Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim: Ayo Bangga Jadi Guru Muhammadiyah

Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim: Ayo Bangga Jadi Guru Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. H.M. Solihin Fanani, MPSDM mengajak para guru di lingkungan sekolah Muhammadiyah untuk menumbuhkan rasa bangga dalam mengabdi di persyarikatan. Menurutnya, kebanggaan ini bukan didasarkan pada gaji maupun fasilitas, melainkan pada misi suci yang diemban: menyelamatkan masa depan Indonesia dan melestarikan risalah Islam di dunia.

“Mari kita bersyukur menjadi guru Muhammadiyah. Mengapa? Karena Muhammadiyah telah memberikan kita surga dunia dan akhirat — disiplin, jujur, adab yang baik, dan lingkungan yang penuh nilai Islam, serta mengemban tanggung jawab besar untuk menyelamatkan masa depan Indonesia dan melestarikan risalah Islam di dunia,” ujar Abah Shol, panggilan akrabnya, saat menyampaikan kuliah Subuh kepada peserta Bimtek Pembelajaran Mendalam, Koding AI dan Penguatan Karakter Region Bangka Belitung, Kamis (16/10/2025).

Wakil Ketua PW Muhammadiyah Jatim: Ayo Bangga Jadi Guru Muhammadiyah
Para peserta Bimtek PM Koding AI dan Penguatan Karakter Region Bangka belitung. (ist)

Dalam kesempatan itu, Abah Shol juga mengajak para guru untuk senantiasa bersyukur, karena telah mendapat amanah mulia.

“Banggalah! Karena kebanggaan dan rasa syukur inilah yang menjadi modal sukses kita sebagai guru Muhammadiyah,” ujarnya.

Abah Shol yang sukses mengantarkan SD Muhammadiyah 4 (Mudipat) Surabaya meraih penghargaan sebagai sekolah teladan nasional menegaskan, menjadi guru Muhammadiyah bukan sekadar profesi. Tetapi merupakan panggilan dakwah dan jihad pendidikan. Menurutnya, tugas guru Muhammadiyah lebih dari sekadar mencerdaskan anak atau mencari nafkah.

“Kalau sekadar membuat anak pintar, banyak sekolah yang lebih hebat. Kalau sekadar mencari uang, banyak lembaga yang lebih besar. Namun kita di Muhammadiyah memiliki misi suci — mencetak generasi beriman, bertakwa, berakhlak mulia, cakap, percaya diri, cinta tanah air, dan berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara. Maka kita harus serius dengan profesi ini,” tegasnya.

Untuk mengemban misi besar tersebut, lanjut Abah Shol, tentu tidak tidak. Dibutuhkan kesiapan mental yang kuat. Ia pun mengingatkan tentang dua penyakit guru yang obatnya hanya bisa ditemukan dalam diri masing-masing.

Ora ono doktere, ora ono obate, obate lan doktere awake dewe dewe. Ada dua penyakit yang tidak ada dokter dan obatnya, kecuali dari diri kita sendiri, yaitu malas dan lupa. Dua penyakit ini sering kali datang tanpa disadari, namun mampu mematikan semangat, merusak cita-cita, bahkan memadamkan cahaya iman,” tandasnya.

Untuk itu, ia mengajak para guru menjadikan doa yang diajarkan Rasulullah SAW sebagai amalan harian untuk mengusir rasa malas:

Allahumma innī a’ūdzubika minal-‘ajzi wal-kasali, wa a’ūdzubika minal-jubni wal-bukhli, wa a’ūdzubika min ghalabatid-daini wa qahrir-rijāl.

Artinya:
Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan. Aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan utang dan tekanan manusia.

Ia menegaskan bahwa doa ini bukan sekadar ucapan lisan, melainkan harus menjadi gerakan hati dan tekad jiwa untuk bangkit, bersemangat, dan berjuang.

Selain itu, Abah Shol juga menekankan pentingnya guru Muhammadiyah memiliki empat “T” sebagai landasan dalam menjalankan tugasnya:

  • Tilawah – Membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.
  • Tazkiyah – Mensucikan jiwa, membentuk karakter yang bersih dari penyakit hati.
  • Ta’līm – Mengajarkan ilmu dengan cinta dan keteladanan.
  • Tauhid – Meneguhkan keesaan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

“Mari ilmu iki sitik-sitik dieling-eling, sitik-sitik dilakoni (mari ilmu ini sedikit demi sedikit diingat-ingat, dan sedikit demi sedikit diamalkan),” ujarnya.

Menutup pesannya, Abah Shol kembali mengingatkan pentingnya menghilangkan rasa malas dan lupa, serta memperkuat niat dan semangat dalam mendidik.

“Jadikan doa Rasulullah sebagai amalan harian. Perkuat niat dan semangat menjadi guru Muhammadiyah yang tidak hanya mengajar, tetapi mendidik dan menyelamatkan masa depan umat dan bangsa.”

“Semoga Allah SWT senantiasa meneguhkan langkah kita, menjadikan kita guru yang ikhlas, penuh semangat, dan selalu dalam bimbingan-Nya,” pungkasnya. (astajab/pujiono)

Tinggalkan Balasan

Search