Air Ujian Pejuang Kebenaran

Air Ujian Pejuang Kebenaran
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni Ponpes YTP Kertosono; penulis buku: Logical Fallacies, Kritik al-Qur’an atas Logika
www.majelistabligh.id -

Berjuang tentu banyak tantangan dan cobaan, apalagi bila musuh memiliki jumlah pasukan yang lebih besar dan jumlah cadangan logistik yang sangat besar juga, tentu bisa mengecilkan nyali pejuang untuk mengalahkan pasukan lawan.

Dalam teori klasik dan moderen, jumlah pasukan tidak menentukan kemenangan peperangan. Kualitas pasukan yang menentukan kemenangan peperangan.

Dalam perang Badar, jumlah pasukan muslim, kalah jauh dibandingkan dengan kekuatan pasukan Qurasiy, bahkan al-Qur’an sendiri menyebut pasukan muslim sebagai “adzillah” (lemah, “hina”, “rendah” [menurut pandangan pembesar musyrik]), baik dari segi jumlah, logistik, dan psikis (QS. Ali Imran/3: 123). Namun berkat pemimpinnya kuat dalam membangun mental pasukan, membangun persiapan, dan taktik perang yang hebat, dari posisi lemah, berubah menjadi pasukan yang kuat, gagah, dan perkasa. Terbukti dari duel 1 (satu) lawan 1 (satu) antara prajurit muslim dan jusyrik, prajurit muslim selalu mengalahkan prajurit musyrik Quraisy. Endingnya, pasukan muslim pada perang Badar dengan jumlah yang sedikit, mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang lebih besar.

Bayangkan, dari masyarakat yang “terusir” dari negerinya sendiri, Makkah al-Mukarramah, mampu membangun pasukan istimewa sekitar 313-317 tentara, lalu mampu mengalahkan pasukan Quraish yang jumlahnya ± 1000 tentara, dengan segala kelebihan kuantitas, logistik, kendaraan tempur, dan semangat korsa yang tinggi.

Dalam menaklukkan Andalusia melalui “Jabal Thariq”, Thariq ibn Ziyad hanya membawa 10.000 (sepuluh ribu) pasukan, mampu menaklukkan wilayah Andalusia, Semenanjung Iberia.

Saat Belanda menjajah Nusantara, pasukan Belanda tak sebanyak laskar pasukan kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara, namun kualitas pasukan dan persenjataan pasukan, menjadi penentu kemenangan, termasuk kualitas untuk berbuat licik dan mengadu domba antar bumi putera.

Inilah makna dari firman Allah, bahwa jika pasukannya “shabar” (صبر), –menjadi kata “sabar” dalam bahasa Indonesia yang memiliki makan: “Tabah, taham uji, tahan banting, teguh pendirian,”– maka 1 (satu) orang prajurit akan mampu mengalahkan 10 (sepuluh) orang pasukan lawan, dan  hukum lipatannya terus begitu hingga hitungan seterusnya. Kata Allah dalam QS. Al-Anfal/8: 64-66:

يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللّٰهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ ࣖ يٰٓاَيُّهَا النَّبِيُّ حَرِّضِ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَى الْقِتَالِۗ اِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ عِشْرُوْنَ صٰبِرُوْنَ يَغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفًا مِّنَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ اَلْـٰٔنَ خَفَّفَ اللّٰهُ عَنْكُمْ وَعَلِمَ اَنَّ فِيْكُمْ ضَعْفًاۗ فَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ مِّائَةٌ صَابِرَةٌ يَّغْلِبُوْا مِائَتَيْنِۚ وَاِنْ يَّكُنْ مِّنْكُمْ اَلْفٌ يَّغْلِبُوْٓا اَلْفَيْنِ بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

Wahai Nabi (Muhammad), cukuplah Allah (menjadi pelindung) bagi engkau dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”

“Wahai Nabi (Muhammad), kobarkanlah semangat orang-orang mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh); dan jika ada seratus orang (yang sabar) di antara kamu, niscaya mereka dapat mengalahkan seribu orang kafir karena mereka (orang-orang kafir itu) adalah kaum yang tidak memahami.”

“Sekarang (saat turunnya ayat ini) Allah telah meringankan kamu karena Dia mengetahui sesungguhnya ada kelemahan padamu. Jika di antara kamu ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus (orang musuh) dan jika di antara kamu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka dapat mengalahkan dua ribu orang dengan seizin Allah. Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Syarat mampu mengalahkan pasukan musuh adalah “shabar” (ulet, tabah, tahan banting, sabar cobaan, disiplin komando, dan tak tergiur bujuk rayu “syetan”). Dalam ayat di atas, jika sabar, maka 1 orang prajurit, akan mampu mengalahkan 10 prajurit lawan. Dalam Perang Badar, 313 pasukan muslim mampu mengalahkan 1000 prajurit musuh, padahal jumlahnya 3 kali lipat.

Pada Perang Uhud, nasib pasukan muslim berbeda akhir kesudahannya dengan Perang Badar, yang dimenangkan pasukan kafir Makkah.

Namun sebelum dua pasukan ini bertemu dalam medan laga, pasukan muslim yang awalnya berjumlah ± 1000 (seribu) orang prajurit, 300 (tiga ratus) orang melakukan disersi (lari dari pasukan) dan kembali ke Madinah. Mereka adalah kelompok munafiq yang dipimpin Abdullah ibn Ubay.

Dari peristiwa ini, sejak dahulu kala, pihak pasukan yang membela kebenaran pun atau yang berjuang di Jalan Allah, biasa kalau ada yang melakukan disersi, berkhianat, atau mencari amannya sendiri.

Jika pun dalam perjuangan memperjuangkan kemerdekaan rakyat Nusantara yang dimulai dari Aceh hingga Papua (Irian Jaya), bila ada yang menjadi pengkhianat perjuangan, bahkan bergabung dengan musuh (VoC, atau Belanda), dalam sejarah perjuangan bangsa mana pun, sudah biasa, pengkhianat akan ada.

Jika zaman sekarang ada kelompok yang memperjuangkan kebenaran, lalu ada anggota kelompok yang membelot dan menjadi “bala tentara” musuh, sudah menjadi hal yang biasa, kadang-kadang dan bahkan selalu ada. Ada saja kelompok atau tokoh yang “menggunting dalam lipatan”.

Dalam pertempuran Uhud, kondisi pasukan muslim dibagi menjadi 2 fase. Fase pertama dimenangkan pihak muslim; sedang fase kedua, dimenangkan pihak kafir Makkah. Penanda antara 2 fase ini adalah posisi pasukan pemanah muslim di Bukit Uhud, yang ditetapkan Nabi saw. untuk selalu berada di atas bukit dalam situasi dan kondisi apapun. Ingat! Saat itu senajata masih sangat tradisional: Pedang, tombak, dan panah. Sehingga dalam penempatan posisi pasukan, sangat berpengaruh ke dalam posisi menang atau kalah. Dan, posisi paling setrategis pada Perang Uhud adalah penguasaan atas bukit Uhud agar mudah melontarkan senjata tradisional ke pihak musuh.

 

Tinggalkan Balasan

Search