Beda Profesor dan Provokator

Beda Profesor dan Provokator
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

#Antara Berpikir dan Berbicara

“Profesor berpikir dulu baru berbicara; provokator berbicara dulu baru berpikir.” Ungkapan ini bukan semata-mata perbandingan antara dua profesi atau dua gelar. Ia merupakan perbandingan antara dua budaya berpikir dan berkomunikasi.

Seorang profesor idealnya berbicara setelah melalui proses berpikir, membaca, meneliti, menguji, dan mempertimbangkan dampak dari apa yang disampaikannya. Sebaliknya, seorang provokator—dalam pengertian perilaku komunikatif—cenderung menjadikan bicara sebagai alat untuk memengaruhi emosi, sementara proses berpikir dan verifikasi sering datang belakangan.

Berpikir Mendahului Berbicara
Orang berilmu tidak sekadar dituntut untuk memiliki banyak pengetahuan, tetapi juga memiliki kemampuan menimbang kebenaran sebelum menyampaikannya. Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang, semestinya semakin tinggi pula kehati-hatiannya dalam berbicara. Al-Qur’an mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. al-Hujurāt [49]: 6).

Ayat ini meletakkan prinsip penting dalam komunikasi: informasi tidak boleh langsung dipercaya dan disebarluaskan sebelum dilakukan tabayyun. Dalam tradisi keilmuan Islam, prinsip tersebut sangat dekat dengan sikap al-‘ilm qabla al-qawl wal-‘amal—ilmu mendahului perkataan dan perbuatan. Orang yang berpikir tidak tergesa-gesa menyimpulkan. Ia bertanya: Apa faktanya? Apa sumbernya? Apakah benar? Apa konteksnya? Apa akibat dari ucapan ini?

Karena itu, ciri utama orang berilmu bukan banyaknya kata-kata yang keluar dari mulutnya, tetapi kualitas pertimbangan sebelum kata-kata itu keluar.

Provokator: Bicara Dahulu, Berpikir Kemudian
Provokasi bekerja terutama melalui emosi. Kalimat dibuat tajam, pendek, mengejutkan, bahkan terkadang kontroversial agar orang segera bereaksi. Provokator tidak selalu berarti orang yang tidak berpendidikan. Seseorang yang berpendidikan tinggi sekalipun dapat menggunakan cara komunikasi provokatif apabila ia lebih mengutamakan reaksi massa daripada kebenaran dan kemaslahatan.

Perbedaannya terletak pada orientasi. Orang berilmu bertanya: “Apakah yang saya katakan benar?” Provokator lebih mudah tergoda bertanya: “Apakah yang saya katakan akan membuat orang bereaksi?” Orang berilmu mencari kebenaran sebelum popularitas. Provokator dapat mencari popularitas melalui kontroversi.Orang berilmu berusaha mencerahkan pikiran. Provokator dapat membakar emosi. Orang berilmu membangun argumentasi. Provokator membangun reaksi.

Tidak Semua Bicara Cepat Berarti Provokasi
Perlu diberikan catatan penting: berbicara cepat bukan berarti provokator, dan berbicara lambat bukan berarti ilmuwan. Demikian pula, profesor tidak otomatis selalu benar hanya karena memiliki gelar akademik. Gelar adalah pengakuan atas capaian akademik, bukan jaminan bahwa setiap ucapan seseorang pasti benar. Sebaliknya, seseorang yang bukan profesor juga dapat memiliki kedalaman ilmu, kebijaksanaan, dan kehati-hatian yang tinggi.
Jadi, yang dibandingkan bukanlah gelar profesor dengan status provokator, melainkan budaya berpikir ilmiah dengan budaya komunikasi provokatif.

Dari “Saya Punya Pendapat” Menjadi “Mari Periksa Faktanya”
Di era media sosial, persoalan ini semakin penting. Satu kalimat dapat disebarkan dalam hitungan detik dan diterima ribuan orang sebelum kebenarannya diperiksa. Karena itu, masyarakat membutuhkan budaya: berpikir → memeriksa → menimbang → baru berbicara. Bukan: berbicara → viral → mendapat reaksi → baru mencari pembenaran.

Kita perlu membangun tradisi intelektual yang tidak mudah terjebak pada slogan, potongan video, judul sensasional, dan pernyataan yang sengaja dirancang untuk membangkitkan emosi. Rasulullah ﷺ juga mengingatkan agar seseorang berhati-hati dalam menyampaikan segala sesuatu yang didengarnya:
كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
“Cukuplah seseorang disebut sebagai pendusta apabila ia menyampaikan setiap apa yang didengarnya.” (HR. Muslim).

Hadis ini mengandung pelajaran komunikasi yang sangat relevan: tidak semua yang kita dengar harus kita ulangi, dan tidak semua yang kita ketahui harus segera kita ucapkan.

Diam Sebelum Bicara Bukan Kelemahan
Dalam kehidupan sosial, organisasi, dakwah, dan kepemimpinan, kemampuan menahan diri untuk tidak segera berbicara justru merupakan bentuk kematangan. Ada saatnya seseorang harus berkata: “Saya belum tahu.” Ada saatnya: “Saya perlu memeriksa datanya.” Ada saatnya: “Saya perlu mendengar kedua belah pihak.” Dan ada saatnya: “Saya belum pantas memberikan kesimpulan.”

Kalimat-kalimat tersebut bukan menunjukkan kelemahan intelektual. Sebaliknya, ia menunjukkan kerendahan hati epistemik—kesadaran bahwa pengetahuan manusia memiliki batas.

Ilmu Mencerahkan, Provokasi Memanaskan
Dalam kehidupan bermasyarakat, terutama dalam dakwah dan kepemimpinan, perbedaan antara mencerahkan dan memanaskan harus dijaga. Komunikasi yang mencerahkan membuat orang mampu berpikir lebih jernih, memahami persoalan lebih utuh, dan mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang.

Komunikasi yang provokatif dapat membuat persoalan menjadi hitam-putih, memperbesar prasangka, mempertajam konflik, dan mendorong orang bereaksi sebelum memahami persoalan.
Karena itu, ukuran kualitas seorang komunikator bukan sekadar berapa banyak orang yang bertepuk tangan, tetapi juga berapa banyak orang yang menjadi lebih cerdas, lebih jernih, dan lebih bijaksana setelah mendengarnya.
Penutup

Profesor dan provokator akhirnya dapat dibedakan bukan terutama dari gelarnya, tetapi dari cara menggunakan pikirannya sebelum menggunakan lisannya.Profesor yang sejati berpikir sebelum berbicara. Provokator berbicara untuk memancing reaksi.

Profesor; dalam pengertian ideal, mengutamakan kebenaran, argumentasi, bukti, dan kemaslahatan. Provokator mengutamakan reaksi, emosi, perhatian, dan efek komunikasi.

Maka, masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang paling banyak berbicara, melainkan masyarakat yang mampu berpikir sebelum berbicara, memeriksa sebelum menyebarkan, dan memahami sebelum menghakimi. Sebab: “Kata-kata yang keluar dari mulut tidak dapat ditarik kembali. Karena itu, orang yang bijak berpikir sebelum berbicara; sedangkan orang yang tergesa-gesa sering baru berpikir setelah kata-katanya menimbulkan akibat.”
Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb

 

 

Tinggalkan Balasan

Search