Al-Qur’an mensugesti manusia untuk beriman dengan menggunakan kata “perdagangan” yang menguntungkan. Karena tabiat manusia pada umumnya tertarik dengan sesuatu yang menggiurkan. Perdagangan yang menguntungkan merupakan kalimat yang mendorong manusia tergerak untuk bergabung. Dengan perdagangan yang menguntungkan, maka manusia akan membayangnya kehidupan yang enak dan nyaman, bebas dari kesengsaraan dan penderitaan hidup.
Namun ajakan untuk beriman tidak diterima ketika tidak mampu mendatangkan harta dan kekayaan. Hal ini sebagaimana dialami oleh Nabi Muhammad ketika berdakwah mengajak orang kafir Quraisy. Mereka melihat nabi tidak memiliki kekayaan, sehingga tidak pantas untuk diikuti ajaran agamanya.
Perdagangan Menguntungkan
Manusia pada umumnya tertarik dengan perdagangan yang menguntungkan. Oleh karena itu, Al-Qur’an memberi motivasi kepada manusia untuk beriman dengan imbalan berupa pembebasan dari penderitaan yang berkepanjangan. Penderitaan yang berkepanjangan itu berupa neraka.
Di samping beriman, mereka dimotivasi untuk berjihad dengan harta dan jiwa. Hal itu dijalani oleh para sahabat nabi. Mereka beriman dan pada saat yang sama mengeluarkan harta yang mereka cintai untuk berjihad serta fisiknya. Mereka bukan hanya beriman tetapi rela berkorban dengan harta dan jiwanya. Hal ini selaras dengan anjuran Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى تِجَارَةٍ تُنْجِيْكُمْ مِّنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ
تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَتُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ بِاَمْوَالِكُمْ وَاَنْفُسِكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَۙ
Artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu d ari azab yang pedih? (Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Ash-shaf : 10-11)
Kenikmatan yang disediakan Allah di surga hanya bisa dipahami oleh mereka yang telah masuk iman dalam hatinya, dan rela berkorban untuk agamanya. Iman mereka sangat mendalam dan keyakinan akan mendapatkan balasan sangat tinggi, sehingga mereka rela memegang teguh agama ini. Mereka pun ikhlas mengeluarkan harta dan berkorban dengan jiwa mereka.
Abu Bakar merupakan contoh teladan pengikut nabi yang mendalam imannya dan seluruh harta dikeluarkan untuk kepentingan mendapatkan surga. Abu Bakar memiliki iman yang kokoh sehingga menjalankan seluruh perintah nabi. Termasuk mengeluarkan banyak harta untuk membebaskan para budak. Perilaku beragama Abu Bakar ini juga diikuti oleh para sahabat lain yang ikhlas berkorban dengan harta dan kekuatan fisiknya.
Fitnah Dunia
Reaksi orang kafir berbeda lagi. Ketika diajak untuk beriman justru direspon dengan meminta syarat yakni berupa jaminan hidup, berupa harta dan kekayaan. Mereka menginginkan nabi seharusnya memiliki pengawal berupa malaikat, serta kebun luas sebagai sumber keberlangsungan hidupnya. Namun mereka mendapati bahwa nabi makan dan pergi ke pasar tanpa pengawalan.
Menurut mereka, nabi seharusnya ketika keluar untuk berdakwah didampingi oleh malaikat. Dengan adanya malaikat, keselamatan nabi akan terjaga. Mereka juga mengusulkan bahwa nabi harus memiliki sumber kehidupan berupa kebun. Dari kebun itu nabi bisa makan dan minum sehingga tanpa harus bekerja di pasar. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَالُوْا مَالِ هٰذَا الرَّسُوْلِ يَأْكُلُ الطَّعَامَ وَيَمْشِيْ فِى الْاَسْوَاقِۗ لَوْلَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مَلَكٌ فَيَكُوْنَ مَعَهٗ نَذِيْرًاۙ
اَوْ يُلْقٰىٓ اِلَيْهِ كَنْزٌ اَوْ تَكُوْنُ لَهٗ جَنَّةٌ يَّأْكُلُ مِنْهَاۗ وَقَالَ الظّٰلِمُوْنَ اِنْ تَتَّبِعُوْنَ اِلَّا رَجُلًا مَّسْحُوْرًا
Artinya :
Mereka berkata, “Mengapa Rasul (Nabi Muhammad) ini memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa malaikat tidak diturunkan kepadanya (agar malaikat) itu memberikan peringatan bersama dia, (mengapa tidak) diturunkan kepadanya harta kekayaan atau kebun baginya, sehingga dia dapat makan dari (hasil)-nya?” Orang-orang zalim itu berkata, “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.” (Ash-shaf : 7-8)
Ajakan berdakwah bukannya membuat mereka menerima dan ikut tetapi justru menuduh nabi sebagai tukang sihir. Buktinya, pengikut nabi kebanyakan orang-orang miskin, tanpa pekerjaan yang jelas. Para pengikut nabi dipandang terkena sihir karena ikut ajaran nabi sementara kehidupannya tetap miskin. Ketika hidup dalam keadaan tak berkecukupan, sementara menerima ajakan Islam, menunjukkan mereka terkena sihir.
Bilal bin Rabbah, Ammar bin Yasir, dan Abu Hurairah merupakan contoh pengikut nabi Muhammad yang tergolong miskin. Orang kafir menganggap bahwa pengikut nabi yang miskin taat pada ajaran nabi secara total meskipun kondisi sosial ekonominya sangat memprihatinkan. Mereka menjadi pembela nabi yang sangat setia. Bahkan mereka rela berjihad dan mengikuti perintah nabi secara utuh. Itulah yang dipandang sebagai pengaruh sihir dari Nabi Muhammad sehingga mereka membela Islam secara membabi buta.
Ajakan untuk beriman saja tidak cukup, dimana utusan Allah mengajak kaumnya untuk beriman serta mengorbankan harta dan jiwanya. Mereka mendapatkan jaminan akan terbebas dari adzab neraka dan mendapatkan tempat Istimewa di surga ketika berjihad dengan harta dan jiwa.
Hal ini berbeda dengan reaksi orang-orang kafir ketika menerima seruan dakwah. Bukannya menerima tetapi justru meminta syarat berupa kekayaan yang bersifat duniawi. dan mereka menuduh pada pengikut nabi terkena sihir. Buktinya mengikuti ajakan nabi tanpa memperoleh imbalam duniawi. Masuk dalam agama Islam, beriman dan rela berkorban dengan harta dan jiwa, oleh orang kafir dipandang sebagai cara beragama yang terpengaruh sihir. Karena dengan iming-iming terbebas dari neraka dan diberi imbalan surga, tanpa mendapatkan kekayaan, dipandang oleh orang kafir sebagai beragama yang terkena sihir.
Surabaya, 18 Nopember 2025
