Air Ujian Pejuang Kebenaran

Air Ujian Pejuang Kebenaran
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni Ponpes YTP Kertosono; penulis buku: Logical Fallacies, Kritik al-Qur’an atas Logika
www.majelistabligh.id -

Jadi yang dibawa Musa dan Harun saat mendatangi Fir’aun adalah misa risalah kenabian dan misi dakwah untuk mengingatkan kesalahan penguasa dan menyampaikan kebenaran. Bukan minta dibebaskan dari hukuman Fir’aun, minta ampun, dan minta maaf, apalagi minta “sedekah” kepada Fir’aun.

Musa datang ke Fir’aun juga punya misi pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Raja Fir’aun. Bukan datang untuk membebaskan dirinya sendiri agar tidak dikejar-kejar Fir’aun dan balatentara-nya, di mana Musa pernah terlibat perkelahian sehingga menewaskan lawannya dari bangsa Qibty. Musa datang bukan minta maaf dan minta ampun agar terbebas dari “tuntutan” Fir’aun. Qs. Al-A’raf/7: 104-105:

وَقَالَ مُوْسٰى يٰفِرْعَوْنُ اِنِّيْ رَسُوْلٌ مِّنْ رَّبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ حَقِيْقٌ عَلٰٓى اَنْ لَّآ اَقُوْلَ عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّۗ قَدْ جِئْتُكُمْ بِبَيِّنَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَرْسِلْ مَعِيَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ۗ

“104.  Musa berkata, “Wahai Fir‘aun, sesungguhnya aku adalah seorang utusan dari Tuhan semesta alam.

105. Wajib atasku tidak mengatakan (sesuatu) terhadap Allah, kecuali yang hak (benar). Sungguh, aku datang kepadamu dengan membawa bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka, lepaskanlah Bani Israil (pergi) bersamaku.

 

3.Menegakkan Kebenarn

Musa bukan datang untuk minta maaf, apalagi minta uang “mahar” sebagai kompensasi politik agar tidak menuntut atas ketidakadilan dan perlakuan buruk kepada Suku Israil. Misi Musa dan Harun adalah menegakkan kebenaran dan misi pembebasan kemanusian dari penindasan dan kesewenang-wenangan. Musa dan Harun tidak datang untuk minta bebas dari kejaran balatentara Fir’aun dan para pembesarnya, apalagi kompensasi uang dari Fir’aun. Bahkan Musa tetap dikejar-kejar Fir’aun dan balatentaranya hingga lari ke laut Merah dan menyeberang ke Sinai untuk selamat dari kejaran Fir’aun dan balatentaranya.

Musa tidak pernah mengendorkan perjuangannya, dan tidak pernah mengatakan Fir’aun lebih baik akhlaknya dibandingkan dengan Musa dan Harun, hanya untuk dapat pengampunan Fir’aun dan oligarkinya.

Musa dan Harun mengatakan kebenaran di hadapan Fir’aun, bukan minta “welas asih” (belas kasih) dari penguasa. Biar jelas pokok perkaranya, mana yang benar dan mana yang salah. Inilah makna penting dari sabda Nabi saw., bahwa:

أي الجهاد أفضل؟ قول الحق عند سلطان جائر

Jihad yang paling afdlal adalah menyatakan kebenaran di hadapan penguasa yang lalim.

Mengapa mengatakan kebenaran di hadapan penguasa tiran bernilai tinggi di sisi Allah dan Rasul-Nya, karena resikonya besar. Bila kebenaran diterima penguasa, maka pengaruhnya sangat besar kepada rakyat umum, namun bila sang penguasa menolak, taruhannya nyawa. Musa dan Harun tidak takut mempertaruhkan nyawanya demi membela kebenaran dan membela hak-hak rakyat kecil dan lemah.

  1. Pembebasan kemanusiaan

Musa dan Harun berdarah-darah dalam membela kebenaran dan membela rakyat Israil, bukan untuk memperoleh duit milyaran untuk membeli kendaraan mewah lalu dipamerkan ke khalayak umum, rakyat di saentero negeri.

Musa dan Harun datang ke Fir’aun bukan untuk menjilat pantat Fir’aun untuk memperoleh jabatan, kekuasan, atau pun harta kekayaan. Musa dan Fir’aun murni berjuang menegakkan kebenaran dan memperjuangkan pembebasan rakyat Israil dan penindasan Fir’aun dan kroninya.

Nabi Musa dan Nabi Harun setelah bertemu Fir’aun tidak lantas memuji-muji Fir’aun dan para pembesarnya, Musa dan Harun malah diajak “tanding” dengan para jagoan Istana dan para “taipan” untuk menguji kehebatan Musa dan Harun, bukan malah “deal-deal”-an dengan Fir’aun dan para penggedenya. Mengapa? Karena tidak ada “titik temu” untuk saling “undestanding”. Karena sama-sama tidak ada yang mengalah, maka terjadilah “adu tanding” antara kekuatan Musa dengan kekuatan Fir’aun, hingga kejar-kejaran sampai ke Laut Merah, di mana akhirnya Fir’aun tenggelam di laut tersebut.

Nabi Musa dan Nabi Harun setelah bertemu Fir’aun tidak lalu balik arah menyerang teman seperjuangan yang dulu membersamai untuk melawan Fir’aun, malah semakin solid perlawanannya pada kezhaliman Fir’aun yang akhirnya dapat dikalahkan.

  1. Terluka

Para pejuang kebenaran dan pejuang di Jalan Tuhan saat berhadapan musuh, resiko terluka karena peperangan hal biasa, karena musuh pun sama-sama menerima resiko terluka yang sama meski berjuang di Jalan Syetan, jalan kesesatan, jalan keburukan. Namun musuh memiliki keberanian karena ada “background” kehidupan, kemewahan, janji kebahagiaan, jabatan, dan lainnya.

Resiko terluka digambarkan dalam al-Qur’an dalam QS. Ali Imran/3: 140:

اِنْ يَّمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِّثْلُهٗ ۗوَتِلْكَ الْاَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِۚ وَلِيَعْلَمَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاۤءَ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ الظّٰلِمِيْنَۙ

“Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.”

 

Tinggalkan Balasan

Search