Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insan (MPKSDI) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wiyung Kota Surabaya mengadakan kegiatan Baitul Arqam dengan mengangkat tema BerGema dalam Ideologi, Bergerak dalam Dakwah, Maju bersama Muhammadiyah di masjid At Taqwa Perguruan Muhammadiyah Wiyung, 14-15 Maret 2026.
Baitul Arqam PCM Wiyung 1447 Hijriyah/2026 Masehi berbeda dengan tahun-tahun sebelumya. Tahun ini seluruh peserta menginap di lembaga sekolah masing-masing dan bertempat di masjid At Taqwa yang diharapkan beriktikaf di masjid.
Kegiatan ini diikuti segenap Pimpinan Cabang Muhammadiyah Wiyung kota Surabaya, segenap Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah, segenap Pimpinan Majelis dan Lembaga PCM Wiyung, segenap Pimpinan Cabang Ortom (Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Hizbul Wathan, LAZISMU PCM Wiyung.
Selain itu, ada Tapak Suci Putra Muhammadiyah, segenap Pimpinan Ranting Muhammadiyah se-cabang Wiyung, segenap Pimpinan LKSA Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, Segenap Pimpinan Pondok Pesantren KH Mas Mansyur, Seluruh guru dan karyawan Perguruan Muhammadiyah Wiyung kota Surabaya (TK ‘Aisyiyah 31, SD Muhammadiyah 15, SMP Muhammadiyah 17, SMA Muhammadiyah 9 dan segenap anggota serta simpatisan Muhammadiyah Wiyung.
Ketua PCM Wiyung H Suri Marzuki SE menyampaikan terimakasih kepada seluruh panitia yang telah berjuang mempersiapkan Baitul Arqam PCM Wiyung ini dengan baik, seluruh peserta Baitul Arqom bisa hadir sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan panitia.
“Pada tahun ini kita adakan secara berbeda, dengan kita menginap bermalam meskipun belum satu tempat. Semoga ke depannya bisa di satu tempat jika gedung 2 SDM Limas selesai, harapan kami semoga lancar dan sukses selalu semua… Aamiin ya Robbal Aalamiin,” seru Abah Suri, panggilan akrabnya.
Adapun nara sumber yang memberikan pencerahan; Dr. Moh Sulthon Amien, M.M. (Ramadhan: Momentum Naik Level Taqwa), Dr. Syamsul Ma’arif M.PSDM (Memahami Islam secara Mencerahkan)., H. M. Arief An, MH. (Belajar dari Teladan: Spirit Dakwah dan Pengabdian), H. Suri Marzuki, S.E. (Meneguhkan Arah dan Jati Muhammadiyah), dan Ferry Yudi Antonius Saputro, M.Pd.I. (Akhlak Bermuhammadiyah dalam Kehidupan sehari-hari).
Suasana khidmat menyelimuti hari kedua. Usai salat Shubuh, para peserta mendapatkan siraman rohani yang mendalam dari ustadz Dr. Syamsul Ma’arif M.PSDM, Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur yang dikenal piawai memadukan konsep spiritualitas dengan pengembangan SDM.
Dalam paparannya, ustadz Syamsul, panggilan akrabnya mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah “Madrasah” (sekolah) besar untuk menyiapkan bekal kepulangan manusia ke hadapan Sang Khalik.
Mengingat Liang Lahat: Bekal Apa yang Dibawa?
Mengawali materi, ustadz Syamsul melontarkan pertanyaan reflektif yang menggetarkan hati peserta. Beliau mengajak audiens untuk senantiasa berpikir tentang bekal kehidupan akhirat.
“Apakah kita sudah benar-benar menyiapkan semua itu? Siapapun kita, apa pun jabatan dan status sosialnya, cepat atau lambat kita semua pasti akan masuk ke liang lahat,” tegasnya.
Beliau menekankan pentingnya mengevaluasi kualitas ibadah puasa yang sedang dijalani. Apakah puasa kita sudah didasari oleh iman dan semata-mata mengharap rida Allah SWT (imanan wa ihtisaban), ataukah hanya sekadar rutinitas tanpa makna?
Ditambahkannya, kunci utama untuk menggenggam dunia dan memenangkan akhirat adalah ilmu. Beliau mengutip hadis masyhur, “Barang siapa yang menginginkan dunia, maka hendaknya ia memiliki ilmu. Barang siapa yang menginginkan akhirat, maka hendaknya ia memiliki ilmu. Dan barang siapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat), maka hendaknya ia memiliki ilmu.” (HR. Ahmad).
Tiga Fase Kesuksesan Dunia: Learn, Earn, Return. Mengadopsi perspektif motivator modern yang diselaraskan dengan nilai Islam, ustadz Syamsul membedah tiga fase hidup manusia untuk mencapai kesuksesan di dunia:
1. Learn (Belajar): Masa di mana seseorang harus haus akan ilmu. Tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu keterampilan dan wawasan global. Ramadhan adalah momen terbaik untuk belajar disiplin dan pengendalian diri.
2. Earn (Menghasilkan): Setelah memiliki ilmu, seorang Muslim harus berdaya secara ekonomi dan sosial. Dengan bekerja keras dan cerdas, kita bisa mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain.
3. Return (Memberi Kembali): Puncak kesuksesan bukan saat kita memiliki segalanya, tapi saat kita mulai “mengembalikan” keberkahan tersebut kepada umat. Ini adalah fase berbagi, berkontribusi, dan menebar manfaat seluas-luasnya.
Investasi akhirat yang tak terputus sebagai penutup, beliau menjabarkan tiga hal yang harus disiapkan setiap orang agar suksesnya berlanjut hingga ke alam barzakh dan akhirat. Hal ini sejalan dengan hadis tentang amal jariyah:
1. Menyiapkan Anak yang saleh dan salehah: Investasi terbaik adalah keturunan yang mendoakan dan meneruskan nilai-nilai kebaikan orang tuanya.
2. Senantiasa Bersedekah: Harta yang kita makan akan jadi kotoran, harta yang kita simpan jadi warisan, tapi harta yang kita sedekahkan akan menjadi kawan di alam kubur.
3. Mensyiarkan Ilmu Kebaikan: Mengikuti kajian dan menyebarluaskan ilmu yang bermanfaat agar menjadi pahala yang terus mengalir meski raga telah tiada.
“Jadikan Ramadan kali ini sebagai batu loncatan. Sukses di dunia kita raih dengan profesionalisme dan ilmu, sukses di akhirat kita kunci dengan keikhlasan dan amal jariyah,” pungkasnya.
Memahami Islam secara Mencerahkan bisa melalui pemahaman Al Qur’an surat Ali Imran ayat 31 dan An Nisa’ ayat 69, meliputi; beriman yang tangguh dan kokoh ada dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 165, berbuat kebaikan kepada sesama ada ayat Al Qasas ayat 77 , cinta kebersihan jiwa, lahir batin ada dalam Al Qur’an surat Asy Syam ayat 9-10 dan Amar makruf nahi munkar ada dalam Al Qur’an surat Luqman ayat 17, Al Baqarah ayat 152 dan Ali Imran ayat 133 dan 134. (ali shodiqin)
