Apa Tuch Mental Load?

Apa Tuch Mental Load?
*) Oleh : Nashrul Muminin, S.Pd., C.PW., C.IJ
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Pernahkah kamu merasa otakmu penuh, padahal secara fisik kamu hanya duduk diam di kamar? Daftar tugas skripsi belum selesai, cucian menumpuk, tagihan kos harus dibayar, grup organisasi berisik minta laporan, dan orang tua menanyakan kapan wisuda. Semua itu berputar di kepala dalam satu waktu. Kondisi inilah yang disebut mental load atau beban mental.

Berbeda dengan mental fatigue yang lelah karena energi habis, atau mental breakdown yang runtuh karena meledak, mental load adalah kondisi di mana otak kita dipaksa menjadi manajer dari semua urusan yang tidak terlihat. Ia adalah pekerjaan tak kasat mata yang tidak pernah selesai, yaitu pekerjaan untuk terus-menerus mengingat, merencanakan, dan mengkhawatirkan segala sesuatu.

Istilah mental load pertama kali dipopulerkan oleh sosiolog Arlie Hochschild pada tahun 1980-an untuk menggambarkan beban kerja domestik perempuan yang tidak terlihat. Namun kini, istilah ini meluas. Tidak hanya ibu rumah tangga, mahasiswa, aktivis, dan pekerja pun mengalaminya. Siapa pun yang otaknya dipaksa membuka banyak tab tanpa pernah ada yang di-close, maka ia sedang mengalami mental load.

Secara alur, mental load terbentuk secara perlahan melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah cognitive labor, yaitu otak harus memikirkan semua hal. Tahap kedua adalah emotional labor, yaitu harus mengatur emosi agar tetap terlihat baik-baik saja di depan orang lain. Tahap ketiga adalah decision fatigue, yaitu kelelahan karena harus mengambil terlalu banyak keputusan kecil setiap hari, dari mulai mau makan apa sampai mau bimbingan jam berapa.

Inilah sebab akibat yang paling jelas. Sebabnya adalah terlalu banyak peran yang diambil dalam satu waktu tanpa sistem yang jelas. Akibatnya adalah otak menjadi overheat. Kita menjadi mudah lupa, mudah tersinggung, sulit tidur karena otak terus memutar daftar tugas, dan merasa bersalah terus-menerus karena merasa tidak ada satu pun pekerjaan yang selesai dengan sempurna.

Penyebab pertama mental load yang paling sering dialami mahasiswa pascasarjana adalah peran ganda yang tidak ada batasnya. Pagi menjadi mahasiswa, siang menjadi guru atau karyawan, sore menjadi pengurus organisasi, malam menjadi anak yang diharapkan keluarga. Semua peran itu menuntut tanggung jawab, namun tidak ada yang benar-benar memberikan ruang untuk beristirahat.

Penyebab kedua adalah budaya tidak enakan dan sulit berkata tidak. Karena ingin disenangi semua orang dan dianggap bisa diandalkan, kita mengiyakan semua permintaan. “Bisa bantu jadi moderator?”, iya. “Bisa bantu buatkan proposal?”, iya. Padahal, setiap kata “iya” untuk orang lain, seringkali berarti kata “tidak” untuk kesehatan diri sendiri.

Penyebab ketiga adalah banjir informasi dan ekspektasi dari media sosial. Kita melihat teman seangkatan sudah wisuda, sudah bekerja, sudah menikah, sementara kita masih berkutat dengan revisi. Beban perbandingan ini menambah beban mental yang tidak terlihat. Padahal Allah SWT telah mengajarkan kita untuk fokus pada kemampuan kita sendiri, bukan pada rezeki orang lain:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Contoh paling nyata adalah seorang ketua panitia workshop. Di kepalanya, ia tidak hanya memikirkan acaranya sendiri, tapi ia juga memikirkan apakah konsumsi sudah dipesan, apakah narasumber sudah dijemput, apakah peserta sudah masuk grup, apakah desain poster sudah jadi. Padahal secara fisik ia hanya duduk, tapi mentalnya bekerja seperti memiliki 10 cabang.

Contoh lainnya adalah mahasiswa yang sedang libur di rumah. Badannya di rumah, tapi pikirannya ada di kampus. Memikirkan skripsi yang belum selesai, memikirkan chat dosen yang belum dibalas, memikirkan grup kelas yang membahas sidang. Ia tidak bisa menikmati waktu istirahatnya karena mental load tidak pernah memberinya izin untuk benar-benar libur.

Lalu bagaimana cara mengurai mental load yang kusut ini? Langkah pertama dalam Islam adalah belajar bertawakal dan membagi beban. Kita bukan Tuhan yang harus mengurus semuanya sendirian. Rasulullah SAW mengajarkan pentingnya musyawarah dan membagi tugas, tidak memikul semuanya sendiri:

وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ

“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 159)

Kedua, tuliskan, jangan hanya dipikirkan. Otak kita bukan tempat penyimpanan yang baik, otak adalah tempat untuk mengolah. Maka keluarkan semua beban itu ke dalam kertas atau to-do list. Setelah ditulis, otak akan merasa lebih lega. Dan biasakan untuk berkata tidak pada hal yang bukan prioritasmu. Menjaga hak tubuhmu adalah ibadah:

إِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

“Sesungguhnya untuk badanmu ada hak atas dirimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, kembalikan semua urusan kepada Allah setelah ikhtiar maksimal. Mental load sering muncul karena kita ingin mengontrol semua hasil. Padahal tugas kita hanyalah berikhtiar, hasil adalah urusan Allah. Dengan berdzikir, hati yang penuh akan menjadi lapang:

اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Dan ingatlah janji Allah bahwa kemudahan itu selalu berdekatan dengan kesulitan, bukan setelahnya:

فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ

“Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Akhirnya, penulis ingin berpesan, mental load bukanlah tanda kamu lemah, tapi tanda kamu adalah orang yang peduli dan bertanggung jawab. Namun, peduli juga harus ada batasnya. Belajarlah untuk mendelegasikan tugas, menutup tab yang tidak penting, dan memberi waktu bagi dirimu untuk benar-benar istirahat tanpa rasa bersalah. Kamu berhak untuk lelah, kamu berhak untuk istirahat, dan kamu berhak untuk tidak memikirkan semuanya sendirian. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search