Transformasi Praktik Ihsan dalam Salat melalui Pendekatan Metakognitif

Transformasi Praktik Ihsan dalam Salat melalui Pendekatan Metakognitif
*) Oleh : Sulton Dedi Wijaya, M.Pd.
www.majelistabligh.id -

Nilai ibadah bukan hanya diukur dari frekwensi ritual dan simboliknya saja, tetapi harus melibatkan kesadaran inderawi, intelektual dan spiritual yang mendalam. Harus ada transformasi atau perubahan dalam bentuk dan sifatnya, baik yang lahir (tampak) seperti bacaan doa yang bisa didengar dan gerakan yang bisa dilihat dan dhohir (tidak tampak) seperti kesadaran dan pemahaman dari dzikir (doa) yang diucapkan dan kekhusyu’an (fokus) akan tujuan dari gerakan atau amaliyah (ibadah) yang dilakukan.

Dalam teori pembelajaran, terdapat pendekatan yang dikenal sebagai metakognisi (Brown, 1987; Veenman, 2012), yaitu kemampuan seseorang untuk berpikir tentang pikirannya sendiri. Ini mencakup kesadaran dan kontrol terhadap proses berpikir, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas input dan output dalam hasil pembelajaran.

Dalam praktik ibadah, pendekatan metakognitif ini mengandung makna bahwa kesadaran intelektual (kritis) terhadap seluruh komponen fitrah manusia—mulai dari panca indera, kalbu, akal, fikiran, hingga nafsu—harus menjadi integrasi holistik dalam setiap proses ibadah. Aktivasi harmonis dari setiap komponen tersebut akan menghasilkan ibadah yang lebih bermakna, mendalam, dan berdampak positif pada kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual seorang hamba.

Salat, sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah, adalah tiang agama yang mendasar dan diwajibkan bagi setiap Muslim. Ia bukan sekadar sarana dzikir untuk mengingat Sang Pencipta, apalagi hanya rangkaian gerakan tubuh yang dilakukan secara mekanis. Shalat adalah momen perjumpaan raga dan jiwa dengan Sang Pencipta, di mana hamba bercengkerama mesra dengan Rabb-nya melalui setiap bacaan dan gerakan.

Namun, apakah kita benar-benar hadir sepenuhnya dalam setiap detik salat kita? Apakah kita mampu menghadirkan kesadaran mendalam dalam setiap aspek ibadah, mulai dari tujuan hingga kualitasnya? Hanya dengan kesadaran penuh, shalat kita dapat menjadi energi positif, bukan hanya sebagai bentuk ubudiyah dan kepasrahan kepada Pencipta, tetapi juga sebagai jalan menuju ketentraman jasmani dan ruhani, serta pembersihan jiwa dan raga.

Dengan pendekatan metakognitif, maka 7 kesadaran berikut harus dihadirkan dalam praktik ibadah seperti shalat, agar shalat menjadi lebih bermakna dan berdampak.

Pertama, Kesadaran Tujuan Salat

Tujuan utama shalat adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Mendekat dengan selalu mengingatNya secara sadar dalam nada dan irama setiap bacaan.  Dalam surat Thaha Ayat  ke 14, Allah telah mengingatkan kita akan tujuan shalat.

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Surat Ar Ra’d ayat ke 28 juga senada dengan surat diatas.

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram”

Kesadaran terhadap tujuan ini menciptakan dimensi spiritual yang mendalam dalam setiap gerakan dan bacaan salat. Dengan memahami tujuan shalat sebagai sarana komunikasi dengan Tuhan, setiap langkah dan gerakan menjadi penuh makna, bukan sekadar rutinitas fisik semata. Kesadaran ini akan menuntun individu untuk selalu mengingat tujuan spiritual dalam menjalankan ibadah shalat, meningkatkan kualitas khusyuk, dan membawa kedamaian dalam jiwa.

 

Tinggalkan Balasan

Search