Transformasi Praktik Ihsan dalam Salat melalui Pendekatan Metakognitif

Transformasi Praktik Ihsan dalam Salat melalui Pendekatan Metakognitif
*) Oleh : Sulton Dedi Wijaya, M.Pd.
www.majelistabligh.id -

Kedua, Kesadaran terhadap Setiap Gerakan Salat

Setiap gerakan dalam shalat, mulai dari takbir hingga salam, mengandung makna dan tujuan tertentu.

Rukuk adalah sikap rendah hati dan penyerahan diri kepada Allah. Dalam posisi ini, kita menundukkan tubuh dan kepala sebagai simbol kerendahan hati, mengakui kebesaran dan kekuasaan Allah.

I’tidal adalah saat kita kembali tegak setelah rukuk, mengingatkan kita untuk selalu mengingat Allah dalam segala kondisi. Posisi ini menunjukkan kesadaran penuh bahwa setelah menundukkan diri, kita kembali berdiri dengan penuh syukur dan tawakkal kepada Allah.

Sujud adalah bentuk penghormatan dan kedekatan diri kepada Allah yang paling tinggi dalam ibadah. Termasuk momen untuk memperbanyak doa, sebagaimana hadits Nabi sebagai berikut.

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Sedekat-dekatnya seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika dia sedang sujud, maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)

Dalam sujud, kita menempelkan dahi, dua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki sejajar dengan bumi, yang menggambarkan ketundukan total kepada Allah. Ini adalah simbol pengorbanan diri dan penyerahan sepenuhnya.

Duduk di antara dua sujud adalah saat kita mengambil waktu untuk merenung, menyadari dosa-dosa yang telah dilakukan, dan memohon ampun kepada Allah. Ini adalah kesempatan untuk berpikir tentang perbuatan kita dan berusaha memperbaiki diri. Duduk ini juga simbol dari sebuah harapan, karena setelah sujud, kita berdoa lagi untuk mendapatkan rahmat Allah.

Tahiyat dalam shalat memiliki beberapa dimensi penting. Pertama, sebagai bentuk penghormatan kepada Allah, Nabi Muhammad SAW, dan para hamba-Nya yang saleh. Kedua, tahiyat mencakup doa untuk diri sendiri dan umat Islam, memohon keselamatan dan keberkahan bagi Nabi Muhammad SAW serta seluruh umat Islam yang saleh. Ketiga, tahiyat merupakan pernyataan kesaksian, menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad SAW adalah utusan-Nya, yang mencerminkan keimanan dan penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.

Salam memiliki beberapa makna. Pertama, sebagai penutup ibadah shalat, yang menandakan akhir dari rangkaian ibadah dan kembalinya seorang Muslim ke dunia luar setelah berkomunikasi dengan Allah. Kedua, salam adalah doa dan harapan keselamatan serta rahmat Allah untuk diri sendiri dan orang lain. Ketiga, salam juga merupakan perpisahan dengan momen khusyuk dalam shalat, dengan harapan doa dan keselamatan tetap mengalir, serta simbol kesadaran untuk kembali berinteraksi dengan orang lain, membawa kedamaian dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari.Dengan menyadari arti setiap gerakan, seseorang akan melaksanakan shalat dengan lebih penuh perhatian, meningkatkan kualitas ibadah, dan menjauhkan diri dari sifat tergesa-gesa yang bisa mengurangi kesungguhan dalam beribadah.

Ketiga, Kesadaran terhadap Bacaan Salat

Dengan pendekatan metakognitif, seseorang bisa bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah saya benar-benar memahami apa yang saya ucapkan dalam shalat?”

Bacaan dalam shalat, seperti Takbiratul Ihram misalnya, ia menandakan awal dari komunikasi langsung antara hamba dan Allah. Dengan mengucapkan “Allahu Akbar”, seorang Muslim menegaskan bahwa Allah adalah yang terbesar, lebih besar dari segala sesuatu di dunia ini, termasuk segala urusan duniawi yang bisa mengalihkan perhatian.

Allah sendiri dalam hadits Qudsi sudah berfirman: “Allah Ta’ala berfirman: Aku membagi salat (maksudnya: Al Fatihah) menjadi dua bagian, yaitu antara diri-Ku dan hamba-Ku dua bagian dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.

Jika hamba mengucapkan “alhamdulillahi robbil ‘alamin.” – Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah memuji-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan “ar rahmanir rahiim” –  Allah Ta’ala berfirman: Hamba-Ku telah menyanjung-Ku. Ketika hamba tersebut mengucapkan “maaliki yaumiddiin” – Allah berfirman: Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku. Dia berkata sesekali: Hamba-Ku telah memberi kuasa penuh pada-Ku. Jika ia mengucapkan “iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.” Allah

berfirman: Ini antara-Ku dan hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta. Jika ia mengucapkan “ihdiinash shiroothol mustaqiim, shirootolladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril magdhuubi ‘alaihim wa laaddhoollin.” – Allah berfirman: Ini untuk hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang ia minta.” (HR. Muslim)

Dari hadits ini kita tahu kalau Al-Fatihah adalah surah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam, terutama dalam ibadah shalat. Maknanya yang mendalam dan relevansi dalam kehidupan sehari-hari menjadikan bacaan ini sangat penting. Ia bukan hanya sebuah bacaan ritual, tetapi juga sarana komunikasi antara hamba dan Tuhannya. Pengulangan bacaan Al-Fatihah dalam shalat memberi kesempatan bagi setiap Muslim untuk merenung, memperdalam pemahaman, dan merasakan kedekatan dengan Allah.

Kesadaran terhadap bacaan ini mendorong individu untuk memahami dan meresapi makna dari setiap kalimat yang diucapkan, sehingga shalat bukan hanya menjadi ritual, tetapi menjadi sarana komunikasi dan kontemplasi yang mendalam dan penuh penghayatan.

 

Tinggalkan Balasan

Search