Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, KH Dr Sholihin Fanani, MPSDM menegaskan bahwa dakwah Muhammadiyah harus berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Dakwah tidak boleh berhenti pada aspek seremonial dan simbolik semata, melainkan harus mampu menghadirkan keberpihakan nyata kepada martabat manusia.
Penegasan tersebut disampaikan KH Dr Sholihin Fanani—yang akrab disapa Abah Shol—di hadapan para peserta Akademi Mubaligh Muhammadiyah (AMM) III yang diselenggarakan oleh Majelis Tabligh PWM Jawa Timur di Tulungagung, Sabtu (13/12/2025). Dalam kesempatan itu, Abah Shol menyampaikan materi bertajuk Paradigma dan Metodologi Dakwah Muhammadiyah.
“Jadi dakwah Muhammadiyah harus mampu memanusiakan manusia sebagai manusia layaknya manusia yang harus dimanusiakan sebagai manusia,” ujar Abah Shol di hadapan para mubaligh yang hadir.
Menurutnya, prinsip memanusiakan manusia merupakan ruh utama dakwah Muhammadiyah sejak awal berdirinya. Karena itu, ia mengingatkan para mubaligh agar tidak tergoda menggunakan cara atau metode dakwah yang justru merendahkan nilai-nilai kemanusiaan. Dakwah yang mengabaikan aspek kemanusiaan, tegasnya, berpotensi menimbulkan kegelisahan sosial dan kontroversi di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, para dai Muhammadiyah dituntut untuk lebih bijak, santun, dan berempati dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan, sehingga dakwah benar-benar menjadi sarana pencerahan dan pembebasan, bukan sumber perpecahan.
Dalam paparannya, Abah Shol juga menguraikan sejumlah kriteria yang menjadikan makhluk hidup layak disebut sebagai manusia seutuhnya.
“Manusia harus berakal dan berbudi atau berakhlak, punya sifat welas asih, mudah memberi, peduli penderitaan orang lain. Yang ketiga manusia itu disebut layaknya menusia kalau memiliki jiwa pengorbanan,” jelasnya.
Nilai-nilai tersebut, lanjutnya, sejalan dengan tujuan utama berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan. Muhammadiyah didirikan dengan cita-cita membentuk masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, yakni masyarakat yang berpedoman pada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah.
Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Muhammadiyah menempuh sejumlah langkah strategis, yaitu memerangi kebodohan, memerangi kemiskinan, memurnikan ajaran Islam, serta membentuk manusia seutuhnya yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia.
Dalam kesempatan yang sama, Abah Shol juga mengingatkan para kader sekaligus dai Muhammadiyah agar memahami dan menginternalisasi cita-cita besar KH Ahmad Dahlan untuk bangsa Indonesia. Cita-cita tersebut antara lain menjadikan seluruh sendi kehidupan bersandar pada ajaran Islam, menyejahterakan masyarakat lahir dan batin, mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, serta mengantarkan umat menuju keselamatan di dunia dan akhirat.
Melalui Akademi Mubaligh Muhammadiyah ini, Abah Shol berharap para dai Muhammadiyah mampu menjadi pelopor dakwah yang mencerahkan, membebaskan, dan memuliakan manusia, sekaligus tetap setia pada nilai-nilai Islam yang berkemajuan.
Sebanyak 60 peserta mengikuti AMM Zona Dakwah Jaya Baya, yang meliputi Kabupaten Tulungagung, Blitar Raya, Kediri Raya dan Kabupaten Trenggalek. Mereka digembleng selama 3 hari di Joglo Muhammadiyah Boarding School 2 Tulungagung, Jl. Ki Mangun Sarkoro, Dusun Krajan, Beji, Kecamatan Boyolangu. (suyono)
