Wayang Dakwah di Malam Ramadan: Ketika Generasi Muda Menghidupkan Syiar Islam Berkemajuan di Karanglewas, Banyumas

Wayang Dakwah di Malam Ramadan: Ketika Generasi Muda Menghidupkan Syiar Islam Berkemajuan di Karanglewas, Banyumas
*) Oleh : Tarqum Aziz, SHI, M.Pd
Ketua Umum PC IPM Purwokerto Periode 1998-2000
www.majelistabligh.id -

Malam Ramadan selalu memiliki cara tersendiri untuk menghadirkan kehangatan. Namun pada Sabtu malam (14/3/2026), suasana di halaman Masjid Baitul Hikmah, Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas terasa lebih hidup dari biasanya. Lampu-lampu menerangi panggung sederhana, suara hadroh mengalun, dan ratusan warga berkumpul dalam satu tujuan: menyaksikan dakwah yang hadir melalui budaya.

Di tempat itulah Pekan Dakwah Ramadan yang diselenggarakan oleh SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto mencapai puncaknya. Penutup kegiatan tidak hanya berupa pengajian, tetapi sebuah pagelaran yang menyatukan syiar Islam dengan kearifan lokal: penampilan HadrohMu dan Wayang 1 Jaman.

Bagi masyarakat Karanglewas, malam itu bukan sekadar tontonan. Ia menjadi ruang perjumpaan antara dakwah, budaya, dan semangat generasi muda.

Dakwah yang Hidup di Tengah Masyarakat
Selama sepekan penuh, sejak 9 hingga 14 Maret 2026, sebanyak 38 siswa SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto tidak hanya belajar di ruang kelas. Mereka turun langsung ke masyarakat di tujuh ranting Muhammadiyah di wilayah Pimpinan Cabang Muhammadiyah Karanglewas yakni Karanglewas Kidul, Pasir Wetan, Karanggude, Karangkemiri, Margasari, Singasari, dan Damaraja.

Di sana mereka belajar makna dakwah yang sesungguhnya. Mereka menjadi imam salat tarawih di masjid dan musala. Mereka mengajar anak-anak di TPQ. Mereka membantu kegiatan pendidikan di sekolah dasar dan madrasah. Mereka berbincang dengan warga, belajar memahami kehidupan masyarakat, dan merasakan langsung denyut dakwah di tingkat akar rumput.

Ketua panitia kegiatan, KH. Sugeng, S.Ag, MPd menegaskan, Pekan Dakwah Ramadan bukan sekadar program kegiatan, tetapi proses pembentukan karakter.

“Para siswa kami dorong untuk belajar langsung dari masyarakat. Mereka berdakwah, menjadi imam salat tarawih di 17 masjid dan musala, mengajar di TPQ, serta membantu kegiatan pendidikan. Dari situ mereka belajar arti pengabdian,” ujarnya.

Dakwah yang dilakukan para siswa tidak berhenti pada ceramah. Ia hadir dalam bentuk kepedulian sosial. Bazar murah digelar untuk membantu masyarakat mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Sebanyak 130 paket sembako juga dibagikan kepada warga di tujuh ranting Muhammadiyah di wilayah Karanglewas. Di situlah dakwah menemukan maknanya: hadir, membantu, dan menguatkan masyarakat.

Ketika Dakwah Menyatu dengan Budaya
Puncak kegiatan malam itu adalah pagelaran Wayang 1 Jaman yang dibawakan oleh Ustdaz Dalang Imam Suyanto, SAg, MPd yang juga menjabat sebagai Kepala SMA Muhammadiyah 1 Purwokerto.
Melalui lakon-lakon kehidupan yang dibungkus dalam cerita wayang, pesan-pesan dakwah disampaikan dengan cara yang akrab dengan masyarakat Jawa. Nilai-nilai Islam disampaikan bukan dengan jarak, tetapi dengan bahasa budaya yang dekat dengan keseharian.

Wayang malam itu bukan sekadar seni pertunjukan. Ia menjadi media dakwah yang menyentuh hati. Dalam setiap dialog dan cerita, terselip pesan tentang kejujuran, kepemimpinan, pengabdian, dan tanggung jawab manusia sebagai hamba Allah. Bagi masyarakat yang hadir, dakwah malam itu terasa ringan namun penuh makna

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Karanglewas, H.Nardjo, S.Pd.I menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kehadiran para siswa yang telah menghidupkan kegiatan dakwah di wilayah Karanglewas. Menurutnya, selama sepekan kehadiran para siswa memberikan semangat baru bagi masyarakat.

“Kami sangat bersyukur dan bangga. Kehadiran para siswa ini bukan hanya membantu kegiatan dakwah, tetapi juga memberi inspirasi bagi masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai kemampuan para siswa dalam mengajar di TPQ, menjadi imam salat, hingga menyampaikan kultum menunjukkan bahwa proses kaderisasi di lingkungan sekolah berjalan dengan baik. Bagi Muhammadiyah, kaderisasi bukan hanya tentang pendidikan formal, tetapi tentang menyiapkan generasi yang siap mengabdi kepada umat.

Bagi para siswa, Pekan Dakwah Ramadan bukan sekadar kegiatan tahunan. Ia adalah pengalaman hidup yang membentuk kepekaan sosial, keberanian berdakwah, dan semangat kepemimpinan.
Mereka belajar bahwa dakwah tidak selalu harus melalui mimbar besar. Dakwah bisa hadir melalui pengajaran di TPQ, melalui kepedulian sosial, melalui senyum kepada masyarakat, bahkan melalui pertunjukan budaya seperti wayang dan hadroh.

Di malam penutupan itu, ketika suara hadroh mengalun dan cerita wayang mengalir di panggung, satu pesan terasa jelas: estafet dakwah tidak pernah berhenti. Ia terus bergerak dari generasi ke generasi. Dan di Halaman Masjid Baitul Hikmah Karanglewas Kidul, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas malam itu, estafet itu sedang berpindah ke tangan generasi muda yang siap melanjutkan perjuangan dakwah Islam Berkemajuan, dakwah yang menggembirakan, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search