Hidup itu tak perlu rumit atau dibuat susah. Cukup jalani dengan sederhana, selama kita tidak bermaksiat. Prioritas utama adalah menjadi pribadi yang menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain, tanpa harus mengusik ketenangan mereka.
Hidup seperti itu sudah lebih dari cukup, karena sejatinya kebahagiaan sejati berasal dari kesederhanaan dan ketenangan hati, bukan dari kerumitan duniawi. Pesan ini selaras dengan ajaran Islam. Allah berfirman,
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا…..
Artinya:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Qs. Al- Baqarah:286)
Ayat ini mengajarkan kita untuk tidak mempersulit diri sendiri di luar batas kemampuan, karena agama pun datang untuk memberikan kemudahan. Selain itu, Rasulullah Muhammad SAW bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Artinya:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awsath No. 5949)
Hadis ini menekankan pentingnya menjadi individu yang memberikan manfaat, bukan yang menimbulkan masalah bagi orang lain. Dengan menjalani hidup yang sederhana namun penuh manfaat, kita telah memenuhi esensi dari ajaran agama, yaitu menjadi hamba yang tidak hanya baik bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi sesama.
Jadi, kehidupan yang damai dan bermakna tidak ditentukan oleh kerumitan atau ambisi yang tak berkesudahan, melainkan oleh kesederhanaan, kebermanfaatan, dan ketenangan batin. Dengan memegang prinsip ini, kita akan menemukan kebahagiaan yang sejati.
Semoga bermanfaat.
