madrasah” yang membentuk manusia bertakwa. “Semoga Ramadan melahirkan manusia yang taubatnya mengetuk pintu langit, munajatnya menjadi perantara turunnya rahmat, serta puasanya membebaskan dari api neraka,” ujarnya di hadapan jemaah.

Tiga Pilar Peradaban Islam Ditegaskan, dari Keluarga hingga Ekonomi Jemaah

Mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, ia menegaskan keutamaan orang yang berpuasa. “Sesungguhnya di surga ada pintu bernama Ar-Rayyan yang hanya dimasuki oleh orang-orang yang berpuasa,” tuturnya.

Umat Terbaik dan Tantangan Zaman

Dalam khutbahnya, Dr. Waluyo menegaskan, umat Islam pasca Ramadan, idealnya menjadi khairu ummah atau umat terbaik. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 110 tentang kewajiban amar makruf nahi mungkar.

Ia juga menggambarkan dua fenomena besar yang tengah terjadi. Pertama, kondisi sebagian umat Islam yang masih dililit kemiskinan, kebodohan, dan konflik. Kedua, peradaban besar dunia yang tampak kuat, namun mulai mengalami kerapuhan.

“Kita seperti menyaksikan dua tangisan yang kontras, tangis kelahiran dan tangis kematian,” katanya.

Menurutnya, pertemuan dua fenomena tersebut merupakan bagian dari sunnatullah dalam pergiliran sejarah, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 140.

Janji Kemenangan dan Syaratnya

Dr. Waluyo menegaskan bahwa Allah telah menjanjikan kemenangan bagi orang beriman, sebagaimana termaktub dalam Surah An-Nur ayat 55. Namun, ia mengingatkan bahwa janji tersebut tidak datang tanpa usaha.

“Janji Allah membutuhkan kerja keras, membutuhkan pahlawan yang memiliki visi langit dan mimpi surga,” tegasnya.

Ia juga mengutip pesan ulama salaf, “Semoga Allah merahmati seseorang yang memahami zamannya, maka akan lurus jalannya.”

Tiga Pilar Peradaban Islam

Dalam khutbahnya, Dr. Waluyo memaparkan tiga pilar utama untuk membangun peradaban Islam yang kokoh.

1. Keluarga Sakinah

Keluarga disebut sebagai fondasi utama peradaban. Ia menekankan pentingnya menjaga keluarga dari api neraka sebagaimana perintah dalam Surah At-Tahrim ayat 6.

Menurutnya, keluarga memiliki peran besar dalam kehidupan dunia hingga akhirat. “Kualitas keluarga akan menentukan kualitas peradaban,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa institusi keluarga menjadi target utama gangguan setan. Karena itu, keharmonisan rumah tangga harus dijaga dengan nilai-nilai iman dan akhlak.

2. Masjid sebagai Pusat Peradaban

Masjid, kata dia, tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan umat.

“Sejak zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat spiritualitas, ilmu, sosial, hingga ekonomi,” jelasnya.

Ia merinci fungsi masjid sebagai pusat pembinaan akhlak, pendidikan, musyawarah, hingga pemberdayaan ekonomi umat.

3. Ekosistem Ekonomi Jemaah

Pilar ketiga adalah penguatan ekonomi berbasis jemaah. Menurutnya, ekonomi kolektif menjadi strategi efektif menghadapi dominasi sistem kapitalistik.

Ia mendorong pembentukan ekosistem ekonomi Islam, penguatan lembaga keuangan syariah, serta pengembangan gerakan ekonomi berbasis jemaah seperti pertanian, peternakan, dan wakaf produktif.

“Ekonomi jemaah harus dimasifkan agar umat memiliki kemandirian,” ujarnya.

Ajakan Bangkit Membangun Peradaban

Menutup khutbahnya, Dr. Waluyo mengajak umat Islam untuk bangkit dan mengambil peran dalam sejarah peradaban.

Ia menegaskan bahwa kebangkitan Islam tidak hanya bergantung pada doa, tetapi juga kerja nyata yang terarah dan berkelanjutan.

“Peradaban besar hanya akan lahir dari umat yang memiliki visi, kerja keras, dan persatuan,” pungkasnya. (Afifun Nidlom)

 

Tinggalkan Balasan

Search