Air Ujian Pejuang Kebenaran

Air Ujian Pejuang Kebenaran
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni Ponpes YTP Kertosono; penulis buku: Logical Fallacies, Kritik al-Qur’an atas Logika
www.majelistabligh.id -
  1. Air Ujian

Allah mengisahkan secara gamblang perilaku pasukan yang mau berlaga di medan perang: 1. Ada kelompok pasukan yang mencari “air kehidupan”; 2. Ada kelompok pasukan yang berjuang untuk menegakkan kebenaran, berjuang di Jalan Allah, berjuang di Jalan Tuhan. Allah menggambarkan dua sikap pasukan saat melihat “air kehidupan” yang melimpah di sungai sebagai “air ujian”, bukan “batu ujian”. Batu ujian terjadi manakala ujiannya berbentuk kekerasan, luka, kesedihan, atau kekalahan, bahkan memang betul-betul batu sungguhan yang menghantam, seperti saat Perang Uhud.

Saat berhadapan dengan air, tentu semua pasukan perlu asupan air untuk menghilangkan kehausan. Ada pasukan yang minum sepuas-puasnya, meminum sebanyak-banyaknya, melahap air dengan serakah. Tampak hedonisme kehidupan duniawi seterang-terangnya. Jika perilaku yang ditampilkan seperti ini, kataAllah, “Bukan sebagai kelompok pejuang.” Ada juga pasukan yang saat menemukan “air kehidupan”, hanya minum ala kadarnya, sekedar menyambung hidup.

Minum air bukan tujuan akhir, bukan tujuan utama, sekedar untuk hidup, tujuan utamanya adalah menegakkan kebenaran, menegakkan Jalan Tuhan. Air hanya sebagai perantara belaka untuk sekedar menyambung hidup agar hidup bisa dalam jalan yang benar dan ada di Jalan Tuhan. Pasukan jenis ini adalah disebut Allah sebagai pasukan pejuang yang hanya berjuang demi kebenaran, berjuang di Jalan Tuhan.

Implikasi dari sikap batin dua jenis pasukan ini, endingnya berbeda saat berhadapan dengan musuh, apalagi musuhnya lebih banyak, lebih lengkap persenjataan dan ketersediaan logistiknya. Yang berorientasi duniawi, kemewahan, pangkat, dan keuntungan pribadi, keluarga atau kroni, akan berkata, “Tidak mungkin mengalahkan pasukan besar dengan kekuatan terbatas seperti ini.

Sedang pasukan yang ikhlas berjuang penuh optimisme, punya keyakinan, “Banyak kelompok pasukan kecil mampu mempecudangi pasukan yang jauh lebih besar jumlahnya.” Firman Allah tersebut adalah QS. Al-Baqarah/2: 249:

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوْتُ بِالْجُنُوْدِ قَالَ اِنَّ اللّٰهَ مُبْتَلِيْكُمْ بِنَهَرٍۚ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّيْۚ وَمَنْ لَّمْ يَطْعَمْهُ فَاِنَّهٗ مِنِّيْٓ اِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً ۢبِيَدِهٖ ۚ فَشَرِبُوْا مِنْهُ اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ فَلَمَّا جَاوَزَهٗ هُوَ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗۙ قَالُوْا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوْتَ وَجُنُوْدِهٖ ۗ قَالَ الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوا اللّٰهِ ۙ كَمْ مِّنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢبِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Lalu, ketika Thalut keluar membawa bala tentara(-nya), dia berkata, “Sesungguhnya Allah akan mengujimu dengan sebuah sungai. Maka, siapa yang meminum (airnya), sungguh tidak termasuk (golongan)-ku. Siapa yang tidak meminumnya, sungguh dia termasuk (golongan)-ku kecuali menciduk seciduk dengan tangan.” Akan tetapi, mereka meminumnya kecuali sebagian kecil di antara mereka. Ketika dia (Thalut) dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka berkata, “Kami tidak kuat lagi pada hari ini melawan Jalut dan bala tentaranya.” Mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Betapa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah.” Allah bersama orang-orang yang sabar.”

“Air Sungai” adalah metafora belaka, jika “air” dijadikan simbol “sumber kehidupan” bagi makhluk hidup, termasuk manusia, di mana manusia sendiri kandungan air dalam tubuhnya mencapai sekitar 55% hingga 78% dari total berat badan, atau rata-rata 60-70% pada orang dewasa. Proporsi ini bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin: bayi memiliki kadar air tertinggi (~80%), sementara lansia lebih rendah (~50%). (AI)– maka manusia tanpa air, tidak bisa hidup.

Air sangat vital dan menjadi kebutuhan pokok bagi kelangsungan hidup manusia. Maka manusia perlu sekali kepada air agar bisa bertahan hidup. Problemnya: Apakah manusia harus meneguk sebanyak-banyaknya air sehingga “kelempoken” (Jawa), sehingga tidak mampu membawa badannya sendiri, bahkan tenggelam di air seperti Fir’aun karena terlalu banyak “minum” air? Ataukah minum sesuai kebutuhan badan sehigga tubuh manusia cukup nutrisinya?

Ada yang serakah, hidupnya hedonis, sehingga meneguk air kehidupan sebanyak-banyak, andai diminum, tidak habis tujuh keturunan. Ada yang minum secukupnya, yang penting bisa hidup, yang dibutuhkan hidup adalah ketentraman, sandang papan cukup, dekat dengan Tuhan, sudah membahagiakan; bukan kemewahan, gemericik perhiasan, kesenangan duniawi, dan fatamorgana duniawi lainnya.

Memang, manusia perlu air, jangan sampai dehidrasi, namun kalau kebanyakan minum, menjadi “kelempoken” kata orang Jawa, badan malah menjadi lemah, lemas, sulit bergerak, kurang lincah, karena perut penuh air. Minum hanya dianjurkan 2 liter dalam sehari-semalam, bila kebanyakan juga kurang baik badi badan. Minum secukupnya saja! Manusia biasa saja tidak dianjurkan terlalu banyak minum, apalagi prajurit, tentu banyak syarat dan pantangan yang harus dihindari oleh prajurit. Manakala dilanggar, maka “kekuatan”-nya akah hilang, “kesaktiannya” akan musnah. Ibarat pemuka masyarakat, manakala melakukan maksiat, maka “marwah”-nya hilang. Begitulah, bila prajurit kehilangan “senjatanya”, maka hilanglah keistimewaannnya.

Tinggalkan Balasan

Search