Setiap pagi, jutaan orang berangkat kerja dengan satu hal yang sama: rela “membakar hidupnya” di jalan. Bukan sekadar bahan bakar minyak, tetapi juga waktu, tenaga, bahkan kejernihan pikiran.
Di Jakarta dan kawasan penyangganya, kemacetan bukan lagi peristiwa—ia telah menjadi rutinitas yang diam-diam menggerus kualitas hidup. Pertanyaannya: sampai kapan kita menganggap ini sebagai kewajaran?
Bagi dosen dan tenaga kependidikan di lingkungan Muhammadiyah, khususnya di DKI Jakarta dan Jabodetabek, realitas ini sangat nyata. Hari dimulai sebelum matahari terbit, berpacu dengan waktu, berganti moda transportasi, lalu pulang saat energi hampir habis. Semua itu dijalani lima hingga enam hari dalam sepekan.
Dalam ritme seperti ini, kerja sering kali menjadi sekadar kewajiban administratif, bukan lagi ruang pengabdian yang penuh makna. Padahal, jika dihitung secara sederhana, biaya yang dikeluarkan tidak kecil. Rata-rata pengeluaran transportasi harian berada pada kisaran Rp60.000 hingga Rp70.000 perorang. Angka ini setara dengan pembakaran sekitar 5–6 liter BBM setiap hari.
Dalam sebulan, satu individu dapat menghabiskan sekitar 100 liter BBM hanya untuk perjalanan kerja. Ini belum termasuk “biaya tak terlihat”: kelelahan, stres, dan berkurangnya waktu bersama keluarga.
Di titik inilah, gagasan Work From Home (WFH) satu hari dalam sepekan—khususnya pada hari Jumat—menjadi relevan, bahkan mendesak.
Efisiensi Nyata, Bukan Sekadar Wacana
Dengan WFH satu hari perminggu, setiap individu berpotensi menghemat sekitar 20–24 liter BBM per bulan. Secara ekonomi, ini setara dengan Rp240.000 hingga Rp280.000. Sekilas terlihat kecil, tetapi menjadi signifikan ketika dihitung secara kolektif.
Jika diasumsikan terdapat sekitar 2.000 dosen dan tenaga kependidikan di perguruan tinggi Muhammadiyah di DKI Jakarta, maka potensi penghematan mencapai sekitar 40.000 liter BBM perbulan.
Dalam nilai rupiah, angkanya mendekati Rp500 juta setiap bulan. Ini bukan sekadar efisiensi—ini adalah pengelolaan sumber daya yang lebih bijak.
Dampak ekologisnya pun tidak bisa diabaikan. Dengan asumsi satu liter BBM menghasilkan sekitar 2,3 kg emisi karbon, kebijakan sederhana ini berpotensi mengurangi emisi hingga 92 ton CO₂ per bulan.
Dalam konteks krisis iklim global, langkah kecil seperti ini memiliki arti besar. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari kebijakan raksasa, tetapi bisa dari keputusan sederhana yang konsisten.
Mengembalikan Waktu kepada Fitrahnya
Namun, manfaat terbesar WFH bukan pada angka-angka itu. Yang lebih mendasar adalah pengembalian waktu kepada manusia. Rata-rata waktu tempuh komuter Jabodetabek berkisar antara 2 hingga 4 jam per hari. Dengan WFH satu hari, setiap individu dapat menghemat sekitar 8–16 jam perbulan. Waktu yang sebelumnya habis di jalan kini kembali ke ruang kehidupan yang lebih bermakna.
Ketika hari itu adalah Jumat, maknanya menjadi jauh lebih dalam. Jumat dalam Islam adalah sayyidul ayyam, penghulu segala hari. Ia bukan sekadar penanda akhir pekan, tetapi momentum spiritual yang menghadirkan jeda dari hiruk-pikuk dunia. Di dalamnya ada shalat Jumat—ibadah yang bukan hanya ritual, tetapi juga ruang pembinaan umat, penguatan ukhuwah, dan penyegaran orientasi hidup.
