*)Oleh: Ubaidillah Ichsan, S. Pd
Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jombang
“Remember that life is temporary, then do good and leave a useful trail”
(“Ingatlah bahwa hidup ini sementara, maka berbuat baiklah dan tinggalkan jejak yang bermanfaat)”
Setiap makhluk yang bernyawa di dunia ini pasti akan mengalami dua fase kehidupan yang tak terhindarkan: kelahiran dan kematian. Di antara kedua titik ini terbentang sebuah garis waktu yang kita kenal sebagai usia atau umur. Usia merupakan periode di mana individu tumbuh, berkembang, belajar, dan berinteraksi dengan lingkungannya. Namun, seiring berjalannya waktu, kekuatan fisik akan menurun, dan tibalah saatnya kematian menjemput.
Kematian adalah akhir dari kehidupan di dunia fana ini. Ia merupakan sebuah gerbang menuju alam yang berbeda, sebuah misteri yang senantiasa menyelimuti benak manusia. Meskipun seringkali dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, kematian adalah sebuah kepastian yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta bagi setiap jiwa.
Dalam Islam, usia dan ajal (batas waktu kematian) telah ditentukan oleh Allah SWT. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kapan dan di mana ajalnya akan tiba. Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya,
وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya:
“Dan bagi setiap umat ada ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat menunda atau mempercepatnya walau sesaat pun.”(Qs. Al-A’raf: 34)
Ayat ini menjelaskan bahwa setiap umat atau individu memiliki batas waktu kehidupan yang telah ditentukan. Ketika waktu tersebut tiba, tidak ada kekuatan apa pun yang dapat menunda atau mempercepatnya.
Selain itu, dalam Al-Qur’an juga disebutkan tentang proses penciptaan manusia yang melalui berbagai tahapan hingga mencapai usia tertentu, kemudian Allah SWT mewafatkannya,
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ* ثُمَّ إِنَّكُمْ بَعْدَ ذَٰلِكَ لَمَيِّتُونَ
Artinya:
“Kemudian Kami menciptakan air mani menjadi segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu pasti mati.”(Qs. Al-Mu’minun: 14-15)
Ayat ini menegaskan bahwa setelah melalui proses kehidupan yang telah ditentukan, setiap manusia pasti akan mengalami kematian.
Jadi, Usia adalah rentang waktu kehidupan yang diberikan kepada setiap individu di dunia ini, sementara kematian adalah kepastian yang akan mengakhiri perjalanan tersebut.
Dalam perspektif agama, khususnya Islam, usia dan ajal telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sebagai manusia, menyadari akan kepastian kematian seharusnya mendorong kita untuk mengisi sisa usia dengan sebaik-baiknya, beramal saleh, dan mempersiapkan diri untuk kehidupan setelah kematian. Kematian bukanlah akhir segalanya, melainkan sebuah transisi menuju kehidupan yang abadi.
Semoga bermanfaat.
