Tiga Waktu yang Tepat Memberi Nasihat pada Anak

www.majelistabligh.id -

KH. Dr. Sholihin Fanani, dalam rapat Majelis Tabligh di rumah Ketua Majelis Tabligh PWM Jatim KH Abdul Basith, Lc, M.Pd.I di Desa Dukun, Gresik, Selasa (13/5/2025), menyampaikan tausiyah menarik tentang waktu yang tepat dalam memberi nasihat kepada anak.

Hal ini didasari oleh makin maraknya kenakalan anak yang telah mencapai tahap memprihatinkan dan mengkhawatirkan bagi orang tua dan masyarakat.

Padahal pendidikan sudah dijalankan dan berbagai nasihat pun telah diberikan. Bahkan, banyak anak yang dibesarkan di lembaga-lembaga keagamaan.

“Agar nasihat benar-benar membekas di hati dan pikiran anak, diperlukan momentum yang tepat untuk menyampaikannya,” ujar Kiai Sholihin Fanan yang juga wakil ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim ini.

Setidaknya ada tiga waktu yang bisa membantu agar nasihat lebih mudah melekat dalam memori anak:

1. Saat makan bersama

Momentum makan bersama adalah saat yang tepat untuk menyampaikan pesan. Pada saat itu, hati anak biasanya sedang gembira, dan dalam kondisi seperti itu, nasihat lebih mudah diterima.

Hal ini berbeda dengan saat anak sedang lapar atau sedih, di mana nasihat, sebaik apa pun, cenderung hanya “masuk telinga kanan, keluar telinga kiri”.

2. Saat rekreasi keluarga

Saat rekreasi, anak berada dalam keadaan rileks dan bahagia. Pada kondisi seperti ini, nasihat akan lebih mudah diterima karena hati anak sedang berbunga-bunga.

Selain itu, anak biasanya lebih terbuka mengungkapkan keinginannya, sehingga komunikasi antara orang tua dan anak menjadi lebih efektif.

3. Menjelang tidur

Saat menjelang tidur, anak berada dalam kondisi lelah dan ingin segera beristirahat. Pada saat seperti ini, anak berada dalam posisi pasrah dan tenang, sehingga pesan dan nasihat mudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya.

Dahulu, orang tua sering membacakan dongeng kepada anak-anak menjelang tidur. Cerita seperti Kancil Mencuri Timun atau Kancil Menipu Buaya menjadi kisah legendaris yang membekas dalam ingatan generasi masa lalu.

“Kini, banyak orang tua yang tidak lagi memiliki waktu untuk bercerita, sehingga kedekatan batin antara orang tua dan anak menjadi berjarak. Ketika jarak itu hadir, nasihat pun menjadi sulit diterima,” terang dosesn Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) ini.

Saat ini, imbuh Kiai Sholihin, banyak orang tua yang memberi nasihat atau bahkan memarahi anak tanpa mempertimbangkan waktu yang tepat, sehingga nasihat itu tidak didengar.

“Nasihat orang tua terasa sia-sia, yang pada akhirnya membuat mereka putus asa karena nasihatnya tidak membekas. Demikian pula anak, bisa merasa jengkel ketika menerima nasihat yang tidak nyambung dengan suasana hatinya. Tiga momentum ini bisa menjadi tips penting bagi orang tua untuk menasihati anak secara efektif,” pungkas dia. (slamet muliono)

 

Tinggalkan Balasan

Search