Keempat, Kesadaran Pikiran dan Perasaan Selama Salat
Pengendalian pikiran dan perasaan adalah dua hal yang penting yang menentukan kualitas shalat seseorang. Pikiran harus diajak berpikir bahwa mulai takbiratul ihram sampai salam Adalah momen sacral yang tidak boleh dicampuri oleh sesuatu yang mengganggu dan mengalihkan kesadaran dari selain Allah dari setiap bacaan dan gerakan shalat. Seolah-olah kita melihat Allah, atau minimal kesadaran bahwa kita sedang diperhatikan Allah. Meskipun dan sering pikiran dan perasaan sering kali teralihkan oleh berbagai gangguan eksternal maupun internal.
Menghadirkan konsentrasi dan kekhusyuan dalam shalat Adalah proses yang berkelanjutan tanpa henti karena setan telah berikrar untuk memalingkan manusia mulai jaman Nabi Adam AS sampai hari kiamat. Kesadaran bahwa Iblis dan setan akan selalu berusaha dengan keras untuk memalingkan manusia terutama saat seorang melakukan ibadah shalat.
Sebagaimana tersebut dalam Surat Al-Hijr Ayat 39 dan 40:
قَالَ رَبِّ بِمَآ أَغْوَيْتَنِى لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ , إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ ٱلْمُخْلَصِينَ
Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka”.
Surat Al Maidah ayat ke 91 makin jelas bagaimana upaya setan mengganggu manusia dari mengingat Rabbnya.
إِنَّمَا يُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُوقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاءَ فِي الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَعَنِ الصَّلَاةِ
“Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat”
Dari petunjuk Al quran diatas, maka seharusnya menjadi titik balik ketika pikiran dan perasaan mulai terdistraksi hal-hal yang tidak relevan saat shalat untuk dapat mencapai keadaan khusyuk yang optimal. Tidak ada jalan lain selain mengendalikan dan memusatkan perhatian pada tujuan utama shalat, yaitu pada bacaan dan gerakan yang dilakukan. Sehingga pada puncak proses ini, kualitas spiritual dalam ibadah akan semakin mendalam dan meningkat.
Kelima, Kesadaran terhadap Waktu Salat
Kesadaran ini mencakup dua hal. Kesadaran tentang kapan masuk waktu shalat dan kesadaran akan durasi yang dibutuhkan dalam shalat. Mengetahui kapan waktu shalat tiba mengajarkan kita untuk disiplin dan menghargai setiap detik yang diberikan Allah. Kesadaran ini membuat kita akan lebih fokus pada ketepatan waktu pelaksanaan shalat, menghindari kesibukan yang dapat mengalihkan perhatian, serta menghargai setiap bagian dari waktu yang dipersembahkan untuk Allah.
Dalam surat An-Nisa Ayat ke103, Allah SWT mengingatkan:
فَإِذَا قَضَيْتُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُمْ ۚ فَإِذَا ٱطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ ۚ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ كَانَتْ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ كِتَٰبًا مَّوْقُوتًا
“Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
Waktu dalam shalat bukan hanya tentang durasi, tetapi juga kualitas keberadaan dalam setiap momen ibadah. Memanfaatkan momen shalat untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta dengan maksimal. Maka, shalat tidak boleh dilakukan dengan tergesa-gesa dan harus menyatukan semua komponen inderawi, jasmani dan ruhaninya.
Hadits dari Abu Hurairah ini bisa menjadi pengingat tentang Shalat yang tenang.
إِذَا سَمِعْتُمُ الإِقَامَةَ فَامْشُوا إِلَى الصَّلاَةِ ، وَعَلَيْكُمْ بِالسَّكِينَةِ وَالْوَقَارِ وَلاَ تُسْرِعُوا ، فَمَا أَدْرَكْتُمْ فَصَلُّوا وَمَا فَاتَكُمْ فَأَتِمُّوا
“Ketika kalian mendengarkan iqamah, maka berjalanlah untuk (memenuhi panggilan) shalat. Hendaknya kalian berjalan dengan tenang dan pelan, dan jangan pula tergesa-gesa. Apa yang kalian dapatkan dari Imam, maka shalatlah, dan apa yang kalian terlewatkan, maka sempurnakanlah.” [HR. Muslim].
