Perintah puasa di dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 183 yang Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan oleh umat sekarang, umat masa depan, bahkan umat-umat terdahulu pun sudah melakukannya. Maka perlu menjadi pertanyaan ialah, mengapa perintah puasa ini diwajibakan kepada umat sepanjang zaman? Nilai agung apa yang terkandung di dalamnya? Pengertian Puasa
Mengutip dari Jurnal Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI), pengertian puasa secara etimologis berasal dari kata “As-shaum”, yang secara harfiah berarti menahan diri dari melakukan suatu tindakan. Namun, menurut ajaran agama Islam, puasa merujuk pada menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan diiringi niat dan memenuhi syarat-syarat tertentu.
Kata “menahan diri” perlu kita garis bawahi sebagai spirit dalam menjalankan aktifitas puasa, agar tujuan dari puasa dapat tercapai dan kita memiliki manfaat pasca menjalankan ibadah ini.
Tujuan Puasa
Mengutip Surat Al Baqarah ayat 183 tadi mengenai perintah puasa maka dijelaskan bahwa puasa agar kita menjadi manusia yang “Bertakwa”. Bertakwa artinya adalah berusaha untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ini mencakup kesadaran spiritual yang mendalam dan komitmen untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Ajaran Allah SWT.
Perintah untuk bertakwa sangat jelas di dalam Al Qur’an Surat Al Maidah ayat 35 yangArtinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.
Kolerasi Menahan diri dan Bertakwa
Saat manusia mampu menahan dirinya, dalam artian mampu mengendalikan dirinya maka ia bisa memutuskan dan berkehendak dalam menjalankan perintah kebaikan dan menjauhi larangan.
Selanjutnya, yang menjadi renungan kita bersama adalah apa yang perlu kita kendalikan? Sehingga puasa bisa menjadikab kita manusia yang bertakwa?
Bahaya Nafsu
Nafsu adalah dorongan, keinginan, atau kecenderungan hati yang kuat. Nafsu juga dapat diartikan sebagai perasaan atau emosi jiwa yang condong kepada sesuatu yang disukai. Namun jika nafsu ini tidak dikendalikan maka bisa menjadikan suatu keburukan. Berikut tiga dalil ketika nafsu tidak dikendalikan dan menjadi keburukan :
1 ) Artinya: “Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (Surat Al-Furqan Ayat 43-44)
2) “Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas. (Surat Al Kahfi 28)
3 ) “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan. ” (Surat An Nisa’ 135)
Segala kerusakan yang ada di bumi, pertengkaran, peperangan, pembunuhan, hal-hal keji yang dilakukan oleh manusia adalah saat tidak mampu mengendalikan nafsunya. Nafsu akan menjadi baik/positif saat mampu dikendalikan kepada jalan yang benar, ia akan menjadi inovasi dan suatu kreatifitas bahkan energi untuk menjalani kehidupan.
Namun saat nafsu di dalam diri tidak terkendali maka ia akan menjadi boomerang dan akan menjadikannya keburukan, bahkan mampu menimbulkan bencana, baik individu, orang lain, maupun masyarakat luas.
Pentingnya Pengendalian Nafsu
Allah memberikan ajaran perintah puasa karena mengetahui bahwa nafsu yang ada di dalam diri manusia ketika tidak dikendalikan dan tidak dikontrol dengan benar maka akan menimbulkan keburukan. Hal itu bisa dilihat dalam sejarah bagaimana manusia bisa menciptakan kerusakan dan bencana.
Sepanjang zaman, ajaran puasa wajib dilakukan agar menjadi evaluasi dan pendidikan pelatihan kepada manusia supaya memiliki kompetensi dalam pengendalian nafsu. Karena setan juga akan menggoda dan menyerang manusia lewat jalan nafsu, dan ini akan terus dilakukan setiap detik, dimanapun, kapanpun, hingga akhir hayat manusia.
Untuk itulah perintah menahan diri dengan puasa agar menjadikan manusia bertakwa menjadi kewajiban dan harus dilakukan dengan serius supaya tujuan besar itu tercapai dan manusia memiliki kompetensi yang diharapkan.
