Transformasi Praktik Ihsan dalam Salat melalui Pendekatan Metakognitif

Transformasi Praktik Ihsan dalam Salat melalui Pendekatan Metakognitif
*) Oleh : Sulton Dedi Wijaya, M.Pd.
www.majelistabligh.id -

Keenam, Kesadaran terhadap Rasa Syukur dalam Salat

Nikmat Allah kepada manusia sungguh tidak akan bisa dihitung dan dijumlahkan. Oleh karena itu menjadi kewajiban setiap hamba untuk mensyukurinya baik secara lisan (verbal) dengan kalimat tahmid, tindakan (non-verbal) dengan menegakkan shalat, ataupun dengan materi melalui zakat, infak, dan sedekah. Perintah itu sudah termaktub dalam surat Al Kautsar ayat ke 1 dan 2.

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”

Shalat adalah kebutuhan manusia. Menegakkannya adalah bentuk ketaatan menjalankan perintah Allah SWT. Sekaligus manifestasi rasa syukur terbesar seorang hamba kepada Allah. Kesyukuran atas segala nikmat dan rahmat yang diberikan-Nya. Dalam shalat, setiap gerakan dan bacaan menjadi bentuk ungkapan syukur yang mendalam. Dengan menyadari rasa syukur ini, shalat menjadi lebih dari sekadar kewajiban, tetapi sebagai wujud ketulusan hati yang mengakui tidak ada yang patut disembah selain Allah.

Surat Al-Baqarah Ayat 152 dan 153 relevansi shalat dan Syukur.

فَٱذْكُرُونِىٓ أَذْكُرْكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِى وَلَا تَكْفُرُونِ , يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. “

Ketujuh (terakhir), Kesadaran terhadap Kualitas Salat

Kesadaran terhadap kualitas ibadah mencakup pemahaman bahwa shalat bukan hanya sekedar gugur menjalankan kewajiban, tetapi juga tentang bagaimana ibadah tersebut dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Dalm praktiknya melibatkan banyak factor eksternal seperti kebersihan tempat, dan pakaian; dan factor internal seperti hidupnya panca Indera, tenangnya jiwa dan raga, hadirnya hati dan pikiran, serta kesungguhan dan ketenangan selama prosesi shalat.

Termasuk kesadaran bahwa shalat merupakan perkara yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ ، فَإنْ صَلُحَتْ ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ ، وَإنْ فَسَدَتْ ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ ، فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ ، قَالَ الرَّبُ – عَزَّ وَجَلَّ – : اُنْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ، فَيُكَمَّلُ مِنْهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ ؟ ثُمَّ تَكُونُ سَائِرُ أعْمَالِهِ عَلَى هَذَا

“Sesungguhnya amal yang pertama kali akan dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah menang dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi. Jika berkurang sedikit dari shalat wajibnya, maka Allah berfirman, ‘Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah.’ Maka disempurnakanlah apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian begitu pula dengan seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Termasuk hadits dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah bersabda,

إنّ بين الرجل وبين الشرك والكفر ترك الصلاة

“Sesungguhnya (batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim)

Pendekatan metakognitif adalah kunci untuk mengembangkan kualitas diri yang lebih mendalam dalam setiap aspek kehidupan, baik dalam ibadah dan mu’amalah. Dalam aspek ibadah, metakognisi mengajarkan kita untuk tidak hanya sekadar melaksanakan kewajiban, tetapi mempraktikkannya dalam integrasi yang utuh dari seluruh komponen fitrah manusia mulai jiwa dan raga, panca Indera, akal, pikiran, dan kalbu; mengendalikan kinerja setiap komponen dengan penuh kesadaran; dan secara rutin mengevaluasi, untuk kemudian memperbaikinya untuk mencapai kesempurnaan ibadah itu sendiri.

Dalam mu’amalah, metakognisi memandu kita untuk menjadi lebih sadar dalam berinteraksi dengan sesama—mengelola emosi, berbicara dengan kebijaksanaan, dan bertindak sesuai aturan dan norma yang berlaku.

Metakognisi mengajak kita untuk merenung, memperbaiki, dan tumbuh, tidak hanya dalam menjalani ritual agama, tetapi dalam membangun interaksi yang lebih mendalam dengan diri sendiri, dengan Sang Pencipta, dan dengan sesama. Inilah jalan untuk menjadikan setiap ibadah (Tindakan) kita penuh makna, bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah perjalanan menuju kesempurnaan diri.

Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan dan pertolongan oleh Allah SWT untuk selalu mengingat Allah dalam dzikir dan shalat, mensyukuri setiap nikmatNya, dan memperbaiki peribabadatan kita.

“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Nasa’i)

 

*) Materi pada Pengajian Umum Ahad Pagi (2/11) di Masjid Baiturrahman Dusun Kethok, Desa Tunggal Pager, Pungging, Mojokerto yang diinisiasi oleh PCM Pungging.

 

Tinggalkan Balasan

Search