#(Studi Kritik atas Bahasa Motivasi dan Industri Iklan)
Ungkapan “Usaha tidak akan mengkhianati hasil” merupakan salah satu diksi motivatif yang sangat populer di tengah masyarakat. Kalimat ini kerap dijadikan semboyan penyemangat, baik dalam dunia pendidikan, kerja, maupun bisnis. Bahkan, dalam praktiknya, diksi semacam ini juga pernah digunakan sebagai narasi promosi oleh salah satu produk rokok, untuk menanamkan kesan bahwa kerja keras, keberanian, dan perjuangan hidup akan selalu berujung pada keberhasilan.
Namun, dalam Islam, bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga cermin akidah. Oleh karena itu, penting untuk menelaah diksi semacam ini: apakah ia selaras dengan prinsip tauhid dan qadha-qadar, atau justru mengandung problem makna yang perlu dikritisi.
Makna dan Daya Tarik Diksi Motivatif
Secara kebahasaan, kalimat “Usaha tidak akan mengkhianati hasil” menyiratkan hubungan sebab-akibat yang pasti dan mutlak antara usaha dan keberhasilan. Diksi ini terasa kuat karena:
1. Memberikan optimisme instan
2. Menumbuhkan mental pantang menyerah
3. Mudah diterima oleh nalar modern yang menekankan produktivitas
Inilah sebabnya mengapa dunia periklanan—termasuk industri rokok—memanfaatkan kalimat semacam ini. Dalam iklan, usaha digambarkan sebagai keberanian, petualangan, maskulinitas, dan kerja keras; sementara hasil divisualisasikan sebagai kebebasan, pengakuan, dan kepuasan hidup. Di titik ini, diksi motivatif berfungsi bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai pembentuk cara pandang hidup.
Kritik Akidah Islam terhadap Makna Absolut
1. Usaha dalam Islam: Sebab, Bukan Penentu
Dalam akidah Islam, usaha (ikhtiar) adalah kewajiban hamba, tetapi hasil sepenuhnya berada dalam kehendak Allah ﷻ. Menjadikan usaha sebagai penentu mutlak hasil berpotensi bertentangan dengan tauhid rububiyah.
Allah berfirman:
وَاللَّهُ يَفْعَلُ مَا يَشَاءُ
“Dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Ibrāhīm: 27)
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada kepastian hasil kecuali dengan izin Allah. Oleh sebab itu, ungkapan “tidak akan mengkhianati” mengandung absolutisme yang secara akidah tidak sepenuhnya tepat.
2. Antara “Hasil” dan “Nilai Usaha”
Al-Qur’an membedakan antara:
Hasil duniawi (yang bisa tercapai atau gagal)
Nilai usaha (yang pasti dicatat dan dibalas)
Allah berfirman:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah ia usahakan.” (QS. An-Najm: 39)
Para mufassir menjelaskan bahwa ayat ini tidak menjamin keberhasilan duniawi, melainkan menjamin keadilan balasan atas usaha. Dengan demikian, usaha bisa saja tidak menghasilkan apa yang diinginkan, namun tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Keteladanan Nabi ﷺ: Usaha Tidak Selalu Berujung Kemenangan
Sejarah Nabi ﷺ justru memperlihatkan bahwa:
Usaha maksimal tidak selalu identik dengan kemenangan langsung
Namun tetap bernilai tinggi di sisi Allah
Contoh nyata:
• Perang Uhud: kaum Muslimin telah berusaha, tetapi mengalami kekalahan secara strategi
• Dakwah di Ṭā’if: perjuangan besar tanpa hasil instan
Namun Allah tetap memuliakan perjuangan tersebut dan menjadikannya bagian dari hikmah besar risalah Islam.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجِزْ
“Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim)
Hadits ini menyeimbangkan antara usaha dan ketergantungan kepada Allah, bukan usaha yang berdiri sendiri.
Kritik terhadap Penggunaan dalam Industri Iklan
Ketika diksi “Usaha tidak akan mengkhianati hasil” digunakan dalam promosi rokok, muncul beberapa problem serius:
1. Reduksi Makna Usaha
Usaha direduksi menjadi gaya hidup berisiko, bukan amal bernilai moral.
2. Pengaburan Nilai Hasil
“Hasil” divisualisasikan sebagai kepuasan sesaat, padahal produk tersebut secara medis dan syar’i membawa mudarat.
3. Eksploitasi Psikologi Akidah Umum
Diksi yang seolah netral dan positif digunakan untuk menormalisasi sesuatu yang secara maqāṣid al-syarī‘ah bertentangan dengan penjagaan jiwa (ḥifẓ al-nafs).
Allah berfirman:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.”
(QS. Al-Baqarah: 195)
Formulasi Diksi yang Lebih Selamat Aqidah
Islam tidak menolak motivasi, tetapi meluruskan orientasinya. Beberapa diksi alternatif yang lebih sesuai dengan aqidah:
“Usaha adalah kewajiban, hasil di tangan Allah.”
“Tidak ada usaha yang sia-sia di sisi Allah.”
“Allah tidak menyia-nyiakan jerih payah hamba-Nya.”
Dalilnya:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
(QS. At-Taubah: 120)
Kalimat “Usaha tidak akan mengkhianati hasil” mungkin efektif sebagai slogan motivasi, namun tidak cukup presisi secara aqidah Islam. Terlebih ketika digunakan dalam industri iklan termasuk rokok diksi ini berpotensi menanamkan pandangan hidup yang menyingkirkan peran Allah dan mengaburkan nilai maslahat–mafsadat.
Islam mengajarkan keseimbangan luhur:
Berusaha adalah ibadah, hasil adalah takdir, dan nilai usaha pasti dibalas oleh Allah.
Dengan ketelitian bahasa dan akidah, umat Islam tidak hanya menjadi pekerja keras, tetapi juga hamba yang sadar tauhid.
Referensi Singkat:
- Al-Qur’an al-Karim
- Muslim bin al-Ḥajjāj, Ṣaḥīḥ Muslim
- Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm
- Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn
- Yūsuf al-Qaraḍāwī, Fiqh al-Maqāṣid
