- Berjuang, bukan disersi
Jika dalam perjuangan mencari kebenaran, ada yang melakukan disersi (lari dari pasukan), maka dalam sejarah sering terjadi, tidak usah kaget dan heran, jika pun pasukan solid dan tidak ada yang disersi, syukuri dan tawadlu’, namun jangan lengah untuk selalu siaga (rabithu).
Dalam sejarah perjuangan para nabi dan pejuang profetik, kisahnya selalu melawan penyimpangan moral, penindasan, ketidakadilan, ingkar ajaran Tuhan oleh kekuasaan kelompok, kaum, atau pun negara (raja), atau pun yang merusak tatanan sosial, baik moral, ekonomi, budaya, dan ruhani.
Yang melawan kekuasaan, ada Nabi Ibrahim melawan Namrud, Musa melawan Fir’aun, Dawud melawan Jalut. Ada yang melawan feodalisme klan seperti Nabi Muhammad. Dan yang paling heroik adalah kisah perjuangan Nabi Musa menghadapi tirani Fir’aun sebagai penguasa Mesir sehingga diabadaikan dalam al-Qur’an dan Nabi yang paling banyak disebut namanya.
Kalau sekarang ada yang mengaku terinspirasi kisah heroik Nabi Musa melawan Fir’aun, karena Musa begitu heroik dalam melawam kekuasaan tiranik Fir’aun yang di dalam al-Qur’an (QS. Al-Baqarah/2: 49) disebutkan melakukan pemusnahan etnik Yahudi (genosida) dengan membunuh para lelaki dan membiarkan hidup para wanita, agar kekuasaannya tetap tegak dan langgeng.
وَاِذْ نَجَّيْنٰكُمْ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَسُوْمُوْنَكُمْ سُوْۤءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُوْنَ اَبْنَاۤءَكُمْ وَيَسْتَحْيُوْنَ نِسَاۤءَكُمْ ۗ وَفِيْ ذٰلِكُمْ بَلَاۤءٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَظِيْمٌ
“(Ingatlah) ketika Kami menyelamatkan kamu dari (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun. Mereka menimpakan siksaan yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Pada yang demikian terdapat cobaan yang sangat besar dari Tuhanmu.”
Fir’aun disebut dalam al-Qur’an perbuatannya sudah melampaui batas, melanggar aturan sosial dan agama, dengan memperbudak bangsa Israil, membunuh bayi laki-laki keturunan Israil, dan mengaku sebagai tuhan. Musa sebagai utusan Ilahi disuruh mendatangi fir’aun untuk mengingatkan kekeliruan kebijakan dan kesombongan dirinya yang mengaku sebagai tuhan, karena kekuasaanya yang mutlak dan tidak ada yang berani melawannya. Semua kekuasaan digenggamnya, baik eksekuti, yudikatif, maupun legislatif, tinggal menyuruh para pembesarnya untuk mengeksekusi, menghukum, atau membuat aturan yang memperkuat kekuasaannya. Segala kekuasaan ada di tangannya, yang lain adalah tangan kanannya.
Yang paling terkenal adalah titah Tuhan kepada Musa dalam Qs. Al-Nazi’at/79: 17-26:
اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ فَقُلْ هَلْ لَّكَ اِلٰٓى اَنْ تَزَكّٰىۙ وَاَهْدِيَكَ اِلٰى رَبِّكَ فَتَخْشٰىۚ فَاَرٰىهُ الْاٰيَةَ الْكُبْرٰىۖ فَكَذَّبَ وَعَصٰىۖ ثُمَّ اَدْبَرَ يَسْعٰىۖ فَحَشَرَ فَنَادٰىۖ فَقَالَ اَنَا۠ رَبُّكُمُ الْاَعْلٰىۖ فَاَخَذَهُ اللّٰهُ نَكَالَ الْاٰخِرَةِ وَالْاُوْلٰىۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّمَنْ يَّخْشٰى ۗ ࣖ
“17. “Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas.
- Lalu, katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk menyucikan diri (dari kesesatan)
- dan aku akan menunjukimu ke (jalan) Tuhanmu agar engkau takut (kepada-Nya)?’”
- Lalu, dia (Musa) memperlihatkan mukjizat yang besar kepadanya.
- Akan tetapi, dia (Fir‘aun) mendustakan (kerasulan) dan mendurhakai (Allah).
- Kemudian, dia berpaling seraya berusaha (menantang Musa).
- Maka, dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), lalu berseru (memanggil kaumnya).
- Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”
- Maka, Allah menghukumnya dengan azab di akhirat dan (siksaan) di dunia.
- Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Allah).”
Dalam QS. Al-Nazi’at ini, Allah menyebut Fir’aun telah berbuat “thagha” (طغى), kelewat batas, di luar batas kewajaran. Musa disuruh Allah untuk mengingatkan Fir’aun biar sadar. Siapa tau mau memperbaiki diri dan kembali ke Jalan Tuhan.
Suruhan Allah kepada Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun, biar dia sadar bahwa dirinya bukan Tuhan, namun manusia biasa yang hanya karena saat ini memegang kekuasaan sebagai raja, dia dirajakan rakyat, ditakuti, dan dihormati. Bukti bahwa Fir’aun bukan Tuhan, namun manusia biasa, adalah ketika Musa mengatakan bahwa Tuhannya Musa dan Harun adalah Tuhan bapak moyangnya Fir’aun juga. QS. Al-Syu’ara’/26: 23-26:
قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ قَالَ لِمَنْ حَوْلَهٗٓ اَلَا تَسْتَمِعُوْنَ قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ اٰبَاۤىِٕكُمُ الْاَوَّلِيْنَ
“23. Fir‘aun berkata, “Siapa Tuhan semesta alam itu?”
- Dia (Musa) menjawab, “Tuhan (pencipta dan pemelihara) langit, bumi, dan segala yang ada di antaranya jika kamu orang-orang yang yakin.”
- Dia (Fir‘aun) berkata kepada orang-orang di sekitarnya, “Tidakkah kamu mendengar (apa yang dikatakannya)?”
- Dia (Musa) berkata, “(Dia) Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
Musa ingin menyatakan, bahwa Tuhan yang sebenarnya adalah Tuhan yang mencipta langit, bumi, dan segala yang ada, termasuk Fir’aun itu sendiri. Fir’aun menganggap Musa ngigau, mengada-ada, melawan kekuasaan yang digenggamnya, karena tidak mengakui Fir’aun sebagai Tuhan, bahkan menyebut Tuhan Yang Maha Esa sebagai tuhan dengan ejekan, “Dia berkata kepada para pejabat yang ada di sekelilingnya, “Dengar apa yang dikatakan Musa”, namun dengan nada mengejek dan merendahkan.
Jika kamu Tuhan, maka bapak moyangmu yang melahirkan Fir’aun zaman Musa, juga menuhankan Tuhan Yang Maha Esa, dan bapak moyangmu adalah yang melahirkan Fir’aun yang dulu tidak tahu apa-apa, merangkak, berjalan, besar, dst., lalu sekarang mengaku Tuhan. Di mana logika warasnya. Tidak ada.
