Tipu Daya Iblis di Era Digital: Membongkar Talbīs Iblīs dari Ibn al-Jauzi hingga Tantangan Abad 21

Tipu Daya Iblis di Era Digital: Membongkar Talbīs Iblīs dari Ibn al-Jauzi hingga Tantangan Abad 21
*) Oleh : Moh. Mas’al,S.HI, M.Ag
Kepala Sekolah SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Sejak awal penciptaan manusia, Iblis telah bertekad untuk menyesatkan keturunan Adam. Tekad ini diabadikan dalam firman Allah:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Iblis berkata: Karena Engkau telah menyesatkan aku, pasti aku akan menghadang mereka di jalan-Mu yang lurus.” (QS. al-A‘rāf [7]: 16)

Ibn al-Jauzi (w. 597 H) menjelaskan dalam karyanya Talbīs Iblīs bahwa talbīs (تَلْبِيْس) berarti mengkaburkan yang benar dengan salah sehingga yang benar tampak salah dan yang salah tampak benar¹. Pendekatan ini terjadi tidak hanya di dunia fisik, tetapi juga dalam aspek pikiran, emosi, dan keyakinan.

Strategi Iblis Menurut Ibn al-Jauzi

Dalam Talbīs Iblīs, Ibn al-Jauzi membagi tipu daya setan menjadi dua jalur utama:

  1. Waswas (وَسْوَسَة) – bisikan halus yang menanamkan keraguan dan kelalaian.
  2. Tazyīn (تَزْيِين) – menghias keburukan agar terlihat indah dan menarik.

Beliau berkata:

وَمِنْ تَلْبِيسِهِ أَنَّهُ يُزَيِّنُ الْقَبِيحَ حَتَّى يُرَى حَسَنًا

“Di antara tipu dayanya adalah ia menghias sesuatu yang buruk hingga tampak baik.” ²

Di era digital, tazyīn ini bisa berupa normalisasi maksiat melalui media sosial, film, dan konten hiburan yang dikemas menarik, sehingga dosa tidak lagi dianggap dosa.

Pandangan Dr. ‘Umar Sulaimān al-Asyqar

Dalam ‘Ālam al-Jinn wa al-Shayāīn, Dr. ‘Umar menegaskan bahwa program setan bersifat kontinu, adaptif, dan sistematis:

  • Tahapan jebakan (marāhil al-ighwā’ – مراحل الإغواء): mulai dari melalaikan dzikir, menggoda untuk dosa kecil, hingga menyeret pada kekufuran.
  • Manusia kerap diperdaya oleh: hawa nafsu, gila dunia, dan dahaga informasi.

Beliau menulis:

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَسْتَغِلُّ ضَعْفَ الإِنسَانِ لِيَجْعَلَهُ أَسِيرًا لِلشَّهَوَاتِ

“Sesungguhnya setan memanfaatkan kelemahan manusia untuk menjadikannya tawanan syahwat.” ³

Konteks Kontemporer: Era Digital

Kontek terkini zaman digital, talbīs iblīs menemukan medium baru:

  1. Distraksi permanen – notifikasi tanpa henti menjauhkan dari tadabbur dan ibadah.
  2. Stagnanisasi dosa – konten visual yang menjadi tidak jelas batas halal-haram.
  3. Manipulasi opini – hoaks dan fitnah yang viral dalam hitungan detik.

Fenomena ini sejalan dengan peringatan Ibn al-Qayyim:

القَلْبُ إِذَا أُشْغِلَ بِالبَاطِلِ تَرَكَهُ الحَقُّ

“Hati yang sibuk dengan kebatilan akan ditinggalkan oleh kebenaran.” ⁴

Refleksi dan Jalan Selamat

Para ulama menegaskan beberapa pelindung dari program setan:

  1. Dzikir dan tilawah – sebagai pengusir waswas (QS. an-Nās [114]: 4-6).
  2. Ilmu – membedakan haq dan batil (الْعِلْمُ شِفَاءٌ مِنَ الشُّبُهَاتِ).
  3. Sahabat saleh – menjaga lingkungan dari pengaruh buruk.
  4. Muraqabah – kesadaran terus-menerus bahwa Allah mengawasi.

Talbīs Iblīs adalah program sepanjang zaman, namun medium dan bentuknya berubah. Ibn al-Jauzi memberi peta strategi klasik, Dr. ‘Umar Sulaimān al-Asyqar menegaskan strateginya, dan kita di era digital harus selalu mencari versi upgrade dari tipu daya ini. Hanya dengan iman, ilmu, dan dzikir, kita dapat menembus tirai ilusi yang dipasang oleh musuh abadi ini. (*)

Catatan Kaki:
Ibn al-Jauzi. Talbīs Iblīs. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998, h. 19.
Ibid., h. 25.
Al-Asyqar, ‘Umar Sulaimān. ‘Ālam al-Jinn wa al-Shayāṭīn. Kuwait: Maktabah al-Falāḥ, 1993, h. 87.
Ibn al-Qayyim. al-Fawā’id. Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2002, h. 128.

 

Tinggalkan Balasan

Search