UAH: Mubaligh adalah Influencer Akhirat, Sampaikan Dakwah dengan Hati-hati

www.majelistabligh.id -

Mubaligh merupakan figur penting sebagai influencer akhirat. Oleh karena itu, dalam menyampaikan dakwah, mereka harus berhati-hati dan tidak sembarangan, memastikan bahwa risalah Islam disampaikan dengan penuh tanggung jawab dan ketulusan.

Pernyataan ini disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat (UAH), yang dikenal luas sebagai Dai Sejuta Umat, dalam acara Pelatihan Instruktur Mubaligh Muhammadiyah Nasional yang berlangsung di Yogyakarta pada Rabut (19/2/2025).

Dalam kesempatan tersebut, UAH mengingatkan para mubaligh untuk tetap fokus pada tujuan dakwah dan tidak tergoda oleh iming-iming materi atau kepentingan pribadi. Ia menekankan bahwa ketakwaan seorang mubaligh dalam menjalankan tugas amar ma’ruf nahi munkar akan membawa kecukupan dari Allah.

“Barang siapa bertakwa, maka Allah akan mencukupi kebutuhannya,” ujarnya seraya menegaskan pentingnya ketulusan dan keikhlasan dalam berdakwah.

Lebih lanjut, alumni program doktoral Universitas Tripoli, Libya, ini juga mengingatkan para mubaligh untuk berhati-hati dalam memilih kata-kata dan kalimat yang digunakan dalam dakwah. Ia menekankan untuk menghindari bahasa yang kasar, kalimat sensitif, atau segala sesuatu yang bisa bertentangan dengan nilai-nilai moral.

“Islam datang untuk menyatukan umat, bukan untuk memecah belah. Dakwah harus membangun, bukan malah menambah perpecahan,” tambahnya.

Menurut UAH, mubaligh yang hanya mengejar keuntungan materi secara instan tidak akan bertahan lama dalam lingkungan Muhammadiyah.

“Untungnya, di Muhammadiyah tidak ada mubaligh seperti itu,” tegasnya seraya  menandaskan bahwa Muhammadiyah memiliki standar tinggi dalam hal dakwah yang murni dan tidak didorong oleh kepentingan duniawi.

Dalam sesi tersebut, UAH juga mengritik fenomena dakwah instan yang berkembang saat ini, di mana banyak orang yang hanya mengandalkan pencarian materi dakwah melalui Google dalam waktu singkat.

“Mubaligh Muhammadiyah jangan sampai hanya mengandalkan pencarian di Google selama tiga menit lalu langsung ceramah. Dakwah memerlukan persiapan yang matang,” pesannya dengan tegas.

Ia mengingatkan agar para mubaligh memiliki bekal yang cukup sebelum menyampaikan dakwah. Bekal ini tidak hanya terbatas pada penguasaan materi, tetapi juga pentingnya melakukan riset yang mendalam dan memahami karakter masyarakat yang menjadi sasaran dakwah. Hal ini penting agar dakwah yang disampaikan relevan dengan kondisi masyarakat serta mudah diterima.

UAH juga menyoroti pentingnya literasi media bagi para mubaligh, terutama di tengah maraknya penyebaran informasi yang tidak valid atau hoaks. Dalam era digital yang serba cepat, para mubaligh dituntut untuk lebih selektif dalam menyaring informasi yang akan disampaikan, agar tidak menimbulkan kebingungannya masyarakat.

Selain itu, ia juga membahas tantangan dakwah di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Walaupun teknologi dapat menjadi alat bantu dalam menyebarkan dakwah, UAH menegaskan bahwa teknologi tetap hanya merupakan sarana. Esensi dakwah yang sesungguhnya terletak pada akhlak dan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh mubaligh. “Teknologi itu hanya alat, tetapi inti dakwah tetap pada akhlak dan ilmu yang dimiliki seorang mubaligh,” tutupnya. (m roissudin)

Tinggalkan Balasan

Search