Ubaidillah: Memetik Manisnya Ketekunan Baja

Ubaidillah: Memetik Manisnya Ketekunan Baja
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”A strong soul is never carved in a comfortable place, but forged in the embers of hardship”

“(Jiwa yang kuat tak pernah diukir di tempat yang nyaman, melainkan ditempa dalam bara kesulitan)”

​Ubaidillah, putra pandai besi dan buruh tani dari desa Mojoduwur Mojowarno Jombang, adalah perwujudan ketahanan sejati. Sejak dini, ia ditempa kesulitan: dibesarkan di Panti Asuhan Yatim Muhammadiyah Jombang, merantau ke Pondok Persis Sampang, hingga diuji sakit parah. Namun, api semangatnya tak pernah padam.

​Ia menjalani hidup multi-peran yang luar biasa. Pagi menjadi guru, siang kuliah mandiri, malam mengajar ngaji privat keliling, sambil menjadi marbot. Gaji awal Rp50.000 tak ia permasalahkan, fokusnya hanya pada proses dan pengalaman. Perjuangan kerasnya dari nol kini berbuah manis. ia menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN).

Inilah kisah dedikasi yang mengubah latar belakang menjadi kebanggaan sejati. Allah SWT berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا ۙ إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
Artinya:
Maka, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.”(Qs. Al-Insyirah: 5-6)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap kesulitan pasti disertai dengan kemudahan, yang berarti tidak ada kesulitan yang bersifat permanen. Kisah ini adalah bukti janji Ilahi ini, di mana kesabaran berbuah pencapaian.

Dalam hadis, Anas bin Malik, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ
Artinya:
Sesungguhnya pahala besar karena balasan untuk ujian yang berat. Sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang rida, maka ia yang akan meraih rida Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.” (HR. Ibnu Majah No. 4031)

Hadis ini menegaskan bahwa Allah menguji hamba-Nya yang dicintai. Oleh karena itu, barang siapa yang bersabar dan rida atas ujian tersebut, maka ia akan meraih keridaan Allah, sedangkan yang tidak rida atau murka, maka baginya kemurkaan Allah.

​Jadi, kisah ini adala membuktikan bahwa iman dan keuletan adalah penentu sejati. Latar belakang hanyalah awal, bukan garis akhir.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search