Kompetensi Pengendalian Nafsu lewat Kegiatan Puasa
Kompetensi adalah kemampuan, kecakapan, atau keahlian yang dimiliki seseorang. Sedangkan pengendalian adalah proses pengaturan dan pemantauan aktivitas untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Maka seseorang menjadi ahli atau memiliki kemampuan/kecakapan dalam proses pengaturan agar tercapai sebuah tujuan. Sehingga puasa ialah bertujuan untuk agar “manusia memiliki kemampuan/ahli dalam proses pengaturan, menahan diri dari nafsu yang ada di dalam diri maupun dari godaan setan agar dapat menjadi manusia yang bertaqwa, yang mampu menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.”
Puasa juga dapat disebut pendidikan dan pelatihan karna dilakukan rutin selama satu bulan (bulan Ramadan) dari 12 bulan, dan puasa sunnah (waktu-waktu tertentu). Kesuksesan tujuan puasa tergantung pula pada kita memaknai kegiatan puasa dan keseriusan dalam menjalankannya, karna keberhasilan puasa terletak pada kegiatan puasa yang dilakukan.
Makna Kegiatan Puasa
1. Tidak makan dan minum. Makan dan minum adalah kebutuhan dasar manusia untuk memiliki energi, namun saat puasa kita disuruh untuk menahannya dan mengendalikan dahaga dan lapar, padahal nafsu makan dan minum kita sangat membutuhkannya.
2. Lemas dan Malas. Saat puasa apalagi berkegiatan padat dan banyak agenda, bekerja dsb namun kita disuruh untuk mengendalikan rasa lemas dan malas itu karna masih ada kewajiban dan keharusan kegiatan yang diselesaikan, padahal nafsu kita untuk bermalas-malasan, ingin banyak istirahat sangat tinggi.
3. Mudah emosi dan tersinggung. Dalam keadaan lemas dan lapar terkadang kita sangat mudah untuk tersinggung dan marah saat ada hal-hal yang tidak sesuai dengan perasaan kita, namun kita disuruh untuk sabar dan mengendalikan itu.
4. Yang suami istri tidak boleh berhubungan saat siang hari. Meskipun halal namun nafsu kita disuruh mengendalikan meskipun ada gejolak untuk melampiaskannya saat siang hari. Apalagi yang belum sah, interaksi laki-laki dan perempuan sangat disuruh untuk mengendalikan nafsu tersebut.
5. Berbuka puasa. Berbuka saat sudah dahaga & lapar terkadang kita ingin melampiaskannya, balas dendam ingin minum dan makan sebanyak-banyaknya, namun kita diajarkan untuk tidak boleh melakukan itu, padahal nafsu kita untuk itu sangat tinggi.
6. Sahur. Dalam keadaan mengantuk, apalagi yang kegiatan sampai larut malam tetap dianjurkan untuk bangun sahur, padahal nafsu kantuk kita sangat tinggi namun kita disuruh untuk bangun sahur dan tetap menjalankan sholat subuh.
Beberapa kegiatan puasa yang kami paparkan di atas bisa menjadi renungan sekaligus evaluasi diri apakah saat puasa kita sudah melakukan itu semua atau bahkan malah kita kalah dalam proses pengendalian nafsu tersebut.
Pendidikan dan pelatihan puasa yang dilakukan secara rutin dan serius dalam kegiatan setiap harinya akan menciptakan kompetensi dalam pengendalian nafsu tersebut, sehingga dalam prosesnya , menjalankan ibadah puasa tidak dilakukan asal-asalan dan tidak memahami makna kegiatan setiap harinya.
Akan menjadi sia-sia jika tidak memahami makna puasa dan tujuannya. Maka bisa menjadi renungan bersama, apakah puasa yang kita jalani selama ini sudah sesuai tujuan dan kompetensi yang diharapkan atau malah sebaliknya puasa kita hanya seremonial belaka dan menjadi rutinitas tanpa makna dan tiada manfaat apa-apa.
Jika kita serius dalam pelaksanaan kegiatan puasa, maka kompetensi pengendalian nafsu akan dapat kita capai dan kita akan menjadi manusia yang bertaqwa, yang mampu totalitas dalam menjalani perintah Allah dan menjahi larangan-Nya. (*)
