Pernah nggak sih kita bertanya dalam hati, “Kenapa hidupku begini terus” Padahal rasanya sudah berusaha baik, sudah sabar, sudah doa. Tapi yang datang justru ujian lagi, lagi, dan lagi.
Jawabanya sederhana, tapi sering bikin kita terdiam: ujian itu bukan hukuman-ujian itu jawaban. Allah tidak asal menguji. Setiap ujian datang karena ada permintaan yang pernah kita ucapkan, meski hanya di dalam hati.
Ujian sebagai “Kebetulan”
* Dari sisi manusia, ujian sering tampak hadir tanpa kita rencanakan.
* Misalnya, sakit mendadak, kehilangan, atau tantangan di pekerjaan. Kita merasa itu “kebetulan” karena datang tiba-tiba.
* Dalam perspektif ini, ujian adalah momen tak terduga yang menguji kesiapan hati dan akhlak kita.
Ujian sebagai “Jawaban”
* Dalam perspektif Qur’ani, ujian bukan sekadar kebetulan, melainkan jawaban atas doa, niat, atau perjalanan hidup.
* Allah berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan: ‘Kami telah beriman,’ dan mereka tidak diuji?” (QS. Al-‘Ankabut: 2).
* Artinya, ujian adalah respon ilahi untuk meneguhkan iman, membersihkan hati, atau mengangkat derajat.
* Kadang ujian adalah jawaban atas doa kita: kita minta kesabaran, lalu Allah memberi situasi yang menumbuhkan sabar; kita minta kekuatan, lalu Allah hadirkan tantangan.
Permintaan untuk kuat.
Permintaan untuk naik level.
Permintaan hidup yang lebih bermakna.
Masalahnya, kita sering lupa satu hal penting:
Naik level itu tidak pernah lewat jalan lurus.
Kita minta sabar. Allah kirim orang yang menguji kesabaran.
Kita minta rezqi luas, Allah beri kondisi sempit dulu supaya kita belajar bertahan dan mengelola.
Kita minta dekat dengan Allah, Allah ambil sandaran dunia satu per-satu, supaya kita pulang.
Itu bukan kejam
Itu mendidik
Ujian adalah bentuk pendidikan paling jujur. Bukan bisa bicara, nasihat bisa didengar, tapi karakter hanya dibentuk lewat pengalaman yang tidak nyaman.
Di usia dewasa ujian terasa lebih berat. Bukan karena kita lemah, tapi karena tanggungjawab kita sudah banyak. Anak, pasangan, orang tua, ekonomi, kesehatan, masa depan. Semuanya datang bersamaan, tanpa antri. Dan di titik itu, wajar kalau kita lelah. Wajar kalau ingin menyerah. Yang tidak wajar adalah merasa Allah tidak peduli. Karena justru saat ujian terasa berat, itu tanda Allah sedang memperlakukan kita sebagai orang yang mampu/kuat.
Allah tidak memberi ujian untuk menjatuhkan, tapi untuk membersihkan’
Membersihkan niat
Membersihkan ego
Membersihkan ketergantungan kita kepada selain Dia
Kadang ujian itu datang untuk menghentikan kita dari jalan yang salah, kadang memaksa kita untuk bergerak dari zona nyaman, kadang untuk menyiapkan kita pada amanah yang lebih besar.
Masalahnya, kita lebih sering fokus pada rasa sakitnya, bukan pada maknanya.
Padahal kalau kita mau jujur, banyak versi diri kita yang sekarang lahir dari luka yang dulu hampir membuat kita menyerah.
Ujian mengajarkan empati
Ujian mengajarkan rendah hati
Ujian mengajarkan bahwa hidup bukan tentang siapa paling hebat, tetap siapa yang paling bertahan dan tetap baik.
Dan satu hal yang sering terlupa: ujian selalu datang berpasangan dengan pertolongan. Hanya saja, pertolongan Allah jarang datang dalam bentuk instan. Ia datang lewat kekuatan hati, lewat orang baik yang tiba tiba hadir, lewat pintu kecil yang awalnya kita remehkan.
Kalau hari ini hidup terasa berat, bukan berarti do’a kita di tolak. Bisa jadi do’a itu sedang di proses dengan serius. Maka tugas kita bukan mengeluh tanpa henti, “tapi bertanya: “Apa yang sedang Allah bentuk dari diri kita?”
Tetap melangkah, meski pelan
Tetap berbuat baik, meski lelah
Tetap berharap, meski belum terlihat hasilnya
Karena ujian tidak datang untuk menghancurkan. Ia datang untuk melahirkan versi diri yang lebih kuat, lebih dewasa, dan lebih dekat dengan Allah. (By Mia)
Dan saat kita lolos-pelan tapi pasti-kita akan sadar: ternyata ini yang dulu kita minta dalam do’a. (*)
