Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering melihat kemaksiatan atau kemungkaran di sekitar kita
Tidak jarang, kita memilih diam dengan alasan “tidak mau ikut campur”. Namun, sikap seperti ini bisa berbahaya.
Diam terhadap kemungkaran bukanlah pilihan yang benar, karena akan membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan masyarakat.
Allah Ta’ala sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an tentang kaum Bani Israil yang dilaknat karena mereka membiarkan kemungkaran.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :
“Mereka tidak saling mencegah perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh, itulah seburuk-buruk apa yang selalu mereka lakukan.”
(QS. Al-Mā’idah : 79)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan lima bahaya mendiamkan kemungkaran:
1. Dianggap sama seperti pelaku maksiat, karena mengingkari kemungkaran hukumnya wajib
2. Menunjukkan sikap meremehkan kemungkaran dan perintah Allah.
3. Maksiat akan semakin meluas jika dibiarkan.
4. Jika orang berilmu diam, maksiat dapat dianggap halal, bahkan tampak seperti kebaikan.
5. Kejelekan akan terus ditiru dan berulang tanpa henti.
Mencegah kemungkaran tidak selalu berarti harus keras atau menimbulkan konflik. Kita bisa melakukannya dengan nasihat yang baik, doa, dan keteladanan.
Yang terpenting adalah jangan membiarkan kemaksiatan seolah- olah wajar. Ingat,
diamnya kita bisa membuat dosa semakin menyebar dan menjerumuskan banyak orang.
Mari saling menasihati demi menjaga kebaikan bersama.
Insyaa Allah bermanfaat.
