Waktunya Muhammadiyah Investasi di Tanah Suci

Waktunya Muhammadiyah Investasi di Tanah Suci
www.majelistabligh.id -

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, mendorong para pelaku usaha Persyarikatan untuk mengambil langkah berani dengan menggarap sektor bisnis haji dan umrah secara mandiri. Langkah strategis ini dinilai krusial guna memperkuat kemandirian ekonomi sekaligus ekosistem pelayanan jemaah di Tanah Suci.

Dorongan tersebut disampaikan Muhadjir dalam forum Silaturahmi Nasional Pelaku Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Muhammadiyah di Yogyakarta, Ahad (25/10/2026). Mengutip pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, ia mengingatkan agar para pelaku ekonomi Persyarikatan senantiasa berorientasi pada aksi nyata.

“Pelaku ekonomi Muhammadiyah itu jangan banyak pendapat, tapi harus fokus mencari pendapatan. Jangan berhenti pada diskusi, tetapi wujudkan menjadi usaha yang produktif,” tegas Muhadjir.

Sinergi LPEK dan LHU: Investasi Hotel di Makkah

Dalam paparannya, Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji ini merinci peluang besar yang dapat dieksekusi. Salah satunya adalah penguatan ekosistem haji dan umrah mandiri melalui kolaborasi antara Lembaga Pengembang UMKM dan Ekonomi Kreatif (LPEK) dengan Lembaga Haji dan Umrah (LHU) Muhammadiyah.

Muhadjir mengusulkan agar kedua lembaga tersebut menjalin kerja sama strategis untuk melakukan investasi jangka panjang di sekitar pusat ibadah umat Islam dunia.

“LPEK dan LHU bisa bekerja sama menyewa jangka panjang, sekitar 20 tahun, atau bahkan membeli tower hotel berkapasitas besar yang berjarak 300 hingga 500 meter dari Masjidil Haram,” jelasnya.

Selain sektor haji dan umrah, Muhadjir turut menyoroti potensi pengembangan wisata sejarah di Yogyakarta sebagai kota kelahiran Muhammadiyah. Menurutnya, situs-situs bersejarah Persyarikatan perlu dikemas menjadi destinasi wisata edukasi yang terintegrasi dengan mata pelajaran Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK).

“Jadikan Yogyakarta sebagai pusat wisata pendidikan sejarah Muhammadiyah. Dengan begitu, pelajar dapat mengalami langsung perjalanan sejarah organisasi, tidak hanya di dalam kelas,” usulnya.

Pada aspek kultural, ia juga mengingatkan pentingnya narasi sejarah yang independen untuk membangun kepercayaan diri bangsa, serta menepis stigma masa lalu akibat manipulasi kolonial.

“Di Muhammadiyah, kita tidak boleh merasa sebagai bangsa yang ‘kalahan’. Tulislah sejarah dengan narasi yang baik dan tunjukkan bahwa Muhammadiyah itu hebat,” pungkasnya menutup arahan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search