Antara Nasab dan Akhlak: Ketika Kemuliaan Tidak Cukup Diwariskan

Antara Nasab dan Akhlak: Ketika Kemuliaan Tidak Cukup Diwariskan
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Polemik mengenai nasab keturunan Nabi Muhammad ﷺ dalam beberapa tahun terakhir telah menjadi salah satu perbincangan keagamaan yang cukup ramai di Indonesia. Perdebatan itu bergerak dari ruang-ruang pengajian ke media sosial, dari pembahasan kitab-kitab nasab hingga penelitian genetika.

Ada yang mempertanyakan validitas sejumlah silsilah, ada yang mempertahankannya, dan ada pula yang mencoba mempertemukan tradisi keilmuan nasab dengan pendekatan sejarah dan DNA. Semua itu penting untuk dibahas secara ilmiah.

Namun, di tengah riuhnya perdebatan tentang siapa yang benar-benar memiliki nasab kepada Rasulullah ﷺ, ada satu pertanyaan yang barangkali jauh lebih penting: apa sesungguhnya makna nasab bagi kualitas seorang manusia?

Nasab pada dasarnya adalah identitas genealogis. Ia menjawab pertanyaan dari mana seseorang berasal dan dari siapa ia dilahirkan. Karena itu, nasab memiliki tempat dalam Islam. Al-Qur’an sendiri mengakui keberadaan bangsa, suku dan garis keturunan sebagai bagian dari identitas manusia.

Allah berfirman dalam QS. al-Hujurat ayat 13, “Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal.” Dengan demikian, Islam tidak menghapus identitas genealogis manusia. Akan tetapi, ayat yang sama segera memberikan ukuran yang jauh lebih fundamental: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

Di sinilah letak perbedaan antara nasab dan kemuliaan. Nasab dapat diwariskan, tetapi ketakwaan tidak dapat diwariskan. Seseorang dapat lahir dari keluarga yang sangat mulia, tetapi ia tetap harus membangun kemuliaannya sendiri melalui iman, ilmu, amal dan akhlak. Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki nasab istimewa secara genealogis tidak berarti memiliki kedudukan rendah di hadapan Allah. Kemuliaan tidak ditentukan oleh siapa ayahnya, melainkan oleh bagaimana ia menjalani kehidupan di hadapan Allah dan manusia.

Karena itu, ketika seorang pemuda mengatakan, “هٰذَا أَبِي — hādzā abī, ini ayahku,” lalu menjadikan identitas leluhurnya sebagai sumber kebanggaan, sebenarnya ada pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu diajukan: “Lalu siapa dirimu?” Sebab seorang manusia tidak memilih siapa ayah dan leluhurnya. Ia menerima nasab sebagai sesuatu yang telah ada sebelum dirinya lahir. Tetapi ia memilih bagaimana menjalani hidupnya. Ia memilih apakah akan menjadi manusia jujur atau pendusta, rendah hati atau sombong, penyayang atau kasar, berilmu atau gemar berbicara tanpa ilmu.

Nasab adalah sesuatu yang diwariskan dari belakang, sedangkan akhlak adalah sesuatu yang dibangun dari dalam diri. Nasab menjelaskan masa lalu seseorang, sedangkan akhlak memperlihatkan siapa dirinya pada hari ini.

Karena itu, jika seseorang benar-benar memiliki nasab kepada Rasulullah ﷺ, sesungguhnya nasab tersebut bukanlah alasan untuk meminta manusia memuliakannya secara berlebihan. Justru nasab itu semestinya menjadi amanah moral. Semakin dekat seseorang mengaku dengan Rasulullah ﷺ secara genealogis, semakin besar pula tuntutan agar kehidupannya mencerminkan nilai-nilai yang dibawa Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ tidak datang untuk mengajarkan manusia membanggakan darah keturunannya. Beliau datang membawa tauhid, membangun keadilan, menegakkan amanah, menyempurnakan akhlak dan membebaskan manusia dari berbagai bentuk kesombongan. Bahkan salah satu pesan paling fundamental Al-Qur’an adalah bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah tidak ditentukan oleh kelompok, suku ataupun garis keturunan, tetapi oleh ketakwaannya.

