Kaderisasi generasi juga berkaitan dengan tantangan zaman. Dalam era modern yang penuh dengan berbagai tantangan global seperti degradasi moral dan kemajuan teknologi yang tak mungkin dibendung, peran ibu menjadi semakin penting. Hal ini sesuai dengan pesan yang konon pernah disampaikan oleh Ali bin Abu Thalib RA, Didiklah anak sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup pada zamannya, bukan pada zamanmu. Ibu harus mampu menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anaknya, sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Di tengah perkembangan zaman, seorang ibu harus kreatif dalam mendidik anak-anaknya. Tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman. Dengan demikian, anak-anak akan memiliki bekal yang kuat untuk bersaing di dunia global tanpa melupakan nilai-nilai keislaman yang mereka bawa.
Seorang ibu harus memiliki pengetahuan agama yang cukup untuk menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Oleh karena itu, ibu perlu memperluas wawasannya, baik melalui kajian agama, pendidikan orang tua (parenting), maupun melalui pengalaman hidup. Hal ini akan membantu ibu dalam mendidik anak-anaknya agar siap menghadapi berbagai tantangan di masyarakat.
Inilah pentingnya komunitas perempuan seperti Aisyiyah, yang berfokus pada pemberdayaan perempuan dan pendidikan. Agar kaum perempuan dapat menjadi ibu yang cerdas, berdaya, dan mampu mendidik generasi penerus dengan baik. Melalui Aisyiyah, kaum perempuan dapat belajar dan berkembang bersama, memperdalam ilmu agama, serta mengasah keterampilan dalam berbagai aspek kehidupan.
Karena di tengah masyarakat, perempuan juga berperan sebagai penggerak dalam komunitas. Kehadiran ibu dalam kegiatan sosial, seperti pengajian atau kajian ilmu, memiliki dampak yang sangat positif. Dalam pertemuan ini, kaum ibu dapat berdiskusi, berbagi pengalaman, dan memberikan nasihat satu sama lain, sehingga dapat saling menguatkan dalam menjalankan peran mereka sebagai pendidik generasi.
Kaderisasi generasi juga membutuhkan keteladanan. Seorang ibu harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya dalam segala hal, baik dalam aqidah, ibadah, akhlak, maupun dalam aktivitas sehari-hari.
Sebagaimana dikatakan oleh pepatah, Perempuan adalah tiang negara, apabila perempuannya baik, maka negara akan baik. Artinya, kualitas suatu bangsa dapat dilihat pula dari bagaimana kualitas para ibunya.
Para muslimah saat ini bisa menapaki jejak Ummu Sulaim RA yang berhasil menjadikan anaknya sebagai putra yang saleh. Salah satu anaknya yang bernama Anas bin Malik RA masuk Islam karena pengaruh ibunya yang juga seorang muslimah. Anas kemudian menjadi salah satu perawi hadits terbesar dalam sejarah Islam, karena sering mendampingi Nabi SAW, menyaksikan peristiwa penting, dan mendengar langsung banyak perkataan Nabi SAW. Padahal bapaknya, Malik bin Nadhar adalah orang kafir yang dengan keras melarangnya untuk mengikuti ibunya yang beriman kepada Nabi Muhammad SAW.
Ibu sebagai penanggung jawab dalam rumah tangga harus menunjukkan keteladanan dalam beramar makruf nahi munkar kepada anak-anaknya. Ketika ibu menunjukkan sikap yang baik, anak-anak akan cenderung mengikuti jejaknya.
Sebaliknya, jika ibu menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam, maka anak-anak pun akan terpengaruh ke arah sama. Anak-anak sangat memperhatikan kebiasaan dan perilaku ibunya. Jika ibu terbiasa shalat tepat waktu, berpuasa, dan membaca Al-Quran, berkata dan berbuat yang baik, maka anak-anak akan terbiasa dengan hal-hal tersebut.
Sebaliknya, jika ibu sering melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti menggunjing, berbohong dan berkata kasar, anak-anak pun akan dengan mudah meniru hal-hal negatif tersebut. Seperti halnya istri Nabi Nuh, yang berhasil mendidik anaknya untuk tetap berada dalam kekafiran, mendurhakai Allah SWT dan menolak ajakan ayahnya yang mengemban risalah Ilahi. Anak Nabi Nuh tetap dalam kekafiran karena pengaruh sang ibu, yang juga tidak beriman. Hingga puncaknya, Allah SWT membinasakan mereka (istri dan anak Nabi Nuh) bersama kaum Nabi Nuh yang enggan beriman. Naudzubillah.
Tidak hanya itu, ibu juga memiliki peran besar dalam mempersiapkan anak-anaknya menjadi pemimpin masa depan. Dengan memberikan pendidikan yang baik, ibu turut membekali anak-anaknya dengan sikap, pengetahuan, dan kemandirian. Sehingga kelak, anak-anak ini dapat menjadi sosok yang membawa perubahan positif di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, urgensi kaderisasi generasi adalah bagian dari usaha menyiapkan anak-anak yang dapat membawa kebaikan bagi masyarakat, bangsa, bahkan semesta. Sebagaimana dicontohkan oleh Khadijah RA, Ummu Sulaim RA, hingga Nyai Walidah Dahlan, ibu adalah pelopor dan pelangsung dalam membangun generasi yang bertauhid, berakhlak dan berilmu yang nantinya akan menjadi pemimpin-pemimpin yang beramal shalih, bertakwa dan bijaksana. Ambil ibrah pula dari istri Nabi Nuh, jangan sampai kita menjadi ibu yang mengajak anak dan keluarga ke jurang neraka dan binasa.
Semoga para ibu dan perempuan muslimah masa kini terinspirasi untuk melanjutkan estafet perjuangan generasi terdahulu dalam membimbing dan mendidik calon generasi penerus dengan penuh kesabaran, kesungguhan, dan cinta. Wallahu alam bish-shawab. (*)
