”Don’t let your busy pursuit of His gifts make you forget the Gift Giver Himself.”
”(Jangan sampai kesibukan mengejar karunia-Nya membuatmu lupa kepada Pemberi Karunia itu sendiri)”
Dahulu ia dijuluki “Merpati Masjid” karena ketekunannya. Namun, setelah doanya terkabul dan hartanya melimpah, Tsa’labah bin Hathib justru terjerat lalai. Ia menjauh dari barisan salat hingga enggan membayar zakat.
Kisahnya adalah pengingat keras bahwa harta bisa menjadi jembatan menuju surga, namun juga bisa menjadi jerat yang memutus hubungan dengan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman,
وَمِنْهُم مَّنْ عَٰهَدَ ٱللَّهَ لَئِنْ ءَاتَىٰنَا مِن فَضْلِهِۦ لَنَصَّدَّقَنَّ وَلَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلصَّٰلِحِينَ. فَلَمَّآ ءَاتَىٰهُم مِّن فَضْلِهِۦ بَخِلُوا۟ بِهِۦ وَتَوَلَّوا۟ وَّهُم مُّعْرِضُونَ
Artinya:
“Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh. Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).” (Qs. At-Taubah: 75-76)
Dalam Tafsir Al-Jalalain menjelaskan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan sikap munafik sebagian orang yang mengingkari janji setianya kepada Allah setelah mendapatkan kemakmuran materi.
Dalam hadis, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ، تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ
Artinya:
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamisah dan khamilah (sejenis pakaian yang terbuat dari wool/sutera). Jjika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (HR. Bukhari No. 2887)
Hadis ini memperingatkan bahaya penghambaan pada materi yang memalingkan hati dari ketaatan. Nabi mendoakan celaka bagi hamba dinar dan yang lainnya. Seseorang disebut “hamba dinar” dan “hamba dirham” karena dia melakukan berbagai amal perbuatannya hanya semata-mata mencari harta benda. Seandainya tidak ada harta yang bisa diraih, maka dia tidak akan beramal. Harta bendalah yang menjadikan motivasinya untuk beramal.
Kisah Tsa’labah mengajarkan bahwa istiqamah jauh lebih sulit daripada memulai ketaatan. Kekayaan bukanlah ukuran kemuliaan jika ia membuat kita abai terhadap kewajiban agama. Mari kita selalu memohon hati yang tetap teguh dalam iman, baik dalam sempit maupun lapang.
Semoga bermanfaat,
