Kalimat diatas, sering beredar—kadang serius, kadang setengah bercanda, kadang jadi bahan meme pengajian. Secara ilmiah-teologis, klaim ‘jaminan surga’ tentu tidak sesederhana punya kartu anggota Muhammadiyah. Namun, menariknya, jika ditelusuri dengan kacamata ilmu, syariat, dan sedikit canda, ada reason why, kenapa koq ada ungkapan itu.
Muhammadiyah sejak awal berdiri membawa DNA pemikiran yang khas: tauhid murni, rasionalitas, dan amal nyata. Dalam ilmu perilaku (behavioral science), keselamatan—duniawi maupun ukhrawi—tidak pernah dilekatkan pada identitas, melainkan pada pola hidup konsisten. Nah, di sinilah ‘jaminan’ itu mulai punya makna simbolik, bukan administratif.
Tauhid yang ‘bersih’ dan efek psikologisnya
Muhammadiyah menekankan pemurnian tauhid: menyembah Allah tanpa perantara ritual yang tidak berdalil kuat. Dalam psikologi agama, kejelasan orientasi ibadah ini mengurangi cognitive dissonance—konflik batin antara keyakinan dan praktik. Orang yang ibadahnya jelas, rasional, dan tidak memberatkan cenderung lebih stabil emosinya. Surga memang urusan akhirat, tapi ketenangan batin adalah ‘preview’-nya.
Ibadah rasional = kepatuhan berkelanjutan
Ilmu kesehatan perilaku menunjukkan bahwa praktik yang rasional dan terstruktur lebih mudah dipertahankan untuk jangka panjang. Muhammadiyah—dengan manhaj tarjih—mendorong ibadah yang bisa dipahami akal, bukan sekadar diwarisi. Hasilnya? Kepatuhan yang sustainable. Dalam bahasa awam: ibadahnya jalan terus, bukan musiman. Kalau amal konsisten itu syarat surga, maka ‘jaminan’ tadi punya basis logis—tentu tanpa stempel resmi.
Amal sosial: pahala yang ‘terukur’
Rumah sakit, sekolah, panti asuhan, layanan bencana—ini bukan sekadar amal, tapi amal berdampak. Dalam ilmu kebijakan publik, dampak sosial yang luas meningkatkan collective well-being. Dalam teologi Islam, manfaat luas bernilai pahala jariyah. Jadi, kalau ada warga Muhammadiyah wafat, pahalanya masih ‘kerja lembur’ lewat amal institusi. Kalau surga dihitung dari impact, ini sudah seperti portofolio investasi akhirat.
Disiplin, tepat waktu, dan sunnah yang ‘efisien’
Budaya tepat waktu, shaf lurus, khutbah ringkas—ini terdengar sepele, tapi dalam sosiologi agama, disiplin kolektif meningkatkan kualitas moral komunitas. Surga memang bukan soal efisiensi, tapi Allah mencintai keteraturan. Humor internal sering bilang: “Masuk surga lewat jalur cepat—tanpa macet bid’ah”, bercanda…off course. Tapi pesan intinya: agama dijalani tanpa drama.
Lalu, benarkah dijamin?
Secara teologis, tidak ada jaminan surga berbasis ormas. Yang ada adalah janji Allah bagi orang beriman dan beramal saleh. Namun secara ilmiah-sosiologis, ekosistem Muhammadiyah mendorong perilaku yang statistically favorable menuju kriteria tersebut: iman rasional, ibadah konsisten, dan amal berdampak.
So, warga Muhammadiyah tidak ‘dijamin’ masuk surga karena nama organisasinya. Tapi jika nilai-nilai Muhammadiyah dijalani dengan istiqamah, maka peluang memenuhi syarat-syarat surga—secara iman, amal, dan akhlak—menjadi sangat besar. Endingnya, dimasukkan surga, atas ijin dan rahmat Allah.
Jadi, kalau ada yang bilang ‘Muhammadiyah dijamin surga,’ anggap saja itu lelucon cerdas: bukan klaim tiket VIP, melainkan pengingat agar hidup lurus, kerja nyata, dan ibadah masuk akal. (*)
