”Aqidah is the most valuable treasure. Don’t exchange it for tolerance that violates the limits of the Shari’a”
“(Akidah adalah harta paling berharga. Jangan ditukar dengan toleransi yang melanggar batas syariat)”
Akhir tahun, perayaan Natal datang membawa kemeriahan ibadah umat Kristiani. Sayangnya, banyak Muslim ikut larut, bahkan latah mengucapkan ‘Selamat Natal’. Tindakan ini, yang sering berkedok toleransi kebablasan, secara langsung berpotensi mengancam akidah dan keimanan.
Partisipasi atau penyerupaan ritual (tasyabbuh) ini bisa menjerumuskan pada kerugian akidah, sebuah fenomena tahunan yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Allah SWT menegaskan pemisahan ibadah, sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِىَ دِينِ
Artinya:
“Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku“(Qs. Al-Kafirun: 6).
Ayat ini adalah deklarasi tegas bahwa tidak ada kompromi dalam masalah akidah dan peribadatan.
Dalam hadis, Dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah SAW bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Artinya:
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud No. 3401)
Hadis di atas adalah peringatan keras dalam Islam agar umatnya tidak meniru kebiasaan, cara berpakaian, atau perilaku yang menjadi ciri khas kaum lain, terutama non-Muslim atau pelaku maksiat, karena hal itu bisa mengikis identitas Muslim dan mengkhawatirkan nasibnya bersama kaum yang ditiru di akhirat. Meskipun sebagian ulama membedakan antara tasyabbuh yang diharamkan (syiar agama) dan yang dibolehkan (kebiasaan umum).
Oleh sebab itu umat Islam wajib waspada, perkuat iman, dan tokoh agama harus memberi teladan untuk tidak terperangkap dalam tradisi non-Muslim, demi menjaga keselamatan dunia dan akhirat.
Semoga bermanfaat.
