Umur Umat Nabi Muhammad SAW

www.majelistabligh.id -

*) Oleh: Muhammad Nashihudin MSI,
Ketua Majelis Tabligh PDM Jakarta Timur

Manusia itu hidup di dunia ada batasan usia dan tidak abadi.
Dunia hanya sebuah persinggahan sementara menuju hidup dan kehidupan di akhirat. Kesuksesan yang sebenarnya adalah ketika seseorang tetap beramal saleh, terhindar dari ganasnya neraka dan masuk surga tanpa hisab.

Oleh karena itu marilah menjaga lima masalah sebelum datang lima masalah itu.
Jaga masa mudamu sebelum datang masa tuami.
Jaga masa sehatmu sebelum datang sakitmu.
Jada waktu luangmu sebelum datang kesibukanmu.
Jaga masa kayamu sebelum datang faqirmu.
Jaga masa hidupmu sebelum datang kematianmu.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

كَيْفَ تَكْفُرُوْنَ بِا للّٰهِ وَكُنْتُمْ اَمْوَا تًا فَاَ حْيَا کُمْ ۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ ثُمَّ اِلَيْهِ تُرْجَعُوْنَ

“Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu Dia menghidupkan kamu kembali. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 28)

Mentadabburi ayat ayat berikut ini untuk menasehati diri sendiri agar lebih siap menghadapi kehidupan abadi di akhirat.

1. Telah ditetapkan usia manusia

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ طِيْنٍ ثُمَّ قَضٰۤى اَجَلًا ۗ وَاَ جَلٌ مُّسَمًّى عِنْدَهٗ ثُمَّ اَنْـتُمْ تَمْتَرُوْنَ

“Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian Dia menetapkan ajal (kematianmu), dan batas waktu tertentu yang hanya diketahui oleh-Nya. Namun demikian kamu masih meragukannya.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 2)

2. UMUR UMMAT NABI SAW

عن أبي هريرة رضي الله عنه؛ أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: { أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبعين، وأقلهم من يجوز ذلك }.
Bersumber dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “(Sesungguhnya) umur ummatku berkisar antara enam puluh (60) hingga tujuh puluh (70) tahun. Sangat jarang di antara mereka yang usianya lebih dari tujuh puluh”.

Hasan Shahih: Misykatul Mashabih no 5280; Silsilatul Ahaditsish Shahihah no 757; Sunan Imam Ibnu Majah hal 702, no 4236,

3. Setiap orang ada ajalnya

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئ۟خِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 34)

‎‎‎4. Setiap insan manusia pasti akan mati

كُلُّ  نَفْسٍ  ذَآئِقَةُ  الْمَوْتِ  ۗ وَنَبْلُوْكُمْ  بِا لشَّرِّ  وَا لْخَيْرِ  فِتْنَةً  ۗ وَاِ لَيْنَا  تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 35)

Allah mengingatkan bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati, sehingga manusia harus memanfaatkan hidup untuk meningkatkan keimanan dan amal saleh.

5.Hadits Arbai’n ke 40
Sang pengembara
عَنْ ابْنِ عُمَرْ رضي الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم بِمَنْكِبَيَّ فَقَالَ : كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ . وَكاَنَ ابْنُ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُوْلُ : إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .

[رواه البخاري]

Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Ibnu Umar radhiallahuanhuma berkata : Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam memegang pundak kedua pundak saya seraya bersabda : Jadilah engkau di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara “, Ibnu Umar berkata : Jika kamu berada di sore hari jangan tunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari jangan tunggu sore hari, gunakanlah kesehatanmu untuk (persiapan saat) sakitmu dan kehidupanmu untuk kematianmu “

(Riwayat Bukhori)

Pelajaran :

1. Bersegera mengerjakan pekerjaan baik dan memperbanyak ketaatan, tidak lalai dan menunda-nunda karena dia tidak tahu kapan datang ajalnya.
2. Menggunakan berbagai kesempatan dan momentum sebelum hilangnya berlalu.
3. Zuhud di dunia berarti tidak bergantung kepadanya hingga mengabaikan ibadah kepada Allah ta’ala untuk kehidupan akhirat.
4. Hati-hati dan khawatir dari azab Allah adalah sikap seorang musafir yang bersungguh-sungguh dan hati –hati agar tidak tersesat.
5. Waspada dari teman yang buruk hingga tidak terhalang dari tujuannya.
6. Pekerjaan dunia dituntut untuk menjaga jiwa dan mendatangkan manfaat, seorang muslim hendaknya menggunakan semua itu untuk tujuan akhirat.
7. Bersungguh-sungguh menjaga waktu dan mempersiapkan diri untuk kematian dan bersegera bertaubat dan beramal saleh.
8. Rasulullah memegang kedua pundak Abdullah bin Umar, adalah agar beliau memperhatikan apa yang akan beliau sampaikan.

Hal ini menunjukkan bahwa seorang pelajar harus diajarkan tentang perhatian gurunya kepadanya dan kesungguhannya untuk menyampaikan ilmu kedalam jiwanya. Hal ini dapat menyebabkan masuknya ilmu, sebagaimana hal itu juga menunjukkan kecintaan Rasulullah kepada Abdullah bin Umar, karena hal tersebut pada umumnya dilakukan oleh seseorang kepada siapa yang dicintainya.

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya.

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

Tinggalkan Balasan

Search