Peran ibu dalam Islam bukan semata sebagai pengasuh bagi anak-anaknya, tetapi lebih dari itu, ibu memiliki tanggung jawab besar dalam kaderisasi generasi yang kelak menjadi penerus perjuangan di tengah masyarakat. Islam memandang perempuan, khususnya ibu, sebagai tiang keluarga dan generasi. Peran mereka tidak sekadar mengurus rumah tangga, tetapi juga mendidik generasi yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan.
Kaderisasi merupakan upaya mempersiapkan generasi baru dengan karakter yang kuat, keilmuan, dan keterampilan untuk dapat berperan di tengah masyarakat.
Sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur’an, Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat [49]: 13).
Ayat ini mengatakan dengan terang bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah SWT bukan ditentukan oleh jenis kelamin atau asal-usulnya, melainkan karena ketakwaannya. Dengan demikian, laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama.
Contoh yang luar biasa dalam hal ini di antaranya adalah Ibunda Khadijah binti Khuwailid RA, istri Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah SAW menerima wahyu pertama, Khadijah RA hadir sebagai pendamping yang menguatkan hati beliau. Menyokong perjuangan Rasulullah SAW tanpa keraguan sedikitpun, menyumbangkan seluruh hartanya, dan memberikan motivasi pada masa sulit.
Sosok Khadijah RA adalah teladan bagaimana seorang istri berperan dalam mendukung suaminya dan mempersiapkan generasi yang beriman.
Di Nusantara kita juga memiliki sosok perempuan yang inspiratif, di antaranya yaitu Nyai Walidah Dahlan. Sebagai istri pendiri Muhammadiyah KH. Ahmad Dahlan, Nyai Walidah aktif dalam medan perjuangan dan jalan dakwah bersama suaminya. Ketika masyarakat menentang pemikiran-pemikiran visioner KH. Ahmad Dahlan, Nyai Walidah tetap setia mendampingi dan menyokong perjuangan tersebut.
Seperti Khadijah RA yang menjadi ummul mukminin, ibu bagi kaum beriman, Nyai Walidah tak hanya menjadi ibu bagi anak-anaknya, tetapi juga bagi masyarakat luas melalui perannya yang besar di Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah.
Kaderisasi generasi dimulai sejak dini, bahkan dari dalam kandungan. Dalam Islam, ibu dianjurkan untuk senantiasa berzikir kepada Allah SWT, membaca Al-Quran, dan melakukan amalan baik selama masa kehamilan.
Tindakan ini pasti akan memiliki pengaruh positif pada perkembangan spiritual dan mental anak yang berada di dalam kandungan ibunya. Setelah lahir, tumbuh kembang karakter seorang anak sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang ditanamkan oleh ibu dan keluarganya sejak kecil.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, Setiap bayi yang lahir berada di atas fitrahnya. Lalu ayahnya-lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi. (HR. Al Bukhari)
Ibu adalah sosok yang paling dekat dengan anak-anak, sehingga memiliki pengaruh yang besar dalam membentuk akhlak mereka. Dalam hadis, Rasulullah SAW menyebut, Dan perempuan menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya. (HR. Al Bukhari).
Hal ini menunjukkan betapa besar peran ibu dalam menyiapkan generasi dan mendidik anak-anak di dalam rumah. Anak-anak akan banyak belajar dari ibunya dalam kehidupan sehari-hari.
Di rumah, ibu bukan hanya menjadi pengasuh tetapi juga pembentuk karakter anak-anaknya. Rasulullah SAW menekankan bahwa pendidikan agama sejak kecil sangat penting agar anak-anak dapat tumbuh dengan landasan yang kuat dalam Islam. Ibu yang membimbing anak-anak untuk mengenal Allah SWT dan ajaran Islam secara baik, akan membentuk generasi yang mampu menegakkan nilai-nilai kebenaran di tengah masyarakat. Karenanya, meskipun perempuan berkarya di berbagai bidang di luar rumah tidak lantas membuatnya melupakan tugas utamanya di rumah sebagai madrasatul ula, sumber pendidikan pertama bagi anakanaknya, darah dagingnya sendiri.
Meskipun demikian, kaderisasi generasi ini tidak dapat dilakukan tanpa dukungan dari ayah. Dalam sebuah keluarga, ibu dan ayah harus bekerja sama dalam mendidik anak-anak mereka. Ayah sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai madrasah pertama adalah dua pilar utama dalam pendidikan keluarga. Ketika kedua orang tua bersinergi, anak-anak akan tumbuh dalam suasana yang harmonis dan penuh kasih sayang, yang akan memudahkan mereka dalam menerima nilai-nilai kebaikan.
