Di tengah dunia yang semakin bising oleh suara, komentar, dan penilaian, manusia justru kian sering kehilangan adab. Media sosial menjadi panggung utama: setiap orang bebas berbicara, tetapi tidak semua ingat cara menjaga perasaan. Setiap jari terasa berkuasa, namun tidak selalu disertai kebijaksanaan hati.
Di tengah hiruk-pikuk itu, sebuah ungkapan hikmah seolah datang sebagai penyejuk jiwa:
عَامِلِ النَّاسَ بِثَلَاثٍ: إِنْ لَمْ تَنْفَعْهُمْ فَلَا تَضُرَّهُمْ، وَإِنْ لَمْ تُفْرِحْهُمْ فَلَا تُحْزِنْهُمْ، وَإِنْ لَمْ تَمْدَحْهُمْ فَلَا تَذُمَّهُمْ.
Perlakukan manusia dengan tiga hal: jika engkau tidak mampu memberi manfaat kepada mereka maka jangan menyakiti mereka; jika engkau tidak mampu membahagiakan mereka maka jangan membuat mereka sedih; dan jika engkau tidak mampu memuji mereka maka jangan mencela mereka.
Ungkapan ini sederhana, tetapi memuat etika sosial yang dalam. Ia tidak menuntut kita menjadi pahlawan bagi semua orang, tetapi setidaknya mengajarkan untuk tidak menjadi sumber luka bagi sesama.
Tidak Semua Harus Bermanfaat, Tapi Jangan Merusak
Dalam kehidupan nyata, tidak semua orang mampu memberi manfaat besar. Tidak semua bisa menolong secara materi, jabatan, atau pengaruh. Namun, Islam mengajarkan standar minimal yang sering dilupakan: jangan menyakiti.
Betapa banyak luka hari ini bukan berasal dari perbuatan besar, melainkan dari kata-kata kecil yang diucapkan tanpa empati. Sindiran halus, komentar pedas, atau candaan yang merendahkan sering dianggap sepele, padahal bisa meninggalkan bekas yang panjang di hati seseorang.
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa seorang muslim sejati adalah yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya. Artinya, jika kita belum mampu menghadirkan kebaikan, setidaknya pastikan keberadaan kita tidak menjadi sumber penderitaan.
Jika Tak Bisa Membahagiakan, Jangan Menambah Luka
Hidup tidak selalu ramah, vanyak orang berjalan sambil menanggung beban yang tidak terlihat: kegagalan, kesedihan, tekanan ekonomi, luka keluarga, hingga krisis iman. Sayangnya, di saat yang sama, lingkungan sering kali justru memperberat beban itu. Budaya membandingkan, meremehkan, dan menghakimi tumbuh subur.
Keberhasilan orang lain menjadi bahan iri, sementara kegagalan dijadikan tontonan. Padahal, ungkapan hikmah di atas mengingatkan: jika tidak mampu membahagiakan, jangan membuat sedih. Ini bukan ajakan untuk bersikap palsu atau selalu tersenyum. Ini ajakan untuk menjaga empati. Tidak semua masalah harus dikomentari, tidak semua perbedaan harus diperdebatkan, dan tidak semua kesalahan harus diumbar.
Jika Tak Bisa Memuji, Jangan Mencela
Inilah bagian yang paling relevan dengan zaman digital. Budaya mencela tumbuh subur karena dianggap bebas risiko. Kritik sering berubah menjadi hujatan, dan nasihat berubah menjadi penghakiman. Padahal, mencela jauh lebih mudah daripada membangun. Menghancurkan reputasi lebih cepat daripada menanam kebaikan. Ungkapan ini mengajarkan keseimbangan batin: diam lebih mulia daripada mencela.
Imam Syafi’i pernah mengingatkan bahwa keselamatan seseorang sering terletak pada kemampuannya menjaga lisan. Dalam banyak kasus, diam bukan tanda kalah, melainkan tanda kedewasaan.
Adab yang Lahir dari Ketakwaan
Tiga prinsip ini sejatinya adalah cabang dari ketakwaan. Ia mengajarkan bahwa hubungan antarmanusia tidak hanya diukur dari seberapa banyak kita berbuat, tetapi juga dari seberapa sedikit kita melukai. Dalam konteks bermasyarakat, berorganisasi, bahkan beragama, perbedaan adalah keniscayaan. Namun, perbedaan tidak boleh melahirkan permusuhan. Kritik tidak boleh kehilangan adab. Dakwah tidak boleh mengorbankan akhlak. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk selalu unggul dalam perdebatan, tetapi unggul dalam akhlak. Karena akhlaklah yang membuat kebenaran diterima dengan lapang, bukan dipaksakan dengan luka.
Merawat Kemanusiaan, Menjaga Iman
Pada akhirnya, merawat hubungan dengan manusia adalah bagian dari merawat iman. Tidak mungkin seseorang mengaku dekat dengan Allah, tetapi ringan menyakiti sesama. Tidak mungkin lisan rajin berdzikir, tetapi mudah melukai. Tiga etika ini adalah pagar agar kita tetap manusiawi di tengah dunia yang kian keras. Ia mengingatkan bahwa menjadi baik tidak selalu berarti berbuat besar, tetapi sering kali cukup dengan tidak berbuat buruk. Jika hari ini kita belum mampu memberi manfaat, semoga kita mampu menahan diri. Jika belum bisa membahagiakan, semoga kita tidak menambah luka. Dan jika belum bisa memuji, semoga kita memilih diam yang bermartabat. Karena pada akhirnya, iman yang matang selalu melahirkan akhlak yang menenangkan, bukan menyakitkan. (*)