WFH pada hari Jumat memberi ruang bagi umat untuk “menghidupi” ibadah ini, bukan sekadar “mengejarnya”. Tidak lagi terburu-buru karena kemacetan, tidak lagi datang dengan pikiran yang terpecah. Sebaliknya, hadir dengan kesiapan ruhani yang lebih utuh.
Bahkan, waktu sebelum dan sesudahnya dapat diisi dengan amalan sunnah: membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalawat, atau memperdalam ilmu agama. Ini adalah kemewahan waktu yang sering hilang dalam sistem kerja konvensional.
Jika kita melihat praktik di sejumlah negara Muslim seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, hari Jumat mendapatkan perhatian khusus dalam sistem kerja. Memang, Indonesia memiliki konteks berbeda. Namun, semangatnya sama: bagaimana sistem kerja tidak memutus, tetapi justru menguatkan hubungan manusia dengan Tuhannya.
Keluarga sebagai Basis Dakwah
WFH Jumat juga membuka ruang yang lebih luas bagi keluarga. Selama ini, banyak keluarga hanya bertemu dalam kondisi lelah—orang tua pulang dengan energi tersisa, anak-anak sudah bersiap tidur. Interaksi yang terjadi pun minim makna.
Dengan WFH, terutama di hari Jumat, ada ruang untuk makan siang bersama, berbincang santai, atau sekadar hadir secara utuh. Di sinilah dakwah menemukan bentuknya yang paling nyata: keteladanan dalam keseharian.
Anak-anak tidak hanya mendengar tentang agama, tetapi melihat bagaimana agama dihidupi. Mereka menyaksikan orang tuanya meluangkan waktu untuk salat, membaca Al-Qur’an, dan tetap bekerja dengan penuh tanggung jawab. Ini adalah pendidikan yang tidak tergantikan oleh ceramah apa pun.
Kekhawatiran bahwa WFH menurunkan produktivitas perlu dilihat secara proporsional. Dalam dunia akademik, banyak pekerjaan justru membutuhkan ruang sunyi: menulis, membaca, meneliti, dan menganalisis.
WFH memberikan kondisi ideal untuk itu. Tanpa gangguan administratif yang berlebihan, dosen dapat lebih fokus menghasilkan karya ilmiah, buku, atau inovasi pembelajaran.
Dengan manajemen yang baik, produktivitas bukan hanya terjaga, tetapi justru meningkat kualitasnya. Tentu, ini mensyaratkan perubahan paradigma: dari sekadar mengukur kehadiran fisik menjadi menilai output dan kinerja.
Menuju Gerakan Efisiensi Berjamaah
Apa yang diusulkan ini bukan sekadar kebijakan teknis, tetapi embrio dari gerakan yang lebih besar: gerakan efisiensi berjamaah.
Muhammadiyah memiliki jaringan amal usaha yang luas, termasuk perguruan tinggi. Jika kebijakan WFH satu hari ini diadopsi secara sistematis, dampaknya akan melampaui individu—ia menjadi kontribusi nyata organisasi terhadap efisiensi energi nasional dan pelestarian lingkungan.
Lebih jauh, ini dapat menjadi bagian dari Green Campus Movement Muhammadiyah: kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga bertanggung jawab secara ekologis dan spiritual.
WFH pada hari Jumat bukan sekadar soal bekerja dari rumah. Ia adalah ikhtiar untuk menata ulang ritme hidup: lebih hemat energi, lebih dekat dengan keluarga, dan lebih kuat dalam spiritualitas.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, kita sering lupa bahwa yang paling penting bukan sekadar kecepatan, tetapi arah. Muhammadiyah, dengan semangat tajdid yang melekat, memiliki peluang besar untuk memimpin perubahan ini. Karena pada akhirnya, kemajuan sejati bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa tepat kita memilih arah: menuju hidup yang lebih bermakna, berkelanjutan, dan diridai Allah Swt. (*)
