Wamendikdasmen Tegaskan Pentingnya Ketangguhan Santri Menghadapi Zaman

Wamendikdasmen Fajar Riza Ul Haq, menerima kenang kenangan dari panitia sarasehan. (ist)
www.majelistabligh.id -

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa pondok pesantren merupakan wadah utama dalam membentuk ketangguhan (resiliensi) dan karakter generasi muda. Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, melainkan seberapa kuat ia bertahan dan bangkit saat menghadapi tekanan.

Hal tersebut disampaikannya dalam Sarasehan Pendidikan di Pondok Pesantren Modern Muhammadiyah Sangen, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (24/10/2026).

“Yang menentukan kesuksesan seseorang adalah resiliensi, atau ketangguhan untuk bertahan di tengah tekanan dan bangkit kembali saat jatuh,” ujar Fajar di hadapan para peserta sarasehan.

Mengenang masa mudanya, Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menceritakan pengalamannya ditempa selama sepuluh tahun di berbagai pesantren.

“Sebagian besar hidup saya dihabiskan di pesantren, berpindah dari satu kota ke kota lain sejak jenjang tsanawiyah hingga kuliah. Kondisi pesantren saat ini tentu jauh lebih baik ketimbang dulu,” kenangnya.

Karakter sebagai Fondasi Utama di Era AI

Fajar menekankan bahwa pembentukan karakter merupakan keterampilan dasar (foundational skill) yang sangat krusial, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

“Karakter menjadi fondasi penting ketika kita memanfaatkan AI. Penggunaan teknologi harus disertai rasa tanggung jawab, dan nilai-nilai itulah yang ditanamkan di pesantren,” jelasnya.

Ia mengutip hadis Nabi Muhammad saw mengenai misi penyempurnaan akhlak (Innama bu’itsu li utammima makarimal akhlaq) sebagai roh utama dari seluruh proses pendidikan di pesantren.

Di hari yang sama, Wamendikdasmen turut berkunjung dan berdialog dengan para santriwati di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an Muhammadiyah Atmo Wahjono, yang terintegrasi dengan SMK Muhammadiyah Watukelir.

Suasana hangat dan cair mewarnai dialog ketika Fajar menanyakan rencana para santri setelah lulus.

“Setelah lulus mau kerja atau kuliah?” tanya Fajar.

“Kuliah,” jawab salah satu santriwati.

“Kuliah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) saja, saya juga alumni UMS,” selorohnya yang disambut tawa peserta dialog.

Menutup kunjungannya, Fajar mengapresiasi model pesantren berbasis vokasi di Kecamatan Weru tersebut. Ia menilai penggabungan tahfiz dan keterampilan vokasional sebagai terobosan penting yang perlu terus didukung agar lulusannya mampu berkiprah luas di masyarakat. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search