UMM Kukuhkan Tiga Guru Besar FKIP, Soroti Isu Gender, Ketahanan Pangan dan Peran Sastra

www.majelistabligh.id -

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menambah deretan guru besar dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Tiga dosen akan resmi dikukuhkan sebagai profesor pada Sabtu, 10 Mei 2025. Mereka adalah Prof Trisakti Handayani (Ilmu Kajian Budaya), Prof Elly Purwanti (Ilmu Pendidikan Biologi), dan Prof Sugiarti (Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia).

Ketiganya menyampaikan orasi ilmiah yang menggugah dan relevan dengan isu-isu strategis pendidikan dan kebangsaan saat ini.

Prof Trisakti Handayani dalam orasinya berjudul “Kajian Budaya dan Isu Gender dalam Pendidikan di Indonesia” menegaskan bahwa pendidikan tidak pernah bebas nilai. Ia selalu berada dalam lingkup relasi sosial, budaya, dan kekuasaan.

“Pendidikan bisa menjadi alat reproduksi ketimpangan, tapi juga berpotensi sebagai kekuatan transformatif,” ujar Prof Trisakti.

Perspektif gender membantu mengungkap dan menantang bias dalam berbagai aspek pendidikan, seperti kurikulum, interaksi kelas, hingga tata kelola lembaga. Pendidikan yang adil terhadap gender, sebagaimana ditegaskan Connell, tidak hanya bermanfaat bagi perempuan tetapi juga bagi semua gender, karena menciptakan ruang belajar yang demokratis dan memungkinkan semua peserta didik berkembang secara optimal.

“Di era globalisasi dan percepatan teknologi digital, pendidikan di Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk menyiapkan generasi yang mampu mempertahankan identitas kultural. Pendidikan yang transformatif, harus menanamkan literasi kritis agar peserta didik mampu menyaring pengaruh budaya dan informasi secara reflektif. Oleh karena itu, dibutuhkan reformasi pendidikan menyeluruh yang memperhitungkan aspek budaya dan kesetaraan gender dalam setiap unsur sistem pendidikan,” katanya.

Kacang Koro dan Ketahanan Pangan

Orasi kedua disampaikan oleh Prof Elly Purwanti yang menyoroti potensi besar kacang koro sebagai pangan fungsional dan alternatif kedelai.

“Koro seperti Cajanus cajan dan Canavalia ensiformis mampu tumbuh di lahan marginal, tahan kekeringan, serta memiliki nilai gizi dan bioaktif tinggi,” jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa kacang koro berpotensi menggantikan kedelai dalam pembuatan tempe dan tahu, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor kedelai. Dengan sifat adaptif dan ramah lingkungan, koro dinilai cocok untuk menghadapi tantangan ketahanan pangan, terutama di tengah perubahan iklim dan pertumbuhan populasi.

Sementara itu, Prof Sugiarti mengangkat tema “Perspektif Multidisipliner Sastra sebagai Agregat Membangun Peradaban Masyarakat.” Ia menilai sastra memiliki posisi strategis dalam pembangunan karakter bangsa karena mampu merefleksikan dan mentransformasikan realitas sosial.

“Sastra tidak hanya estetika, tapi juga instrumen kritik dan refleksi sosial yang mengandung nilai-nilai kemanusiaan dan kesetaraan,” katanya.

Menurutnya, pendekatan sastra yang menyatu dengan sejarah, filsafat, hingga politik, memungkinkan pemahaman yang lebih dalam terhadap kehidupan. Ia juga menekankan pentingnya menjadikan sastra sebagai bagian integral dalam pendidikan untuk membentuk masyarakat yang humanis, inklusif, dan visioner. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search