Ada orang yang beragama seperti memakai kacamata kuda. Pandangannya lurus ke depan, tetapi terlalu sempit untuk melihat apa yang berada di sampingnya. Ia merasa sedang menjaga kemurnian agama, padahal mungkin yang sedang dijaga adalah batas-batas pemahamannya sendiri. Baginya, kebenaran hanya memiliki satu warna, satu suara, dan satu pintu masuk. Apa pun yang datang dari luar lingkarannya segera dicurigai. Agama akhirnya tidak lagi menjadi jalan untuk menemukan kebenaran, tetapi menjadi pagar untuk mempertahankan keyakinan.
Masalahnya bukan pada keyakinan yang teguh. Keyakinan memang membutuhkan prinsip. Yang menjadi persoalan adalah ketika keyakinan berubah menjadi kesombongan intelektual: merasa paling benar hanya karena berbeda dengan orang lain.
Di titik itu, perbedaan pendapat tidak lagi dianggap sebagai bagian dari khazanah pemikiran, melainkan ancaman. Orang lain tidak cukup hanya berbeda; ia harus dianggap keliru, sesat, bahkan tidak layak didengar. Padahal, kebenaran tidak menjadi lebih benar hanya karena kita berteriak lebih keras.
Kacamata kuda juga membuat seseorang mudah terjebak pada fanatisme terhadap tokoh. Pendapat seorang ustaz, kiai, guru, atau ulama diterima tanpa pernah ditimbang kembali. Nama besar dianggap sudah cukup menjadi dalil. Akal diminta diam, sementara loyalitas diminta berbicara.
Ironisnya, agama yang berkali-kali mengajak manusia berpikir justru kadang dipraktikkan dengan mematikan kegiatan berpikir. Seolah-olah menggunakan akal adalah tanda kurang iman, padahal persoalannya justru bagaimana akal dan iman ditempatkan secara proporsional.
Beragama dengan kacamata kuda juga berbahaya karena membuat manusia hanya melihat kesalahan orang lain. Ia rajin mencari bid’ah, sesat, kafir, salah, dan menyimpang, tetapi lupa memeriksa kesombongan yang tumbuh di dalam dirinya sendiri. Jarinya begitu cepat menunjuk, tetapi jarang digunakan untuk menunjuk dada sendiri. Padahal, keberagamaan yang matang seharusnya tidak hanya bertanya, “Siapa yang salah?” tetapi juga, “Jangan-jangan cara saya memahami persoalan yang perlu diperiksa kembali?”
Karena itu, keluarlah sesekali dari kacamata kuda. Bukan untuk meninggalkan prinsip, tetapi untuk memperluas pandangan. Bacalah pendapat yang berbeda. Dengarkan argumen yang tidak kita sukai. Pelajari sejarah lahirnya sebuah pemikiran. Bedakan antara wahyu dan tafsir manusia terhadap wahyu. Bedakan pula antara prinsip agama dan kebiasaan kelompok. Dengan begitu, kita tidak mudah mengubah pendapat manusia menjadi seolah-olah suara Tuhan.
Wasathiyah bukan berarti semua pendapat harus dianggap benar. Bersikap terbuka juga bukan berarti kehilangan prinsip. Justru kedewasaan beragama terlihat ketika seseorang mampu memegang keyakinannya dengan teguh, tetapi tetap rendah hati dalam menghadapi keterbatasan pengetahuannya. Ia mampu berkata, “Saya meyakini ini benar,” tanpa tergesa-gesa mengatakan, “Karena itu, semua yang berbeda dengan saya pasti salah.”
Pada akhirnya, agama seharusnya membuat pandangan manusia semakin luas, bukan semakin sempit. Semakin berilmu, semestinya semakin sadar bahwa wilayah yang belum diketahuinya jauh lebih luas daripada yang sudah diketahuinya. Jangan sampai kita begitu sibuk menjaga agama dari orang lain, sampai lupa menjaga diri dari kesombongan. Sebab kadang-kadang yang menghalangi seseorang melihat kebenaran bukan kurangnya cahaya, melainkan kacamata yang terlalu sempit. (*)
