”A traitor may win treasure, but he loses his soul and honor forever.”
”(Seorang pengkhianat mungkin memenangkan harta, namun ia kehilangan jiwa dan kehormatannya selamanya.)”
Sejarah mencatat luka mendalam lewat sosok centeng, kaki tangan penjajah yang rela menindas saudara seiman demi remah kekuasaan. Menggunakan politik devide et impera, mereka bertindak lebih bengis dari tuan aslinya. Meski banyak yang tewas atau melarikan diri saat kemerdekaan 1945, benih pengkhianatan itu belum punah.
Hari ini, sosok centeng bermutasi menjadi koruptor yang merusak bangsa dari dalam. Mereka menggadaikan kedaulatan demi ambisi pribadi. Sungguh, kehancuran sebuah negeri sering kali bukan karena serangan luar, melainkan karena kebobrokan moral para “bedebah” di dalamnya. Allah SWT berfirman,
ٱلَّذِينَ يَتَّخِذُونَ ٱلْكَٰفِرِينَ أَوْلِيَآءَ مِن دُونِ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِندَهُمُ ٱلْعِزَّةَ فَإِنَّ ٱلْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
Artinya:
“(yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.“(Qs.An-Nisa:139)
Ayat ini menyindir mereka yang menjadi “penjilat” pihak luar (penjajah/perusak) hanya untuk mencari martabat atau perlindungan, padahal kemuliaan sejati hanya datang dari ketaatan kepada Allah dan kesetiaan pada kebenaran.
Dalam hadis, Dari Abu Hurairah ra berkata, Rasulullah saw bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ. (رواه ابن ماجة)
Artinya:
“Akan datang tahun-tahun penuh dengan kedustaan yang menimpa manusia, pendusta dipercaya, orang yang jujur didustakan, amanat diberikan kepada pengkhianat, orang yang jujur dikhianati, dan Ruwaibidhah turut bicara.” Lalu beliau ditanya, “Apakah al-ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab,“Orang-orang bodoh yang mengurusi urusan perkara umum” (HR Ibnu Majah No. 4026)
Hadis ini adalah prediksi kenabian mengenai rusaknya tatanan sosial dan moral, di mana kebohongan menjadi norma, amanah disalahgunakan, dan orang yang tidak kompeten (Ruwaibidhah) mengambil peran penting, yang berujung pada kesesatan dan kerusakan.
Oleh karena itu, menjadi “centeng” di era modern baik melalui korupsi maupun adu domba adalah bentuk pengkhianatan terhadap perjuangan pahlawan. Kesetiaan pada bangsa adalah bagian dari iman, dan kehancuran struktural selalu dimulai dari pengikisan integritas di dalam diri anak bangsa sendiri.
Semoga bermanfaat.