Karena itu, menarik jika identitas genealogis dibaca bukan sebagai mahkota, tetapi sebagai amanah. Jika benar seseorang merupakan keturunan orang saleh, maka warisan itu seharusnya melahirkan rasa tanggung jawab untuk meneruskan kesalehan, bukan perasaan lebih tinggi daripada manusia lain. Nasab yang mulia semestinya melahirkan kerendahan hati, bukan kesombongan.

Dalam konteks inilah kita dapat memahami mengapa kualitas akhlak jauh lebih penting daripada sekadar klaim genealogis. Rasulullah ﷺ dikenal bukan hanya karena siapa ayah dan leluhur beliau, tetapi karena kejujuran, amanah, kasih sayang, keberanian, kesabaran dan keteladanan beliau. Bahkan sebelum kenabian, masyarakat Makkah telah mengenal beliau sebagai al-Amin. Kemuliaan pribadi mendahului berbagai klaim tentang kemuliaan sosial.

Maka ukuran kedekatan seseorang dengan Rasulullah ﷺ semestinya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apakah ia memiliki hubungan darah dengan beliau?” Ada pertanyaan kedua yang tidak kalah penting: “Seberapa jauh ia meneladani beliau?”

Seseorang mungkin memiliki hubungan genealogis yang jauh dengan Nabi, tetapi jika lisannya penuh kebohongan, tangannya menyakiti orang lain, hatinya dipenuhi kesombongan dan ilmunya digunakan untuk merendahkan manusia, maka nasab itu belum menjadi cermin akhlak kenabian dalam dirinya. Sebaliknya, seseorang yang tidak mempunyai hubungan darah dengan Rasulullah ﷺ tetapi mencintai beliau, mempelajari sunnahnya, meneladani akhlaknya dan berusaha menghadirkan rahmat dalam kehidupannya, telah mengambil bagian yang sangat penting dari warisan Rasulullah ﷺ: warisan risalah dan akhlak.

Karena itu, polemik nasab sebaiknya tetap diletakkan pada tempatnya. Jika ada klaim genealogis, silakan diteliti dengan ilmu nasab, kritik sejarah, dokumentasi manuskrip dan bila relevan dengan metodologi genetika. Klaim harus berhadapan dengan bukti. Tetapi setelah perdebatan tentang bukti selesai, kita jangan sampai kehilangan pertanyaan yang lebih besar: untuk apa sebuah nasab dipersoalkan dan untuk apa sebuah nasab dibanggakan?

Sebab kebenaran nasab tidak otomatis menjadikan seseorang bertakwa. Sebaliknya, tidak adanya nasab khusus juga tidak menghalangi seseorang untuk menjadi manusia mulia di hadapan Allah.

Mungkin karena itu seorang pemuda tidak perlu terlalu sibuk mengatakan, “هٰذَا أَبِي — ini ayahku.” Yang jauh lebih penting adalah mampu menunjukkan dalam kehidupannya:

هٰذَا خُلُقِي — inilah akhlakku.

Jika ia jujur, itulah kemuliaannya. Jika ia amanah, itulah kehormatannya. Jika ia rendah hati, itulah keindahannya. Jika ia mencintai ilmu dan kebenaran, itulah warisannya. Dan jika akhlaknya semakin mendekati akhlak Rasulullah ﷺ, maka ia telah menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Nabi bukan sekadar identitas, tetapi telah menjadi jalan hidup.

Pada akhirnya, manusia tidak memilih darah yang mengalir dalam tubuhnya. Tetapi manusia diberi kesempatan untuk memilih nilai yang mengalir dalam kehidupannya.

Nasab boleh menjadi identitas. Nasab boleh menjadi sejarah. Nasab bahkan boleh menjadi amanah.

Tetapi takwa dan akhlaklah yang menentukan kemuliaan manusia di hadapan Allah.

Sebab kemuliaan yang diwariskan oleh leluhur belum tentu menjadi kemuliaan diri. Kemuliaan sejati adalah ketika warisan kebaikan itu benar-benar hidup dalam perilaku anak cucunya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search