Ulat dan Kupu-Kupu Sundep: Tidak Selalu Indah di Mata Petani

Ulat dan Kupu-Kupu Sundep: Tidak Selalu Indah di Mata Petani
*) Oleh : Syahrul Ramadan, S.H., M.Kn., CLA.
Sekretaris LBH Advokasi Publik PDM Lumajang
www.majelistabligh.id -

#Refleksi Kemanusiaan, Ujian, dan Persiapan Ramadan

Di mata anak-anak, kupu-kupu adalah lambang keindahan. Di buku-buku motivasi, ulat yang berubah menjadi kupu-kupu sering dijadikan simbol transformasi. Namun bagi petani padi, terutama ketika berhadapan dengan sundep (penggerek batang), cerita itu berbeda.

Ulat sundep menggerek batang padi dari dalam. Tanaman yang tampak hijau perlahan menguning dan mati. Manakala ia berubah menjadi kupu-kupu kecil, ia tidak serta-merta menjadi indah tanpa dampak. Ia justru bertelur kembali, melanjutkan siklus kerusakan.

Terkait itu, kita belajar satu titik penting dalam kehidupan: tidak semua perubahan berarti kebaikan. Tidak semua yang tampak ringan membawa maslahat.

Ujian Itu Nyata, dan Sangat Manusiawi

Petani yang melihat padinya rusak tidak sedang membaca metafora. Ia sedang memikirkan biaya pupuk, cicilan, kebutuhan anak, dan harapan panen. Di situlah Islam hadir—bukan sekadar sebagai teori, tetapi sebagai penguat hati.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

Transliterasi: Wa lanabluwannakum bisyai’in minal-khaufi wal-jū‘i wa naqṣim minal-amwāli wal-anfusi waṡ-ṡamarāt, wa basysyiriṣ-ṣābirīn.

Artinya: “Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Qur’an, QS. Al-Baqarah: 155)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kekurangan buah-buahan termasuk gagal panen. Maka serangan sundep bukan sekadar musibah teknis, tetapi bagian dari sunnatullah pola ujian kehidupan.

Urgensinya di sini bukan sekadar sabar secara lisan, tetapi sabar yang tetap berikhtiar.

Siklus Hama dan Siklus Dosa

Ada kemiripan antara sundep dan dosa.

Ulatnya merusak dari dalam. Kupunya memperluas kerusakan.

Begitu pula dosa kecil jika dibiarkan akan bertelur menjadi kebiasaan. Manakala kebiasaan itu mengakar, hati perlahan mengeras.

Allah ﷻ berfirman:قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا

Transliterasi: Qad aflaḥa man zakkāhā.

Artinya:“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”  (Al-Qur’an, QS. Asy-Syams: 9)

Titik penting dari ayat ini adalah proses penyucian. Sebagaimana petani tidak membiarkan hama berkembang, seorang mukmin pun tidak boleh membiarkan dosa menetap.

Tawakal Bukan Tanpa Tindakan

Rasulullah ﷺ bersabda:لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ…

Transliterasi: Law annakum tatawakkalūna ‘alallāhi ḥaqqa tawakkulih, larazaqakum kamā yarzuqut-thayr…

Artinya: “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung…” (HR. Muhammad ﷺ, riwayat Sunan at-Tirmidzi, hasan shahih)

Burung tetap terbang. Petani tetap membersihkan sawah.

Terkait itu, tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menyerahkan hasil setelah maksimal berikhtiar.

Dalam maqashid syariah, menjaga harta (hifzhul mal) adalah kewajiban. Mengendalikan hama bukan melawan takdir, tetapi bagian dari ikhtiar yang diperintahkan.

Menjelang Ramadan: Membersihkan Ladang Hati

Ramadan adalah musim panen ruhani. Namun sebelum panen, ada urgensi membersihkan ladang.

Jika sundep merusak batang padi dari dalam, maka: Riya merusak amal dari dalam

Hasad merusak ukhuwah dari dalam, Ghibah merusak pahala dari dalam

Manakala hati tidak dibersihkan sebelum Ramadan, puasa hanya menjadi lapar dan haus.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Sahih al-Bukhari, shahih)

Titik pentingnya bukan sekadar menahan lapar, tetapi menahan kerusakan akhlak.

Refleksi Kemanusiaan

Tulisan ini bukan sekadar tentang ulat dan kupu-kupu. Ini tentang kita. Tentang harapan yang kadang rusak. Tentang doa yang belum terjawab. Tentang usaha yang terasa sia-sia.

Namun manakala kita memahami bahwa setiap ujian adalah cara Allah mendidik jiwa, maka hati menjadi lebih lapang.

Ulat dan kupu-kupu sundep sama-sama hama bagi padi. Perubahan bentuk tidak selalu berarti perubahan hakikat.

Maka menjelang Ramadan, mari kita tidak hanya berubah tampilan—tetapi berubah substansi.

Tidak hanya ramai di awal, tetapi istiqamah hingga akhir. Semoga Allah membersihkan hati kita sebagaimana petani membersihkan sawahnya.

Dan semoga Ramadan menjadi musim panen amal, bukan musim hama yang menggerogoti pahala.

Wallahu a’lam bish-shawab

Tinggalkan Balasan

Search