Zuhud Dunia dan Rida dengan Apa yang Ada

Zuhud Dunia dan Rida dengan Apa yang Ada
*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Zuhud adalah sikap mental di mana hati seseorang tidak terpaut atau diperbudak oleh dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai sarana (bukan tujuan) untuk meraih rida Allah.

Zuhud bukan berarti hidup dalam kemiskinan ekstrem, berpakaian compang-camping, atau menolak kepemilikan harta. Banyak sahabat Nabi yang kaya raya namun tetap zuhud karena harta mereka ada di genggaman tangan, bukan di dalam hati. Zuhud adalah meninggalkan segala sesuatu yang dapat melalaikan hati dari mengingat Allah.

Ada beberapa hal mendasar yang sering terlupakan saat seseorang terlalu fokus mengejar materi:

  • Sifat Dunia yang Sementara: Harta, jabatan, dan kemewahan fisik akan ditinggalkan begitu saja saat ajal menjemput.
  • Hakikat Bekal Akhirat: Bekal utama menuju akhirat bukanlah harta yang disimpan di bank, melainkan amal saleh, sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta ketakwaan.
  • Keseimbangan Hidup: Mencari nafkah dan menikmati karunia dunia tentu tidak dilarang, namun idealnya harta tersebut dijadikan alat atau sarana untuk mempermudah ibadah dan berbuat baik kepada sesama.

Berikut beberapa  hadis pengingat dari Rasulullah saw kepada orang yang mengharap  kehidupan yang abadi.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَقُوْلُ اْلعَبْدُ: مَالِى مَالِى، وَ اِنَّمَا لَهُ مِنْ مَالِهِ ثَلاَثٌ مَا اَكَلَ فَاَفْنَى، اَوْ لَبِسَ فَاَبْلَى، اَوْ اَعْطَى فَاقْتَنَى. مَا سِوَى ذلِكَ، فَهُوَ ذَاهِبٌ وَ تَارِكُهُ لِلنَّاسِ. مسلم

Dari Abu Hurairah RA ia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Manusia berkata, “Ini hartaku, ini hartaku”. Padahal sesungguhnya yang dia punyai itu hanya tiga macam, yaitu apa yang dia makan sehingga habis, atau sesuatu yang dia pakai sehingga rusak, atau harta yang dia sedekahkan sehingga menjadi tabungan. Selain dari tiga macam itu, semuanya akan hilang dan dia tinggalkan untuk orang lain”. [HR. Muslim]

Berikut adalah penjelasan dan makna dari setiap poin dalam hadis tersebut:

  1. “Apa yang dia makan sehingga habis”

Maknanya: Makanan, minuman, atau kebutuhan pokok yang Anda beli dan konsumsi akan masuk ke dalam tubuh lalu habis. Secara fisik, makanan itu tidak lagi tersisa dan akan terbuang atau lenyap, namun ia telah menjadi energi dan nutrisi bagi kehidupan Anda di dunia.

  1. “Sesuatu yang dia pakai sehingga rusak (usang)”

Maknanya: Pakaian, sepatu, kendaraan, atau rumah yang Anda beli akan mengalami keausan, kerusakan, atau menurun nilainya seiring waktu. Sekalipun Anda menjaganya dengan baik, barang-barang tersebut suatu saat akan usang dan tidak bisa dibawa mati.

  1. “Harta yang dia sedekahkan sehingga menjadi tabungan”

Maknanya: Infak, zakat, atau sedekah yang Anda keluarkan di jalan Allah. Inilah satu-satunya harta yang “tidak hilang”. Fisiknya mungkin berkurang di dunia, tetapi nilainya dipindahkan ke akhirat sebagai amal jariah atau pahala yang akan Anda panen ketika menghadap Allah.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الشِّخِّيْرِ رض قَالَ: اَتَيْتُ النَّبِيَّ ص وَ هُوَ يَقُوْلُ: اَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ، قَالَ: يَقُوْلُ ابْنُ آدَمَ: مَالِى مَالِى، وَ هَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ اِلاَّ مَا اَكَلْتَ فَاَفْنَيْتَ، اَوْ لَبِسْتَ فَاَبْلَيْتَ، اَوْ تَصَدَّقْتَ فَاَمْضَيْتَ. مسلم و الترمذى و النسائى

Dari ‘Abdullah bin Syikhkhir RA ia berkata, “Saya datang kepada Nabi saw, pada waktu itu beliau sedang membaca surat Al-Haakumut-takaatsur. Beliau bersabda, “Anak Adam mengatakan, “Ini hartaku, ini hartaku”. Padahal tidak ada untukmu hai anak Adam hartamu selain apa yang kamu makan sehingga habis, atau apa yang kamu pakai sehingga rusak, atau apa yang kamu sedeqahkan sehingga menjadi simpananmu”. [HR. Muslim, Tirmidzi dan Nasai]

