Di zaman media sosial yang penuh hiruk pikuk, banyak orang mudah terpesona dengan tokoh viral, sekadar karena gaya bicara yang lantang atau kata-kata yang manis. Padahal keselamatan dalam beragama bukan ditentukan oleh popularitas, melainkan kesesuaian dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para sahabat Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam yang menjadi fondasi utama.
Di tengah derasnya arus informasi, manusia sering kali kehilangan arah dalam menimbang mana kebenaran, mana kesesatan. Media sosial menjadikan panggung bagi siapa saja untuk berbicara, bahkan yang minim ilmu pun bisa tampak berwibawa hanya dengan kepiawaian retorika.
Namun, Islam mengajarkan jalan lurus yang jelas. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah mewariskan Al-Qur’an dan Sunnah, dan para sahabat menjadi generasi pertama yang memahami risalah ini secara murni. Karena itu, para ulama besar sepanjang sejarah senantiasa merujuk pada mereka.
Imam Malik rahimahullah pernah berkata: “Sunnah adalah seperti bahtera Nabi Nuh. Siapa yang menaikinya akan selamat, dan siapa yang enggan akan tenggelam.” Perkataan ini menunjukkan bahwa keselamatan umat bergantung pada kesetiaan terhadap Sunnah. Bukan pada nama besar seseorang, bukan pada popularitas, melainkan pada keaslian ajaran yang diwariskan.
Allah Wa Ta’ala berfirman:
“Maka jika kalian berselisih dalam sesuatu, kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir.”
(QS. An-Nisa: 59)
Ayat ini menegaskan rujukan utama dalam segala persoalan agama hanyalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam. Dan untuk memahami keduanya dengan benar, kita harus menelusuri jejak para sahabat yang menyaksikan langsung kehidupan Nabi. Mereka bukan hanya mendengar ucapan, tapi juga menyaksikan teladan beliau dalam keseharian.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (para sahabat), kemudian generasi setelah mereka (tabi’in), kemudian generasi setelah mereka (tabi’ut tabi’in).”
(HR. Bukhari Muslim)
Hadis ini menjadi penegasan bahwa standar keilmuan dan pemahaman agama tidak boleh lepas dari tiga generasi utama. Mereka adalah sebaik-baik contoh dalam menjaga agama. Karenanya, meski Imam Syafi’i, Imam Ahmad, atau Imam Malik memiliki lautan ilmu, mereka tetap menundukkan diri pada pemahaman sahabat.
Imam Syafi’i rahimahullah pernah berpesan: “Jika kalian dapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam, maka ambillah Sunnah beliau dan tinggalkan perkataanku.” Ungkapan ini adalah teladan kerendahan hati seorang ulama besar. Beliau tahu, kebenaran mutlak hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya.
Begitu pula Imam Ahmad berkata: “Janganlah engkau taklid kepadaku, jangan kepada Malik, tidak pula Syafi’i, atau Ats-Tsauri. Ambillah dari mana mereka mengambil, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah.”
Inilah kerendahan hati ulama sejati. Mereka tidak mencari pengikut untuk diagungkan, tapi mengarahkan umat kembali pada sumber yang benar.
Betapa berbeda dengan fenomena hari ini. Banyak orang mengidolakan ustadz atau tokoh tertentu hanya karena viral di media sosial. Tidak jarang, perkataan tokoh itu diikuti secara buta, tanpa menimbang dalil, bahkan tanpa menyaring apakah itu sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam telah memperingatkan:
“Sesungguhnya siapa diantara kalian yang hidup sepeninggalku, ia akan melihat banyak perselisihan. Maka peganglah sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah ia dengan gigi geraham kalian.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadis ini sangat relevan dengan zaman kita. Banyak perbedaan pendapat beredar, bahkan fitnah menyebar lewat jari-jari manusia. Namun pegangan yang selamat hanyalah Sunnah Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam dan jalan para sahabat.
Karena itu, jangan mudah terpesona dengan popularitas atau kata-kata yang menyentuh hati. Kebenaran tidak diukur dari tepuk tangan manusia, tetapi dari kesesuaiannya dengan wahyu.
Allah berfirman:
“Jika engkau mengikuti kebanyakan manusia di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
(QS. Al-An’am: 116)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa jumlah pengikut bukan ukuran kebenaran. Betapa banyak yang mengikuti tren, namun jauh dari petunjuk. Sedangkan jalan keselamatan adalah kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana dipahami oleh para sahabat.
Kita perlu melatih hati untuk tawadhu’ dalam menuntut ilmu. Jangan sampai fanatisme pada tokoh tertentu membuat kita menutup telinga dari dalil yang jelas. Jangan pula menjadikan viralitas sebagai alasan untuk mengidolakan. Kebenaran bukan diukur dari panggung media, tapi dari cahaya wahyu.
Para ulama salaf senantiasa mengingatkan: siapa pun bisa salah, kecuali Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam. Karena itu, wajib bagi kita menimbang setiap ucapan dengan timbangan Al-Qur’an dan Sunnah. Jika sesuai, maka diterima. Jika tidak, maka ditinggalkan, walau yang mengucapkan adalah tokoh besar sekalipun.
Inilah jalan selamat dari fitnah zaman. Kembalikan urusan agama kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam dan sahabat-sahabatnya. Pegang erat warisan ulama yang ikhlas dan rendah hati, yang selalu mengarahkan umat kepada sumber kebenaran, bukan kepada pribadi mereka sendiri.
Akhirnya, keselamatan seorang muslim bukan terletak pada siapa gurunya, tapi pada kesetiaannya mengikuti wahyu. Siapa yang kembali pada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman sahabat, ia akan selamat dari kebingungan. Namun siapa yang hanya mengekor pada popularitas, ia akan terseret arus fitnah.
In syaa Allah, Allah menjaga kita semua agar istiqamah di atas jalan yang benar.
Aamiin yaa rabbal alamiin…
Insyaa Allah bermanfaat.
