Hari Raya Idulfitri selalu membawa kegembiraan tersendiri bagi anak-anak. Salah satu momen yang paling dinanti adalah saat mereka menerima “salam tempel” atau uang saku Lebaran dari sanak saudara. Dalam waktu singkat, dompet atau kantong mereka bisa penuh dengan lembaran uang baru
Namun, di balik kegembiraan itu, muncul sebuah tantangan besar bagi kita sebagai orang tua di era disrupsi ini: Akan dikemanakan uang tersebut? Apakah habis seketika untuk membeli top-up game dan mainan viral, atau bisa menjadi sarana belajar yang berharga bagi mereka?
Sebagai hamba Allah, kita diingatkan bahwa setiap harta yang kita pegang—termasuk uang Lebaran anak—akan dimintai pertanggungjawabannya.
Dari Abu Barzah Al-Aslami, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَا فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَا أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَا أَبْلاَهُ
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai: (1) umurnya di manakah ia habiskan, (2) ilmunya di manakah ia amalkan, (3) hartanya bagaimana ia peroleh dan (4) di mana ia infakkan dan (5) mengenai tubuhnya di manakah usangnya.” (HR. Tirmidzi no. 2417)
Momen Lebaran adalah waktu terbaik untuk mengajarkan anak tiga pilar pengelolaan uang. Agar uang Lebaran ini tidak menguap tanpa bekas, mari kita bimbing anak-anak kita untuk membelanjakannya dengan rumus cerdas berikut:
1. Dahulukan Investasi Masa Depan (Tabungan Sekolah)
Era disrupsi menuntut persiapan mental dan finansial yang matang. Mengajak anak menyisihkan sebagian besar uang Lebarannya untuk keperluan sekolah (seperti membeli buku, seragam baru, atau tabungan SPP) adalah langkah yang sangat bijak.
Katakan kepada mereka,
“Nak, uang ini kita simpan untuk tambahan membeli keperluan sekolahmu nanti ya, supaya kamu belajar mandiri.”
Hal ini sejalan dengan pesan dalam QS. An-Nisa: 9 untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Dengan membelanjakan uang Lebaran untuk keperluan pendidikan, anak belajar bahwa ilmu adalah prioritas utama di atas kesenangan sesaat. Disisi lain, Membiasakan anak menabung atau berinvestasi untuk keperluan sekolahnya sendiri akan menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap pendidikannya.
2. Belajar Empati melalui Sedekah
Uang Lebaran adalah momen terbaik melatih kedermawanan. Jangan biarkan uang tersebut hanya berputar untuk kesenangan pribadi. Ajarkan anak untuk membelanjakan sedikit porsinya (misal 2,5% atau lebih) di jalan Allah. Masukkan ke kotak infak masjid atau berikan kepada teman sebaya yang kurang mampu. Rasulullah SAW mengingatkan:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari No. 1429 dan Muslim No. 1033)
Membelanjakan uang untuk sedekah sejak dini akan menghindarkan anak dari sifat Bakhil, kikir dan sombong.
3. Kendalikan Keinginan, Hindari Budaya Mubazir
Di era sekarang, gaya hidup pamer (flexing) sangat kuat. Media sosial sering kali menggoda anak-anak untuk membeli barang-barang yang hanya “ingin” tapi tidak “butuh”. Membelanjakan uang secara berlebihan untuk hal yang tidak bermanfaat adalah bentuk kemubaziran. Allah SWT berfirman:
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
“Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan…” (QS. Al-Isra: 27)
Didiklah anak untuk berpikir sebelum membeli: “Apakah barang ini bermanfaat untuk belajarku? Apakah ini membuatku lebih baik?”
4. Ajarkan Prioritas (Antara Kebutuhan dengan Keinginan)
Era disrupsi dan media sosial membuat anak-anak kita mudah tergiur tren sesaat. Orang tua perlu membimbing anak untuk membagi uang Lebarannya menjadi beberapa bagian. Jangan dilarang total untuk jajan, tapi ajarkan porsi yang seimbang. Misalnya: 20% untuk jajan, 50% untuk tabungan masa depan (sekolah), dan 30% untuk lainnya atau 50% Sekolah, 30% Tabungan, 10% Sedekah, 10% Jajan
Kesimpulan
Uang Lebaran adalah momentum emas bagi orang tua untuk mengajarkan Manajemen Keuangan Syariah. Jangan biarkan uang itu habis tak berbekas. Jika kita mampu mengarahkan anak untuk membelanjakannya secara bijak—terutama untuk mendukung pendidikan dan berbagi sesama—maka kita sedang menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas mengelola uang, tetapi juga memiliki mentalitas yang kuat, mandiri, dan barokah.
Mari jadikan Lebaran tahun ini sebagai langkah awal anak-anak kita belajar menjadi manajer keuangan yang amanah demi masa depan mereka sendiri. (*)
