Shirothol Mustaqim adalah “jalan yang lurus” yang disebut berulang kali dalam Al-Qur’an, terutama dalam Surah Al-Fatihah ayat 6. Ia bermakna jalan hidup yang benar sesuai petunjuk Allah, yakni mengikuti wahyu-Nya dan teladan Rasul-Nya, serta menjauhi jalan orang yang dimurkai dan sesat.
Makna Shirothol Mustaqim
* Bahasa Arab: الصراط المستقيم (Ash-Shirāth al-Mustaqīm)
* Arti literal: Jalan yang lurus, jelas, dan tidak berbelok.
* Makna spiritual: Jalan hidup yang mengantarkan manusia kepada ridha Allah dan keselamatan akhirat.
Dalam Al-Qur’an
* Surah Al-Fatihah ayat 6: “Ihdina shirothol mustaqim” → Tunjukilah kami jalan yang lurus.
* Surah Al-An’am ayat 153:
وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُ ۚوَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۗذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Artinya: Sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) sehingga mencerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itu Dia perintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.
Allah menegaskan bahwa Al-Qur’an adalah jalan-Nya yang lurus, dan melarang mengikuti jalan lain yang menyesatkan.
Tafsir Ulama:
* Ibnu Katsir: Jalan lurus adalah jalan orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah (para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang saleh).
* Jalalain: Jalan lurus berarti Islam dengan seluruh syariatnya.
* Makna praktis: Menjalani hidup dengan iman, amal saleh, dan menjauhi kesesatan.
Shirothol Mustaqim di Akhirat:
* Dalam hadis, Shirothol Mustaqim juga digambarkan sebagai jembatan di atas neraka Jahannam yang harus dilalui manusia setelah hisab.
* Orang beriman akan melewatinya dengan selamat menuju surga.
* Orang kafir atau munafik akan terjatuh ke neraka.
Tentang Shirothol Mustaqim (الصراط المستقيم) sehingga terlihat bukan hanya sebagai istilah, tetapi sebagai kerangka hidup yang menyeluruh.
1. Dimensi Bahasa dan Simbolik
* Shiroth berarti jalan, lintasan, atau jalur yang jelas.
* Mustaqim berarti lurus, tegak, konsisten, tidak menyimpang.
* Secara simbolik, ia menggambarkan kompas spiritual: arah yang jelas menuju Allah tanpa belokan ke kiri (jalan orang yang dimurkai) atau ke kanan (jalan orang yang sesat).
2. Dimensi Qur’ani
* Al-Fatihah ayat 6–7: doa inti umat Islam setiap shalat, “Ihdina shirothol mustaqim” → permohonan agar Allah menuntun kita ke jalan lurus.
* Al-An’am ayat 153: Allah menegaskan bahwa jalan-Nya satu, lurus, sedangkan jalan lain bercabang dan menyesatkan.
* An-Nisa ayat 175: orang yang berpegang pada Allah akan dituntun ke jalan lurus.
Jadi, Shirothol Mustaqim adalah wahyu Allah yang menjadi pedoman hidup, bukan sekadar pilihan moral manusia.
3. Dimensi Kehidupan Dunia
* Jalan lurus di dunia berarti:
* Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
* Menjalankan syariat Islam dengan ikhlas.
* Menjauhi hawa nafsu, syirik, dan bid’ah.
* Ia adalah jalan keseimbangan: tidak ekstrem, tidak condong ke dunia semata, dan tidak meninggalkan dunia demi akhirat.
4. Dimensi Akhirat
* Dalam hadis, Shirothol Mustaqim digambarkan sebagai jembatan di atas neraka Jahannam.
* Jembatan itu sangat tipis dan tajam, lebih halus dari rambut, lebih tajam dari pedang.
* Orang beriman akan melewatinya dengan cepat sesuai kadar iman dan amalnya: ada yang secepat kilat, ada yang merangkak.
* Orang munafik dan kafir akan tergelincir ke neraka.
Jadi, jalan lurus di dunia adalah syariat; jalan lurus di akhirat adalah jembatan menuju surga.
5. Dimensi Reflektif
Shirothol Mustaqim bisa dipandang sebagai peta perjalanan hidup:
* Kompas: Al-Qur’an dan Sunnah.
* Penunjuk arah: para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang saleh.
* Rambu-rambu: larangan Allah (jalan orang yang dimurkai dan sesat).
* Tujuan akhir: ridha Allah dan surga.
Shirothol Mustaqim bukan sekadar konsep abstrak, tetapi kompas hidup:
* Menuntun manusia agar tidak tersesat oleh hawa nafsu dan jalan yang menyimpang.
* Mengajarkan bahwa keselamatan dunia dan akhirat hanya dengan mengikuti wahyu Allah dan sunnah Rasulullah.
