Air Ujian Pejuang Kebenaran

Air Ujian Pejuang Kebenaran
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni Ponpes YTP Kertosono; penulis buku: Logical Fallacies, Kritik al-Qur’an atas Logika
www.majelistabligh.id -

Nabi memberi komando kepada pasukan pemanah muslim yang berjumlah 50 orang, harus berada di atas bukit Uhud untuk menghujani pasukan Qurasiy dengan panah. Karena pasukan muslim ada di atas bukit Uhud, pasukan muslim mampu menguasai medan perang, sehingga dengan mudah menghujani para musuh dengan anak panah, yang membuat pasukan kafir Quraisy lari tunggang langgang meninggalkan medan perang, harta benda yang dibawa sebagai pasokan logistik prajurit juga ditinggalkan, makanan, perhiasan, unta, kuda, dan senjata yang dibawa, ditinggalkan begitu saja.

Melihat pasukan musuh kocar-kacir, lari tunggang-langgang, dengan meninggalkan harta benda, persenjataan, dan logistik mereka, pasukan pemanah sebagian tergiur dengan rampasan perang yang ada di depan mata mereka. Turunlah sebagian besar pasukan pemanah untuk mengumpulkan dan mengambil “ghanimah” (rampasan perang) yang ditinggalkan musuh, tinggal kepala pasukan pemanah yaitu Hamzah ibn Abdul Muthalib. Sahabat Hamzah sudah memberi peringatan dan mencegah pasukan pemanah turun ke bawah untuk mengambil ghanimah, namun mereka tidak menghiraukan perintah Komandan Hamzah.

Khalid ibn Walid mengetahui pasukan pemanah turun, Khalid lalu membawa pasukannya lewat belakang bukit Uhud untuk merebut posisi pasukan pemanah muslim. Saat tiba di tempat pasukan pemanah muslim, Hamzah dan beberapa sahabat Nabi lainnya tidak mampu menahan serbuan pasukan Khalid, akhirnya pasukan muslim balik dipukul mundur oleh pasukan Khalid ibn Walid.

Karena kejadian tersebut, pasukan muslim akhirnya kalah perang. Hamzah paman Nabi, meninggal sebagai syahid, dan Nabi pun terluka, sehingga gigi serinya pecah kena lemparan batu. Gambaran jelas tentang perang Uhud mengapa pasukan muslim kalah, dijelaskan oleh Allah dalam QS. Ali Imran/3: 152-153:

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللّٰهُ وَعْدَهٗٓ اِذْ تَحُسُّوْنَهُمْ بِاِذْنِهٖ ۚ حَتّٰىٓ اِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِى الْاَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ مَآ اَرٰىكُمْ مَّا تُحِبُّوْنَ ۗ مِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَّنْ يُّرِيْدُ الْاٰخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۚ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللّٰهُ ذُوْ فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ ۞ اِذْ تُصْعِدُوْنَ وَلَا تَلْوٗنَ عَلٰٓى اَحَدٍ وَّالرَّسُوْلُ يَدْعُوْكُمْ فِيْٓ اُخْرٰىكُمْ فَاَثَابَكُمْ غَمًّا ۢبِغَمٍّ لِّكَيْلَا تَحْزَنُوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَآ اَصَابَكُمْ ۗ وَاللّٰهُ خَبِيْرٌ ۢبِمَا تَعْمَلُوْنَ

Sungguh, Allah benar-benar telah memenuhi janji-Nya kepadamu ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu (dalam keadaan) lemah, berselisih dalam urusan itu, dan mengabaikan (perintah Rasul) setelah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antara kamu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada (pula) orang yang menghendaki akhirat. Kemudian, Allah memalingkan kamu dari mereka untuk mengujimu. Sungguh, Dia benar-benar telah memaafkan kamu. Allah mempunyai karunia (yang diberikan) kepada orang-orang mukmin.”

“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada siapa pun, sedangkan Rasul (Muhammad) memanggilmu dari belakang. Oleh karena itu, Allah menimpakan kepadamu kesedihan demi kesedihan agar kamu tidak bersedih hati (lagi) terhadap apa yang luput dari kamu dan terhadap apa yang menimpamu. Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Mengapa pasukan pemanah terkecoh dengan rampasan perang? Kata Allah, “Karena mereka terpedaya rayuan “syetan”, kata Allah dalam QS. Ali Imran/3: 155:

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعٰنِۙ اِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطٰنُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوْا ۚ وَلَقَدْ عَفَا اللّٰهُ عَنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ ࣖ

“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari ketika dua pasukan bertemu,sesungguhnya mereka hanyalah digelincirkan oleh setan disebabkan sebagian kesalahan (dosa) yang telah mereka perbuat. Allah benar-benar telah memaafkan mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”

“Setan” di sini jangan diberi makna setan secara lahiriah dari bangsa Jin sebagai Iblis, namun harus dibaca sebagai sifat “kesyetanan” manusia yang terpukau oleh gemerlap duniawi bila mengenakan pakaian kemewahan, terbayang: “Betapa mulianya dengan harta kekayaan sebesar itu?” ini seperti yang dijelaskan dalam QS. Al-Nas/114: 4-6.

Jadi, pasukan pemanah terpedaya oleh gemerlap duniawi, terbayang di imajinasi mereka, jika mereka mengenakan semua kemewahan itu pasca perang, memakai perhiasan emas, pakaiwan mewah, kendaraan unta atau kuda yang bagus dan mahal, persediaan makanan yang melimpah. Mereka terkecoh hedonisme duniawi, yang berakibat kekalahan. Mengalahkan musuh tidak harus dengan senjata, dengan hadiah pun musuh bisa takluk. Karena itu, dalam kisah raja-raja dan kerajaan, pemberian hadiah emas, atau uang perak, dan perhiasan lainnya sudah menjadi kebiasaan untuk menghindari peperangan, penaklukkan, atau pembumi hangusan. Satu syarat: Bayar upeti (dalam bentuk apa pun, termasuk emas di dalamnya) sebagai tanda persahabatan.

Pada Perang Diponegoro (1825 M- 1830 M) yang dalam sejarah Belanda disebut dengan “Perang Jawa”, ada juga “pengkhianat” yang mau bekerjasama dengan Belanda dan mundur dari pasukan diponegoro, sebutlah Sentot Ali Basha. Setelah berdamai dengan Belanda dengan kompensasi diperbolehkan memiliki pasukan sendiri dengan persenjataannya, diberi gaji oleh VoC, dan dijanjikan akan diangkat jadi sultan di tanah seberang –Sumatera–, akhirnya juga Sentot Prawirodirjo dan pasukannya dikirim ke Sumatera Barat untuk berhadapan dengan saudaranya sendiri yang se-iman dan se-agama dalam Perang Paderi. Sentot dan pasukannya diadu dengan saudaranya sendiri. Mitip sekarang, dulu sama-sama berjuang melawan kepalsuan, sekarang “disuruh-suruh” melawan temannya sendiri. Naif.

 

Tinggalkan Balasan

Search