Penjelasan hadis tersebut:

  1. Hakikat Harta yang Sebenarnya Hanya Ada 3

Secara filosofis dan spiritual, manusia sering menganggap seluruh aset yang ada di rekening bank, rumah mewah, tanah, atau kendaraan adalah milik mutlaknya. Padahal, jika dikaji secara mendalam:

  • Apa yang dimakan lalu habis: Makanan atau minuman yang Anda beli dengan uang Anda, setelah dikonsumsi, ia akan lenyap dan menjadi kotoran.
  • Apa yang dipakai lalu rusak/usang: Pakaian atau barang-barang yang Anda kenakan, lambat laun akan robek, usang, atau tidak bernilai lagi.
  • Apa yang disedekahkan: Inilah satu-satunya bagian harta yang hakiki dan kekal. Harta yang Anda infakkan di jalan Allah tidak hilang, melainkan disimpan sebagai investasi kebaikan yang akan Anda petik hasilnya di akhirat.
  1. Nasib Sisa Harta Lainnya

Adapun harta-harta yang ditumpuk, disimpan, atau dijaga ketat tanpa disedekahkan, hakikatnya saat pemiliknya meninggal dunia, harta tersebut akan beralih kepemilikan menjadi milik ahli waris, atau diperebutkan oleh orang lain, sementara si pemiliknya yang justru akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt.

عَنْ جَابِرٍ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص مَرَّ بِالسُّوْقِ، وَ النَّاسُ كَنَفَتَيْهِ، فَمَرَّ بِجَدْيٍ اَسَكَّ مَيِّتٍ، فَتَنَاوَلَهُ بِاُذُنِهِ ثُمَّ قَالَ: اَيُّكُمْ يُحِبُّ اَنَّ هذَا بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوْا: مَا نُحِبُّ اَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ، وَ مَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ: اَ تُحِبُّوْنَ اَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوْا: وَ اللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا لَكَانً عَيْبًا فِيْهِ ِلاَنَّهُ اَسَكُّ، فَكَيْفَ وَ هُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ: وَ اللهِ لَلدُّنْيَا اَهْوَنُ عَلَى اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ مِنْ هذَا عَلَيْكُمْ. مسلم

Dari Jabir RA bahwasanya Rasulullah saw pernah melewati sebuah pasar, sedangkan orang-orang berada di kiri-kanan beliau. Kemudian beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang telinganya perung (kecil), lalu beliau mengambilnya dengan memegang telinganya, kemudian bersabda, “Siapakah diantara kalian yang mau membeli ini dengan satu dirham?”.

Orang-orang menjawab, “Kami tidak mau menukarnya dengan sesuatu milik kami, dan akan kami apakan?”. Beliau bersabda, “Apakah kalian suka kalau bangkai ini saya berikan saja untuk kalian?” Mereka menjawab, “Demi Allah, seandainya anak kambing itu dalam keadaan hidup saja ada cacatnya karena telinganya perung, apalagi anak kambing itu sudah jadi bangkai?” Beliau bersabda, “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah di sisi Allah ‘Azza wa Jalla daripada bangkai ini di hadapan kalian”. [HR. Muslim]

Penjelasan dan Makna Hadis:

  • Kerendahan Nilai Dunia: Melalui perumpamaan bangkai anak kambing yang cacat (telinganya kecil/perung), Nabi saw menunjukkan bahwa dunia beserta segala isinya tidak memiliki harga sedikit pun di sisi Allah. Jika makhluk saja jijik, menolak, dan tidak mau menerima bangkai tersebut secara cuma-cuma, maka dunia jauh lebih hina lagi bagi Allah Swt.
  • Sifat Hina dan Fana: Dunia ini bersifat sementara, penuh dengan kekurangan, dan tidak layak untuk diagung-agungkan. Nilai dunia tidak bisa disetarakan dengan kemuliaan akhirat.
  • Peringatan dari Sifat Rakus: Hadis ini menjadi pengingat bagi manusia agar tidak terlalu ambisius, serakah, atau menghalalkan segala cara demi mengumpulkan harta dunia. Terlalu mencintai dunia dapat melalaikan seseorang dari kewajiban beribadah kepada Allah.
  • Orientasi Akhirat: Rasulullah saw mendidik para sahabat—dan umatnya—untuk menjadikan dunia sekadar sebagai jembatan atau sarana menuju akhirat, bukan sebagai tujuan akhir yang melalaikan. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search